Home Headline PAD BUMD kecil, Dewan Pertanyakan Kinerja Biro Perekonomian

PAD BUMD kecil, Dewan Pertanyakan Kinerja Biro Perekonomian

1338
0

SEMARANG, 28/7 (beritajateng.net) – Kinerja BUMD di lingkungan Pemprov Jateng saat ini dipandang belum maksimal. Hal ini didasarkan pada masih sedikitnya deviden yang disetor oleh BUMD BUMD tersebut ke kas daerah.

Deviden yang disetor ke kas daerah pada tahun 2017 dari seluruh BUMD di Jateng kurang dari setengah triliun rupiah. Dibandingkan dengan Provinsi Jawa Timur, PAD dari bumdnya mencapai Rp. 3 triliun lebih.

Ketua DPRD Jateng Rukma Setyabudi minta agar Biro Perekonomian selaku lembaga yang mengatur kinerja BUMD dapat mengoptimalkan potensi dan kinerja BUMD yang ada.

“Pendapatan BUMD Jateng yang disetor ke kas daerah dibanding yang ada di provinsi lain sangat jauh tertinggal. Setengah triliun aja kita belum ada,” ungkapnya saat dihubungi lewat telpon, Sabtu (27/7).

Rukma menjelaskan, peran Biro Perekonomian dalam memaksimalkan potensi dan kinerja BUMD sangat besar. Dari kunjungan kerja yang dilakukan Komisi C ke Jawa Timur beberapa hari yang lalu, diperoleh data bahwa Biro Perekonomian Pemprov Jatim mampu memaksimalkan kinerja BUMD yang ada sehingga mampu menghasilkan deviden delapan kali lipat yang diperoleh Jateng.

“Kemarin beberapa BUMD sudah ikut melihat secara langsung ke Jatim, saya minta Biro Perekonomian bisa belajar atas keberhasilan Pemprov Jatim ini,” katanya.

Senada dengan Rukma, Ketua Komisi C DPRD jateng Asfirla Harisanto mangatakan, kemandirian BUMD di Jatim sangat kuat. Mereka bekerja kreatif, innovatif dan tidak menggantungkan diri pada pemerintah provinsi.

“sudah beberapa tahun mereka tidak minta penyertaan modal, bahkan deviden yang diberikan sangat tinggi mencapai Rp. 3 triliun lebih . Bandingkan dengan di Jateng yang setengah triliun saja gak ada. Ini memprihatinkan,” katanya.

Di Jateng, jelas Bogi sapaan Asfirla, modal yang diberikan kepada BUMD sudah sangat besar. Namun hasilnya tidak maksimal.

“Biro Perekonomian yang memiliki tugas sebagai pengendali dan pembina bagi BUMD terkesan membiarkan capaian yang diperoleh tanpa mau melihat perkembangan di daerah lain,” bebernya.

Pada kesempatan tersebut, Bogi membandingkan dua holding company yang dimiliki Jatim dan Jateng. Di Jatim PT Wira Jatim Grup sebagai holding company sukses membangun bisnis dengan mengelola 10 perusda, sementara itu di Jateng ada PT SPJT yang juga sebagai holding company namun sampai saat ini belum ada bisnis yang feasible dan mampu menjadi penopang PAD secara signifikan.

“Sampai saat ini SPJT masih mengandalkan bunga bank untuk setoran PADnya padahal modal yang disetorkan sudah sangat besar,” pungkasnya.

(NK)