Home Headline Oknum Guru Honorer SLBN Blora Diduga Hamili Muridnya

Oknum Guru Honorer SLBN Blora Diduga Hamili Muridnya

334

BLORA, 8/7 (BeritaJateng.net) – Seorang oknum guru honorer Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) di Kabupaten Blora, Jawa Tengah diduga telah menggauli muridnya sendiri yang menderita tuna grahita.

Akibat perbuatannya itu, korban P (20), saat ini telah hamil 7 bulan dan telah keluar dari SLBN Jepon, Kecamatan Jepon.

“Untuk oknum guru tersebut, awal Juli ini sudah menyatakan pengunduran dirinya,” ucap Sutoto saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (8/7/2020)

Diketahui oknum guru tersebut berinisial Y (35), guru olahraga SLBN yang kesehariannya mengajar ektrakurikuler olahraga.

Sutoto menjelaskan, informasi yang ia dapat, antara korban dan pelaku sudah sama suka. Bahkan keduanya juga sudah melakukan nikah siri.

“Siswinya sudah dewasa dan sudah dinikahi. Kata orang tua anak yang mantan SLB tersebut sudah sama suka,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala dinas sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak (Dinsos P3A) Kabupaten Blora, Indah Purwaningsih mengaku sudah menerima laporan itu. Pihaknya juga telah menurunkan tim untuk mendatangi pihak sekolah dan orang tua korban.

“Iya mas, Dinsos P3A melalui tim UPPKSAI sudah melakukan klarifikasi ke sekolah dan keluarga korban di rumah. Nanti kita akan bantu mediasi dengan keluarga pelaku. Besok tim akan datangi juga rumah pelaku,” jelas Indah.

Lebih lanjut, Indah menyampaikan, hasil klarifikasi tim dengan orang tua korban, memang ingin memilih jalur damai dengan meminta tanggung jawab pelaku. Namun, status pelaku yang sudah beristri menjadi permasalahan sendiri.

“Memang keluarga si korban ini ingin damai, hanya ingin pelaku tanggung jawab menikahi anaknya. Tapi kan pelaku ini juga sudah punya istri. Jadi saya belum bisa sampaikan nanti seperti apa hasil mediasinya
karena besok tim baru ke rumah pelaku,” kata Indah.

Dinas sosial menurut Indah akan mengawal kasus ini dan memperjuangkan hak-hak korban. Dirinya akan mendorong pelaku untuk bertanggung jawa dengan menikahi korban secara resmi.

“Jangan ampai perempuan apalagi penyandang disabilitas diperlakukan, dianggap lemah dan diperlakukan tidak adil. Dinsos berkomitmen untukmemperjuangkan hak-hak perempuan dan anak. Sebelum bayi dlm kandungan lahir, korban harus dinikah secara sah baik menurut agama maupun negara, jangan sampai anak yg dilahirkan berstatus anak ibu,” paparnya

Terpisah, Kasatreskrim Polres Blora, AKP Setyanto melalui Kanit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Aiptu Indra mengaku belum menerima laporan pengaduan.

“Belum ada laporan mas. Kita tunggu saja nanti prosesnya seperti apa,” kata Indra. (Her/El)