Home DPRD Kota Semarang Murid Diintimidasi Guru, Komisi D Langsung Sidak SD Rejosari 1

Murid Diintimidasi Guru, Komisi D Langsung Sidak SD Rejosari 1

Kunjungan anggota dewan ke SD Rejosari 1 Semarang
Kunjungan anggota dewan ke SD Rejosari 1 Semarang
Kunjungan anggota dewan ke SD Rejosari 1 Semarang

Semarang, 23/9 (BeritaJateng.net) – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang Sovan Haslim Pradana melakukan inspeksi mendadak ke SD Negeri Rejosari 01 Semarang, Selasa siang.

Sidak dilakukan setelah pihaknya mendapat laporan dari salah satu orang tua murid lantaran anaknya mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari salah satu guru kelas. Selain penarikan uang pelajaran tambahan atau les yang ditentukan nilainya, anak tersebut juga mendapat intimidasi dari salah satu guru kelas 4C.

Rombongan Dewan dan orang tua siswa diterima langsung oleh Kepala Sekolah Titik Prawarti dan komite sekolah Slamet. Pihak sekolah yang sebelumnya enggan mengundang oknum guru tersebut, akhirnya bersedia mempertemukan untuk konfirmasi.

Sang guru yang mengajar di kelas 4C ini membantah telah melakukan intimidasi pada salah satu siswa, mendengar bantahan yang tak sesuai kenyataan, Elia Megawati ibunda (AW) sontak mengumpat dan mengeluarkan emosinya.

Sovan mengungkapkan, tujuan diadakannya sidak ke sekolah ini adalah untuk menindaklanjuti laporan warga yang mengeluhkan adanya tindakan intimidasi oleh seorang oknum guru kepada siswanya.

“Meski tidak berwenang memberi sangsi atas tindakan yang dilakukan oknum guru tersebut, namun dewan berhak mengetahui permasalahan yang terjadu sekaligus menyelesaikan permasalahan orang tua dan guru yang dianggap lalai,” ujar Sovan.

Sovan mengatakan, selain itu ada laporan juga dari orangtua siswa bahwa ada ancaman guru terhadap salah satu siswa (inisial AW) di sekolah tersebut. Hal itu menurut Sovan adalah tindakan yang dinilai sangat tidak pantas dilakukan oleh seorang guru.

“Kami ingin mengkonfirmasi terhadap guru yang bersangkutan tersebut. Apakah benar guru yang bersangkutan mengancam dan mengucapkan kata-kata kasar itu terhadap muridnya,” tandasnya.

Dalam sidak itu, Sovan yang juga sekaligus dari fraksi PAN tersebut ingin mengecek langsung ke sekolah apakah benar ada hal-hal yang seperti dilaporkan orangtua dan murid tersebut.Dia ingin menyelesaikan permasalahan tersebut dan mengetahui kronologisnya seperti apa.

Sementara Kepala SD Rejosari 1 Semarang, Titik Prawarti mengaku sangat tertekan dengan permasalahan yang terjadi di sekolahnya inu.

Titik mengatakan, dengan adanya kunjungan anggota dewan ke sekolah, pihaknya menyatakan terimakasih telah didatangi anggota dewan untuk bersama-sama menyelesaikan persoalan yang terjadi. Dirinya juga baru tahu jika ada ancaman dari guru (inisal N-red) kepada seorang siswa. “Tugas saya adalah membina guru saya tersebut, apakah betul seperti yang dilaporkan dari orangtua siswa, kedepan kami berharap tidak ada lagi peristiwa serupa yang memperburuk citra sekolah,” katanya.

Dalam sidak, juga dihadirkan guru yang diduga mengancam siswa. Namun guru tersebut menyangkal jika dirinya mengancam muridnya.

“Saya sudah menanyakan kepada siswa yang bersangkutan,” katanya dengan mimik pucat.

Pernyataan guru tersebut langsung di saut umpatan dari orang tua siswa yang tidak setuju dengan pernyataan guru tersebut. Sovan kemudian melerai dan menengahi keadaan.

“Anak-anak siswa kelas 4 SD, psikologis masih labil dan akan terkena dampak trauma lebih besar jika mendapatkan perlakukan seperti itu dari gurunya,” tambah Sovan.

Dewan akan terus mengawal tindakan apa yang dilakukan oleh dinas pendidikan terhadap permasalahan tersebut. Dan upaya ini juga sekaligus ingin mendamaikan kedua pihak disaksikan kepala sekolah dan komite sekolah tersebut.

Seperti yang diketahui, diadukannya oknum guru ke anggota dewan sendiri terjadi setelah salah satu murid berinisial (AW) mendapat tekanan dan intimidasi lantaran tidak mau membayar uang pelajaran tambahan atau les yang diwajibkan oknum guru tersebut dengan jumlah tertentu. Akibat dari tekanan sang guru, AW sempat tidak masuk sekolah selama tiga hari karena ketakutan dan trauma. (Bj)