Home Headline Begini Penampakan Sunan Kuning Selama Ramadhan

Begini Penampakan Sunan Kuning Selama Ramadhan

Rambu peringatan tutup pelayanan terpampang di pintu masuk Resos Argorejo yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kuning, Semarang.

Semarang, 14/5 (BeritaJateng.net) – Portal besi warna hitam putih melintang di pintu gerbang RW IV, komplek Resosialisasi Argorejo, Kelurahan Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, Kota Semarang, Jawa Tengah. Sebuah rambu peringatan diletakkan tepat di tengah jalan masuk perkampungan yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kuning tersebut.

Rambu itu berupa MMT warna kuning berukuran sekitar 1×1 meter. Bertuliskan ‘Bulan Ramadan Tutup Total’. Dibawahnya tertera tulisan kecil ‘Pengurus Resosialisasi Argorejo’.

Meski akses masuk ke Sunan Kuning ditutup portal namun masih ada sedikit celah, di sisi kiri gerbang yang bisa digunakan warga untuk keluar masuk kampung. Sementara bagi mereka yang menggunakan mobil maka harus membuka portal lebih dulu.

Suasana Sunan Kuning di bulan Ramadhan ini memang tidak seperti hari-hari di bulan lain. Lebih lengang, lebih sepi. Jika di hari biasa hilir mudik roda dua layaknya keramaian jalan raya, selama sepekan Ramadan bisa dihitung dengan jari. Kalau pun ada roda dua yang melintas, itu pun bagian dari aktifitas sehari-hari warga yang tinggal di Sunan Kuning. Bukan roda dua yang membawa pelanggan atau pengunjung.

Tempat karaoke maupun wisma yang ada nampak tutup. Tidak terlihat ‘mbak-mbak’ seksi mangkal dengan posisi mengundang syahwat. Suasana kampung makin sepi jika jelang adzan magrib. Warga lebih banyak berada di rumah untuk berbuka.

Sementara di malam hari, alunan warga mengaji terdengar dari toa Masjid Al Hidayah. Masjid yang berukuran tidak terlalu besar ini terletak di samping gerbang masuk Sunan Kuning.

Ketua Resosialisasi Argorejo, Suwandi Eko Putranto mengatakan sudah menjadi kelaziman jika Sunan Kuning tertutup dari aktifitas hiburan selama Ramadan.

Penutupan sementara ini sudah dilakukan sejak Minggu (5/5). Karena tempat hiburan tutup semua maka seluruh perempuan pekerja malam juga diminta menyesuaikan. Para warga binaan itu diminta pulang ke tempat asal masing-masing.

“Secara lesan maupun tertulis, semuanya kami minta pulang dan sudah pulang,” kata Suwandi.

Penutupan dilakukan atas kesepakatan pengurus dan pengusaha tempat hiburan yang ada di Sunan Kuning. Penutupan tersebut semata untuk menghormati Ramadan dan umat muslim yang melakukan ibadah puasa.

Bagi warga binaan yang tidak mau mengikuti instruksi tersebut maka siap menghadapi sanksi yang akan dijatuhkan pengurus resos. “Akan saya laporkan ke pihak kepolisian kalau tidak patuh,” katanya.

Mengantisipasi kemungkinan warga binaan bandel, pengurus resos tiap malam melakukan patroli keliling kampung. “Kalau ada yang melakukan pelayanan, langsung kami laporkan ke kepolisian dan itu menjadi urusannya polisi dan Satpol PP,” tegas dia.

Kabid Rehabilitasi Sosial Dinas Sosial (Dinsos) Kota Semarang, Tri Waluyo mengapresiasi kebijakan yang diambil pengurus resos Argorejo. Tanpa himbauan atupun instruksi, mereka punya kesadaran untuk menutup aktifitas hiburan malam.

“Selama bulan ramadhan ini, kami juga tidak ada kegiatan untuk pembinaan di lokalisasi sunan kuning. Sehingga apabila dilakukan penutupan akan lebih baik. Kalau di 2018 kami masih rutin menggelar pengajian di sana,” beber dia.

Dari catatan Dinsos, hampir 90 persen dari ratusan warga binaan di Sunan Kuning bukan asli warga Semarang. “Hampir semuanya pendatang,” imbuh Tri Waluyo.

(El)