Home News Update Nostalgia, Ita Belanja Bersama Kedua Orangtuanya di Pasar Tradisional

Nostalgia, Ita Belanja Bersama Kedua Orangtuanya di Pasar Tradisional

Calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu atau yang akrab disapa Ita ditemani ibunda tercinta Hj. Atik Sutarti berbelanja di pasar Bugangan.
Calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu atau yang akrab disapa Ita ditemani ibunda tercinta Hj. Atik Sutarti berbelanja di pasar Bugangan.

Semarang, 17/9 (BeritaJateng.net) – Seakan bernostalgia merasakan kembali aktivitas semasa kecil, calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu atau yang akrab disapa Ita menghabiskan pagi hari berbelanja bersama kedua orang tuanya di pasar Bugangan.

“Saya memang besar di Bugangan, sehingga ketika berbelanja di pasar ini banyak pedagang yang masih kenal dengan saya. Dari dulu kecil sampai sekarang ya tetap begini terus (pasar Bugangan,Red) suasananya mengingatkan memory semasa kecil,” ujar calon wakil wali kota Senarang nomor urut dua ini.

Semasa kecil, Ita tinggal di perkampungan Bugangan tepatnya di Jalan Citanduwi Selatan No. 22 Semarang. Pasca lulus dari SMA Negeri 1 Semarang, Ita kemudian melanjutkan study di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.

Sempat bekerja di bagian financial insitution atau pengelolaan costumer besar di bank selama 17 tahun, Ita lantas memilih berkarir di BUMD Provinsi Jateng, dan pada akhirnya menjabat sebagai Direktur Utama PT Sarana Patra Hulu Cepu, sebuah Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi Jateng selama dua periode.

P_20150908_085609

Tak khayal, kesibukannya dalam meniti karir selama ini membuat Ita sangat menikmati moment sederhana seperti berbelanja di pasar Bugangan dan pasar Langgar bersama kedua orang tuanya.

Yang paling diingat, lanjut Ita, adalah tata letak pedagang pasar Bugangan yang masih terjaga sejak puluhan tahun lalu. “Jadi dulu sering beli disini, sehingga wajah saya dan kedua orang tua saya sudah familiar di pasar ini,” imbuhnya.

Menurutnya, kondisi pasar memang perlu ditata kembali, tetapi tidak meninggalkan unsur tradisional.

“Yang perlu ditata itu arus lalu lintasnya, jadi motor tidak diperkenankan masuk jalur pasar, juga penataan pedagang kreatif lapangan (PKL) biar rapi dan bersih sehingga kenyamanan bisa dirasakan pembeli dan pedagang,” kata istri politisi PDI Perjuangan, Alwin Basri ini.

Ditemani Ibunda dan Ayah tercinta Hj. Atik Sutarti dan H. Sunaryo Raharjo, Ita membeli keperluan sehari-hari.

“Disela sosialisasi, saya adalah seorang istri sekaligus ibu rumah tangga, jadi kewajiban harus dilakukan seperti salah satunya menyiapkan makanan untuk suami dan anak, apalagi ditemani ayah dan bunda tercinta,” tutur perempuan kelahiran Semarang, 4 Mei 1966 itu. (Bj05)