Home News Update Nur Farkhati Himatul Izza, Pembantu Rumah Tangga yang Raih Gelar Sarjana

Nur Farkhati Himatul Izza, Pembantu Rumah Tangga yang Raih Gelar Sarjana

82
0

**Sempat Kerja di Warung, hingga Jadi Pengasuh Anak

           Semarang, 21/4 (BeritaJateng.net) – Perjuangan Nur Farkhati Himatul Izza meraih gelar sarjana sangat menginspirasi. Sebab, dia rela bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) untuk membiayai kuliahnya di Fakultas Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang. Seperti apa?
         Ya.. Nur Farkhati Himatul Izza gadis yang kuliah sambil bekerja sebagai pembantu rumah tangga ini akhirnya meraih gelar sarjana, Kamis (20/4) kemarin. Ia diwisuda bersama ratusan wisudawan lainnya di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT).
         Izza mengaku tidak menyangka akhirnya bisa menyandang gelar sarjana. Ia menceritakan, dirinya datang ke Kota Semarang hanya modal nekat.
         Putri pertama dari tiga bersaudara pasangan Dahuri dan Suharti, warga Dukuh Bandar RT 2 RW 9 Kelurahan Pakijangan, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes ini mengaku, begitu lulus MAN 1 Brebes pada 2012 silam, ia tidak bisa melanjutkan kuliah karena orang tuanya tidak mampu. Kedua orang tuanya hanyalah petani bawang merah yang berpenghasilan pas-pasan. Hasil bertani hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari.
          Meski begitu, dara kelahiran Brebes, 28 Maret 1994 ini tak mudah menyerah dengan keadaan. Semangatnya untuk tetap belajar membuatnya nekat merantau ke Kota Semarang. Dalam kondisi belum memiliki pengalaman apa-apa, Izza mencari kerja di tengah ketatnya persaingan Kota Atlas. Padahal ia sendiri belum paham seluk-beluk Ibu Kota Provinsi Jateng ini.
           ”Waktu itu, berangkat dari desa harapannya bisa mendapat pekerjaan,” ujar Izza.
            Hanya berbekal nekat dan keyakinan, Izza bertemu dengan salah seorang pemilik rumah makan di Kota Semarang. Kemudian ia diterima kerja di sana. ”Saat kerja di rumah makan itu, saya belum kuliah. Uang hasil bekerja, saya tabung,” katanya.
           Kurang lebih satu tahun bekerja, ternyata rumah makan tersebut harus tutup karena suatu sebab. Beruntung, pemilik rumah makan itu tahu bila Izza merupakan seorang yang tekun dan memiliki semangat belajar tinggi.
           ”Saya lalu diajak bekerja di rumah Bu Martini (Sri Martini, Kepala Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Semarang, Red). Saya bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Tugas saya mengasuh cucu Bu Martini,” ujarnya.
          Nah, saat bekerja menjadi PRT di rumah Sri Martini itu, ia menyampaikan keinginannya kepada sang majikan untuk melanjutkan kuliah. Rupanya Sri Martini meresponsnya dengan baik. Ia tak melarang rewang-nya itu bekerja sambil kuliah. Apalagi Izza dikenal sebagai gadis yang tekun dan pintar. ”Saya diizinkan kuliah sama Bu Martini. Biayanya dari hasil saya kerja dan dibantu sama Bu Martini,” kenangnya.
           Saat itu, Izza diterima sebagai mahasiswi Fakultas Ilmu Politik Universitas Wahid Hasyim Semarang. Sejak saat itu, ia harus membagi waktu bekerja dan kuliah. ”Bu Martini mendukung, saya kuliah berangkat pagi, sore bekerja di rumah. Malamnya bisa sambil belajar,” katanya.
           Bekerja apa pun selama halal, Izza tidak akan malu. Hal yang Izza yakini sampai kapan pun bahwa persoalan sesulit apa pun jika dihadapi sungguh-sungguh dan hati ikhlas, Tuhan akan memberikan jalan.
            ”Sama sekali saya tidak malu. Kenapa mesti malu, selama itu halal. Namanya rezeki sudah ada yang mengatur. Setiap kesulitan pasti ada jalan keluar, ada yang bantu,” ujar perempuan yang memiliki hobi membaca novel sastra ini.
             Izza mengaku tak mau berhenti belajar. Ia hanya ingin dan bercita-cita menjadi orang yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Setidaknya bermanfaat bagi kedua orang tua dan bisa membantu adik-adiknya agar jangan sampai putus sekolah.
             Hal itu dibuktikan Izza, hingga ia berhasil diwisuda setelah menuntaskan penelitian karya ilmiahnya yang bertema politik pemekaran wilayah.
             ”Buat generasi muda, jangan pernah malu untuk bekerja apa saja, yang penting halal, semangat untuk mewujudkan cita-cita,” kata dia yang enggan menyebut cita-citanya.
              Ketulusan Izza, membuat kedua mata ayahnya, Dahuri, berkaca-kaca. Ia tak mampu menyembunyikan rasa haru. ”Saya bangga punya Izza. Senang sekali, semangatnya mencari ilmu tetap ada, walaupun saya sebagai orang tuanya tidak mampu menguliahkan anak saya. Sebagai petani bawang merah di kampung hanya cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ucapnya sambil meneteskan air mata.
                Dikatakan, di kampungnya, warga bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga tamat SMA itu sudah terbilang bagus. ’Izza bisa kuliah sambil bekerja, Alhamdulillah semua lancar,” katanya.
               Sri Martini mengakui, Izza pergi ke Semarang mencari pekerjaan dan ingin belajar. ”Ketika bertemu, saya sangat senang melihat orang yang ingin belajar. Sehingga keluarga kami sangat mendukung. Izza ini saya anggap menjadi bagian keluarga sendiri. Dia menjadi bagian dari keluarga saya yang kebetulan bertugas momong cucu saya,” ujarnya.
               Karena semangat menuntut ilmu sangat kuat, Martini mendukung dan mendorong agar Izza bisa menyelesaikan studinya. ”Kalau soal pembagian waktu, bisa diatur. Memang Izza tidak sendiri, karena ada teman lainnya. Selama mengasuh cucu saya, dia atur tanggung jawab dan diselesaikan dengan baik,” katanya. (El)