Home Ekbis Pasar Dargo Makin Ramai Dengan Bertambahnya Pemoles Akik

Pasar Dargo Makin Ramai Dengan Bertambahnya Pemoles Akik

433
ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

Semarang, 27/4 (BeritaJateng.net) – Jasa pemolesan batu akik atau batu mulia di Pasar Dargo Semarang semakin lama kian bertambah seiring dengan meningkatnya permintaan untuk mengolah bongkahan batu mulia.

“Saat ini, jumlah pemoles akik di lantai dua Pasar Dargo sudah mencapai 20 orang. Padahal, semula hanya dua-tiga orang,” kata Wakil Ketua Paguyuban Pedagang Kartini Semarang Gatot di Semarang, Senin.

Pasar Dargo yang dulunya merupakan sentra penjualan beras digunakan Pemerintah Kota Semarang sebagai tempat relokasi para pedagang batu mulia yang berjualan di sepanjang Jalan Kartini Semarang.

Para penjual batu mulia, baik dalam bentuk “rough” (bongkahan) maupun bentuk jadi menempati lantai satu Pasar Dargo, sementara para pemoles akik dan jasa pemotongan “rough” menempati lantai dua.

Gatot mengakui kegiatan jual-beli batu mulia di Pasar Dargo terus menggeliat, apalagi semakin banyak usaha jasa pemolesan batu mulia membuat semakin banyak orang berdatangan ke pasar tersebut.

“Kami sangat senang karena Pasar Dargo semakin ramai dan seharusnya Pemerintah Kota Semarang menangkap peluang untuk mengembangkan pasar ini sebagai sentra batu mulia di Jawa Tengah,” katanya.

Ia mengatakan Pemkot Semarang harus membuat kegiatan di Pasar Dargo semakin nyaman dengan melengkapi berbagai fasilitasnya, terutama cerobong untuk membuat sirkulasi udara yang lebih lancar.

“Kalau ada cerobong kan lebih bagus sirkulasi udara di sini (Pasar Dargo, red.). Debu-debu yang dihasilkan dari kegiatan pemotongan, pemolesan, dan penggosokan batu akik bisa dialirkan ke luar,” kata Gatot.

Senada dengan itu, Mugiyono, salah satu tukang poles akik di Pasar Dargo mengakui pentingnya keberadaan cerobong untuk memperlancar sirkulasi udara, apalagi dengan semakin banyaknya tukang poles akik.

“Debu-debu dari kegiatan gosok akik bukan hanya berdampak pada kami selaku pengrajin, namun juga pengunjung. Makanya, ya, kalau bisa dibuatkan cerobong atau apa lah biar udaranya lancar,” katanya.

Ia menjelaskan pembuatan batu mulia memerlukan proses panjang, mulai pemotongan “rough”, kemudian membentuknya sesuai dengan keinginan, seperti mau dijadikan aksesoris cincin atau liontin.

“Setelah dibentuk, batu kemudian digosok atau dipoles sampai menjadi mengkilap. Kalau sudah jadi mengkilap seperti ini, nilainya jadi tinggi,” katanya, seraya memperlihatkan batu yang sudah jadi.

Terkait ongkos, ia mengakui bergantung order yang diberikan pelanggan dan ukuran, misalnya batu untuk cincin berukuran kecil tentunya lebih murah dibandingkan dengan batu cincin berukuran besar.

“Ya, rata-rata saya menggarap 20 orderan pembuatan batu mulia per hari, ya, mulai poles saja, atau membentuk dari ‘rough’ atau bahan mentah. Sehari, ya, bisa dapat Rp150-200 ribu,” kata Mugiyono. (Bj05)