Home Alkisah Nenek Lumpuh dan Balita Bertahan Hidup Ditengah Kepungan Banjir dan Rob Semarang

Nenek Lumpuh dan Balita Bertahan Hidup Ditengah Kepungan Banjir dan Rob Semarang

198
0
Rumah nenek Sutikah (70) yang bertahun tahun dikepung banjir rob Semarang

Semarang, 18/10 (BeritaJateng.net) – Seorang nenek bersama cucunya yang masih balita di kota Semarang, Jawa Tengah bertahan hidup ditengah kepungan banjir dan rob selama bertahun-tahun. Untuk menuju rumahnya, warga harus berjalan pelan menyeberangi genangan rob setinggi kurang lebih satu meter.

Tak mudah untuk menuju rumah nenek Sutikah (70) yang terletak di RT 4 RW 3 Kelurahan Genuk sari, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Warga harus berjalan pelan menyeberangi banjir rob setinggi kurang lebih satu meter yang mengelilingi rumah tersebut.

Sungguh malang nasib nenek Sutikah, ia tak lagi bisa berjalan karena lumpuh. Sehari-hari ia hanya bisa duduk diatas kasurnya ditemani cucu tercinta Anissa. Gadis mungil berusia 3 tahun ini juga hanya dapat mengurung diri didalam rumah lantaran tak dapat bermain bersama teman-teman sebaya dikampungnya.

Nenek Sutikah memiliki beberapa anak akan tetapi tak satupun bersedia merawat nenek Sutikah, sementara suaminya telah lama meninggal dunia karena suatu penyakit.

Nenek Lumpuh dan Balita Bertahan Hidup Ditengah Kepungan Banjir dan Rob Semarang
Nenek Lumpuh dan Balita Bertahan Hidup Ditengah Kepungan Banjir dan Rob Semarang

Tak banyak yang bisa mereka lakukan, nenek Sutikah dan cucunya Anissa hanya bisa menunggu kepulangan Alivah (45) yang tengah keluar rumah bekerja sebagai buruh cuci. Alivah merupakan menantu dari nenek Sutikah dan tante dari Anissa yang tinggal bersama mereka.

Sungguh memprihatinkan, kondisi ekonomi yang minim dan ketiadaan biaya membuat  mereka pasrah dan bertahan hidup meski ditengah kepungan banjir rob selama bertahun-tahun. Tak jarang, banjir rob menggenangi rumahnya bahkan hingga masuk dan membasahi kasurnya. Sesekali nenek Sutikah menangis saat hujan deras mengguyur rumahnya.

Selain mengandalkan uang gaji dari menantunya yang berprofesi sebagai buruh cuci, mereka juga mengharapkan belas kasihan warga sekitar. “Gaji jadi buruh cuci hanya Rp. 500ribu, hanya cukup buat makan seadanya,” ujar Alivah.

Lebih memprihatinkan lagi sampai saat ini belum ada bantuan dari pemerintah yang mereka terima. Bantuan Raskin, kartu BPJS kesehatan, Kartu Indonesia Sejahtera dan sejumlah kartu sakti lainnha juga tak pernaa mereka dapatkan. (Bj05)