Home Lintas Jateng Pasar Banjardowo dan Tanah Mas Jadi Alternatif Relokasi PKL Liar Kota Lama

Pasar Banjardowo dan Tanah Mas Jadi Alternatif Relokasi PKL Liar Kota Lama

742
Audiensi antara Kepala Dinas Pasar Kota Semarang dengan pedagang PKL liar Kota Lama yang kena gusur.

Semarang, 15/9 (BeritaJateng.net) – Setelah menggelar demo, puluhan pedagang PKL liar yang berjualan di Sendowo dan Kepodang diterima langsung oleh Kepala Dinas Pasar Kota Semarang Trijoto Sardjoko di Balaikota, Kamis (15/9). Dinas Pasar memberi dua alternatif lokasi yang akan digunakan sebagai relokasi PKL Kota Lama.

“Selama ini pedagang menempati ruang publik di kota lama yang merupakan kawasan larangan berdagang. Nah… kalau sekarang ditertibkan seharusnya pedagang bisa legowo karena tujuannya untuk keindahan, estetika dan agar tidah terkesan kumuh,” ujar Trijoto.

Menurutnya, upaya Pemerintah Kota Semarang menghidupkan kembali kota lama sebagai world heritage list Unesco juga harus didukung masyarakat termasuk pedagang PKL.

Setelah melalui perdebatan yang cukup alot, akhirnya disepakati untuk mencarikan solusi tempat bagi pedagang PKL Kota Lama yang kena gusur. “Ada dua alternatif tempat, yakni di Pasar Banjardowo dan Pasar Tamah mas. Mudah mudahan dua tempat ini cocok,” katanya.

Ia menjelaskan jika Dinas Pasar memberi kemudahan bagi pedagang, bahkan Komunitas Jago sudah setuju pindah di dua lokasi tersebut. “Sumonggo mau pilih lokasi yang mana, saya rekomendasikan dua pasar itu. Kalau ada yang kembali berjualan di kota lama pasti akan ditindak petugas. Ya… sementara kalau pakai gledekan atau gerobak bolehlah asal tetap dijaga kebersihan,” tuturnya. (Bj05)

1 COMMENT

  1. Untuk nasib warga yang tergusur trus siapa yg bertanggung jawab atas kelangsungan hidup mereka? selama pengusuran? padahal mereka sudah puluhan tahun mengantungkan mengais rejeki di lapak lapak itu? mereka jga bayar retribusi pagi dan sore?mereka jiga ikut memilih wakil mereka dalam pemilu, mereka jga butuh makan, butuh biaya sekolah dan anak anak mereka? trus mereka tak punya keahlian lain selain itu? misalkan mereka di pindah mereka jga butuh biaya utk penataan kembali darimana biaya itu,dan belum tentu mereka dapat uang di lahan yang baru? coba kita renungkan bagaimana klo itu terjadi sama diri kita sebagai manusia yang memanusiakan manusia?

Comments are closed.