Home Lintas Jateng Normalisasi Sungai, Bangunan Liar Jadi Kendala

Normalisasi Sungai, Bangunan Liar Jadi Kendala

Normalisasi-1

KENDAL, 6/9 (BeritaJateng.net) – Pengerukan sedimentasi Sungai Kendal yang dilakukan Dinas Bina marga dan Energi Sumberdaya Air Mineral Provinsi Jateng, nampaknya terkendala banyaknya bangunan liar yang masih tinggal di sejumlah bantaran sungai serta jembatan yang ada di bibir sungai.

Sebenarnya, Normalisasi sungai Kendal dengan mengangkat sedimentasi sungai tersebut sudah cukup lama sejak tanggal 21 Agustus dan ditargetkan bulan Oktober mendatang harus sudah selesai.

Sungai yang membelah Kendal dan memiliki panjang 6,5 Km dari Bendungan Trompo hingga Bandengan serong kali meluap saat musim menghujan tiba. Tak hayal, ribuan rumah yang terletak di sekitar sungai selalu menjadi langganan banjir ketika hujan lebat tiba. 

Proses pengerukan dibagi menjadi dua bagian, untuk bagian sungai mulai Masjid Agung Kendal sampai Bandengan di kerjakan dari Propinsi Jateng, sedangkan Masjid Kendal sampai Trompo, akan di kerjakan oleh Pemkab Kendal.

Pengawas proyek  Pengelola Sumber Daya Air (PSDA) Propinsi Jawa Tengan, Adi Darmawandia, mengatakan jika pengerukan sedimentasi dilakukan dengan menggunakan alat berat, sayangnya pekerjaan yang ditargetkan selesai Oktober mendatang terkendala oleh banyaknya bangunan berupa rumah di tanggul sungai, selain itu banyaknya jembatan juga menjadi halangan tersendiri.

“Banyak sekali jembatan di Kelurahan Ngilir, selain itu banyak bangunan yang menghalangi aktivitas alat berat, hingga membuat kami kesulitan untuk menuntaskan proyek,” katanya, Minggu (6/9) kemarin.

Selain padatnya rumah warga, dijelaskan jika banyak bangunan semi permanen yang dibangun oleh warga untuk berjualan. Bangunan liar tersebut berupa pedagang kaki lima, yang membuat aktivitas bongkar muat menjadi terhalang.

“Bangunan liar membuat kami sulit melakukan aktivitas bongkar muat. Kalau mau ditertibkan, bukan wewenang kami,” tuturnya.

Disinggung mengenai besarnya anggaran pengerukan Kali Kendal, dirinya tidak mengetahui berapa besarannya lantaran dirinya hanya pekerja lapangan yang diberi tanggungjawab untuk memastikan proyek berjalan dengan lancar.

“Kalau besarnya anggaran tidak begitu tau mas, coba tanya ke dinas terkait saja. Saya disini hanya mengawasi,” pungkasnya.

Terpisah, Warti salah satu pedagang kaki lima mengaku sudah mendapatkan surat dari dinas terkait, tentang adanya proyek normalisasi sungai. Dirinya pun diminta untuk membongkar warungnya agar tidak menganggu proses normalisasi sungai.

“Sudah ada yang ngasih tahu, tapi kalau dibongkar ngga punya tempat jualan. Sehingga saya memilih bertahan,” tandasnya. (BJ019)