Home Headline Nganten Semarangan, Tradisi Khas Semarang Wujud Akulturasi Beragam Budaya

Nganten Semarangan, Tradisi Khas Semarang Wujud Akulturasi Beragam Budaya

47
0
Nganten Semarangan, Tradisi Khas Semarang Wujud Akulturasi Beragam Budaya
               SEMARANG, 16/9 (BeritaJateng.net) – Prosesi pernikahan atau ritual pernikahan adat asal Semarang, kini mulai jarang digunakan. Padahal rias pengantin Semarangan dan prosesinya berbeda dengan adat dari Yogyakarta ataupun Solo. Dari segi busana, pengantin Semarangan memiliki akulturasi berbagai budaya diantaranya Jawa, Arab, Tionghoa dengan segi filosofi kemajemukan budaya.
              Sepasang pengantin Semarangan nampak diarak dengan menggunakan kuda di kawasan Kota Lama, tepatnya dari halaman Kantor Pos sampai Gereja Blenduk, Jumat (15/9) petang kemarin. Tujuannya adalah untuk menarik perhatian masyarakat terutama generasi muda untuk kembali menggunakan adat, busana dan prosesi pernikahan asli Semarang ini.
               Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwista Kota Semarang, Masdiana Safitri mengatakan jika nilai dan akturlturasi budaya yang ada dalam Pengantin Semarangan ini coba dihidupkan kembali mengadakan arak-arakan, lomba rias, yang ditambah dengan ajang kuliner, rock Kota Lama yang merupakan rangkaian dari Festival Kota Lama. “ Sengaja di gelar di Kota Lama, biar menjadi daya tarik bagi para wisatawan dari dalam ataupun luar negeri,” katanya.
                   Tujuan dari arak-arakan, kata dia agar masyarakat bisa menyaksikan keindahan busana pengantin semarangan sekaligus melihat prosesi yang ada, sebagai sarana sosialiasi.  Menurut dia, banyak sanggar rias pengantin yang belum tahu dengan adat asli Semarang.  “Kalau digarap dan sosialisikan pastii generasi muda akan tertarik, karena cenderung simple dan tidak bertele-tele. Goalnya tentu juga meningkatkan kunjungan wisata di Kota Lama,” jelasnya.
Pengantin wanita ditandu saat arak-arakan nganten Semarangan.
Pengantin wanita ditandu saat arak-arakan nganten Semarangan.

Sekda Kota Semarang, Adi Tri Hananto, dengan acara tersebut, Pemerintah Kota Semarang berusaha memperkaya khasanah budaya yang ada di Semarang. Menurut dia, dengan adanya kegiatan tersebut terutama di Kota Lama, akan mengungkit kegiatan lain yang ada di Kota Semarang. “Parwisata yang maju bisa mengungkit kegiatan lain yang ada di dalam Kota, kedepan Kota Lama akan dikembangkan untuk memperkuat budaya dan pariwisatanya,” tambahnya.

                Anggota Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (Harpi) Kota Semarang, Adriyani Trisno menjelaskan jika tata rias pengantin khas Semarang dijaman moderen ini semakin tersisihkan dan mulai tertinggalkan. Padahal tata rias pengantin khas Semarangan memiliki nilai bobot filosofi yang sangat tinggi dan menceritakan tentang kemajemukan buadaya warga Semarang. Riasan ini memiliki dua unsur yakni Pilis dan Endok Remek, dimana menonjolkan dua unsur budaya yakni Arab dan Cina.
                “Perbedaannya sangat mendasar, untuk rias pengantin Smearang cenderung arah Muslim. Lantaransang mempelai memakai kaos tangan dan dan kaus kaki. Busananya pun merupakan percampuan dari Cina, Arab dan Jawa. Jika rias pengantin Solo dan Yogykarta lebih condong ke Kerajaan,” paparnya.
                Menurutnya, unsur akulturasi budaya Arab dan Cina ada pada Pilis yang merupakan asesoris pada memepelai wanita yang terletak pada dahi terdiri dari tiga lapisan bertingkat yakni pilis bermata emas, pilis bermata perak, dan pilis terbuat dari beludru berpayet. Selain itu adalah endok remek  yang merupakan asesoris berupa gulungan memanjang bunga melati dan cempaka kuning yang terletak disisi telinga atau mata kanan dan kiri si wanita.
Nganten Semarangan, Tradisi Khas Semarang Wujud Akulturasi Beragam Budaya
Nganten Semarangan, Tradisi Khas Semarang Wujud Akulturasi Beragam Budaya

“Dua unsur tersebut menghiasi mahkota dan cundhuk menthul yang berjumlah dua bagian yakni lima buah berada diatas pilis mengambarkan lima rukun Islam dan tujuh belas buah diatas mahkota melambangkan jumklah raka’at shalat wajib lima waktu,” jelasnya.

                 Sementara untuk pengantin pria memakai kopiah atau syurban dengan baju gamis beludru dan  endok remek bunga melati yang diselipkan pada sisi kiri telinga atau mata pengantin pria. “Endok remek melambangkan sekat bahwa kedua pengantin sebelum di sah kan tak diperkenankan saling melirik atau memandang dikarenakan masih belum muhrimnya,” ujarnya. (El)