Home Lintas Jateng Pangdam IV: Potensi Konflik Bisa Bersumber dari Persaingan Penduduk dan SDA

Pangdam IV: Potensi Konflik Bisa Bersumber dari Persaingan Penduduk dan SDA

Pangdam IV: Potensi Konflik Bisa Bersumber dari Persaingan Penduduk dan SDA
            SEMARANG, 18/5 (BeritaJateng.net) – Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Tatang Sulaiman menegaskan bahwa potensi konflik yang menjadi ancaman negara Indonesia bisa muncul dari gesekan dengan negara tetangga atau negara yang tergabung dalam  negara persemakmuran, seperti Malaysia, Singapura, Kawasan Laut Tiongkok dan Inggris.
              Hal tersebut disampaikan Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Tatang Sulaiman saat menjadi narasumber dalam acara Sarasehan Penataan dan Pembinaan Tenaga Ahli/ Profesi untuk sumber daya manusia komponen pendukung pertahanan negara di Provinsi Jawa Tengah 2017) dari Direktur Jenderal Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan Negara Republik Indonesia di Makodam IV/Diponegoro, Rabu (17/5).
              Ditegaskan Pangdam, dalam menyampaikan materi tentang wawasan kebangsaan di era globalisasi bahwa semua ancaman yang membahayakan bangsa dari sisi militer dan non militer harus diwaspadai. Diharapkan, semua warga negara sesuai dengan profesinya masing-masing seperti Persatuan insinyur, perawat, ahli gizi, ahli konstruksi, dokter dan bidan serta apoteker bersama-sama berpartisipasi dalam bela negara.
                “Sehingga kita harus paham, ancaman negara kita seperti apa. Posisi negara kita dilihat dari sisi TNI, untuk memperoleh dukungan dari warga sehingga berperan serta sesuai dengan profesinya masing-masing. Perspektif Ancaman dari sisi militer, untuk itu harus ada kerelaan bela negara,” tegasnya.
              Selain itu, lanjut Pangdam, ancaman yang bisa memunculkan konflik adalah sumber daya manusia atau jumlah penduduk dan  sumber daya alam termasuk energi fosil. Dimana hal ini bisa dipantau dari perkembangan situasi di wilayah tenggara Indonesia, yaitu Pulau Masela tidak jauh dari Darwin Australia. Di situ ada potensi konflik, seperti saat kasus Timor timur mau lepas dari Indonesia, negara yang tidak bergeming adalah Australia.
              “Karena ada kepentingan yaitu menginginkan sumber cadangan minyak yang ada di sana (Timor-Timor), kan jangan sampai kejadian yang kedua, terjadi lagi merembet ke pulau lainnya di Indonesia. Begitu pula yang terjadi konflik laut China Selatan di Pulau Natuna, dimana nelayan yang mencari ikan yang dikawal oleh coast guard China karena mereka beranggapan berada di wilayahnya,” terang Pangdam.
                Tak hanya itu, diharapkan juga Pangdam untuk bijak dalam penggunaan medsos, sehingga tidak dijajah oleh teknologi yang belum tentu kebenarannya. Dan berikutnya radikalisme dan terorisme yang juga harus disikapi yang mengancam keutuhan NKRI.
                “Bagaimana pun semua elemen masyarakat terkait ancaman dari sisi militer dan non militer. Sedangkan untuk wilayah Jateng, terkait potensi ancaman ada seperti penyalahgunaan narkoba, radikalisme, persaingan ekonomi. Untuk itu perlu sinergitas keterpaduan semua komponen baik utama maupun komponen cadangan dan pendukung supaya negeri ini siap tetap tegak kokoh untuk hadapi ancaman,” kata mantan Kapuspen TNI.
                  Sementara itu, materi dari Kepala BNNP Provinsi Jawa Tengah Brigadir Jenderal Pol Tri Agus Heru Prasetyo  mengatakan, negara kita darurat narkoba. Adapun tema ancaman kejahatan narkoba di Indonesia.
Indonesia darurat narkoba juga disampaikan dalam pertemuan rapat terbatas dewan pertimbangan presiden dengan BNN. “Diperkirakan 40-50 orang perhari meninggal dunia karena narkoba. Bahkan data terkini sebanyak 50-57 orang meninggal setiap hari,” ujarnya.
                 Ditambahkan, Brigjen Polisi Tri Agus Heru Prasetyo, bahkan penyalahgunaan narkoba sebanyak sekitar 5 juta orang. Di Jateng sekitar 500 ribu orang ygang saat ini sebagai pecandu dan pemakai narkoba.
                “Untuk itu kami terus melakukan langkah pencegahan, bersama seperti memberikan pemahaman yang utuh tentang narkotika di lingkungan masyarakat. karena pengedar makin nekad seperti di Jepara, Demak peredaran sabu sabu dibawa masuk ke Indonesia melalui alat filter air, dan juga dimasukkan ke mesin pompa air, ada ditelan dan masih banyak lagi modus operandi lainnya,” terangnya.
                 Pihaknya harus terus mewaspadai karena dapat merusak generasi muda yaitu kerusakan pada saraf pusat otak. Apalagi jenis narkotika sekarang ada sebanyak 48 jenis narkoba baru. “Untuk itu bahkan ada bandar narkoba di Solo yang terpaksa ditembak karena melawan petugas saat akan ditangkap,” pungkasnya. (EL)