Home News Update Nusakambangan Siap Kembali Dijadikan Tempat Eksekusi Mati

Nusakambangan Siap Kembali Dijadikan Tempat Eksekusi Mati

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

Cilacap, 27/1 (BeritaJateng.net) – Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, siap kembali dijadikan sebagai tempat pelaksanaan eksekusi terpidana mati, kata Kepala Divisi Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Provinsi Jawa Tengah Yuspahruddin.

“Kami siap terima, tidak ada masalah,” kata Yuspahruddin saat dihubungi dari Cilacap, Selasa.

Menurut dia, pihaknya harus mendukung pelaksanaan eksekusi bagi terpidana mati jika akan kembali dilaksanakan di Nusakambangan karena pemerintah yang memrogramkan hal itu.

Ia mengatakan bahwa pihaknya tidak mungkin menolak pelaksanaan eksekusi terpidana mati tersebut.

“Kita akan dukung semuanya, sekuat tenaga,” katanya.

Terkait lokasi pelaksanaan eksekusi mati di Nusakambangan, dia mengatakan bahwa hal itu tergantung kenyamanan eksekutor, yakni jaksa yang bekerja sama dengan Brigade Mobil (Brimob).

Dalam hal ini, di Nusakambangan terdapat dua lokasi eksekusi mati, yakni kawasan Nirbaya dan lapangan tembak Limusbuntu.

Lebih lanjut, Yuspahruddin mengatakan bahwa pihaknya tidak menyiapkan lokasi untuk pelaksanaan eksekusi mati itu meskipun Nusakambangan merupakan wilayah Kemenkumham.

“Silakan dimana mereka (eksekutor, red.) nyaman, silakan cari sendiri karena mengekesekusi bukan tugas kami. Kami hanya menyiapkan napinya, silakan ambil,” katanya.

Disinggung mengenai kemungkinan eksekusi dua terpidana mati kasus narkotika “Bali Nine” akan dilaksanakan di Nusakambangan, dia mengatakan bahwa pihaknya belum menerima informasi mengenai hal itu.

“Sampai sekarang belum ada pemberitahuan. Mestinya hal itu atas persetujuan Dirjen Pemasyarakatan. Saya belum terima suratnya, permintaan juga belum ada,” katanya.

Seperti diwartakan, Gubernur Bali Made Mangku Pastika mengimbau pada Kejaksaan Agung supaya pelaksanaan eksekusi terhadap dua terpidana mati berkewarganegaraan Australia, Andrew Chan dan Myuran Sukumaran, dilakukan di luar Pulau Dewata.

“Masalah tempatnya kami mengimbau jangan di Bali. Mengimbau, karena saya tidak bisa menentukan, tidak juga bisa menolak karena ini NKRI,” kata Pastika.

Ia berpandangan jika eksekusi terhadap dua terpidana mati anggota “Bali Nine” dilakukan di Bali, maka akan memberi efek psikologis bagi warga negara Australia.

“Di sini orang Australia banyak sekali. Turis kita itu banyak banget orang Australia dan menganggap Bali sebagai rumah sendiri,” ucap Pastika.

Mantan Kapolda Bali itupun mengaku sudah dari dulu mengingatkan supaya kalau memang sayang dengan Pulau Dewata jangan membawa narkoba itu masuk ke Bali.

Di sisi lain, terkait dengan pengaruh rencana eksekusi mati kedua penyelundup narkotika jenis heroin seberat 8,2 kilogram itu terhadap kedatangan wisatawan Australia ke Bali, Pastika mengaku belum mengetahui. “Saya yakin mereka paham terhadap apa yang ada di Bali,” ujar Pastika.

Sebelumnya, sebanyak lima terpidana mati kasus narkoba telah dieksekusi di Pulau Nusakambangan pada tanggal 18 Januari 2015.

Lima terpidana mati yang telah dieksekusi itu, yakni Ang Kim Soei (62) warga negara Belanda, Namaona Denis (48) warga negara Malawi, Marco Archer Cardoso Mareira (53) warga negara Brasil, Daniel Enemua (38) warga negara Nigeria, dan Rani Andriani atau Melisa Aprilia (38) warga negara Indonesia. (ant/BJ)