Home Kesehatan MUI Survey Pilot Project Rumah Sakit Syariah Pertama di Indonesia

MUI Survey Pilot Project Rumah Sakit Syariah Pertama di Indonesia

93
0
Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
           SEMARANG, 12/6 (BeritaJateng.net) – Rombongan Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indonesia (MUI) melakukan survey di Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung Semarang, untuk mengecek kesiapan sertifikasi rumah sakit yang terletak di Jalan Raya Kaligawe Semarang tersebut untuk menjadi rumah sakit syariah pertama di Indonesia.
           Untuk bisa mendapatkan sertifikasi rumah sakit syariah, rumah sakit tersebut harus lulus dari ketentuan sebanyak 13 standart yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional MUI. Di dalam 13 standart tersebut terdapat 174 elemen penilaian.
           “Ini sebagai pilot project, rumah sakit syariah pertama di Indonesia, bahkan mungkin pertama di dunia,” kata Sekretaris Bidang Bisnis dan Wisata Syariah Dewan Syariah Nasional (DSN) Majelis Ulama Indononesia (MUI), Muhammad Bukhori Muslim.
             Dikatakannya, ada sebanyak 13 standart yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional MUI. Di dalam 13 standart tersebut terdapat 174 elemen penilaian. Bukhori menjelaskan, lembaga bisnis maupun perusahaan apapun yang berkonsep “Syariah” harus ada Dewan Pengawas Syariah (DPS). “Sesuai dengan Undang-Undang (UU), DPS harus direkomendasikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sedangkan DSN ini lembaga di bawahnya MUI, yang mengurus itu,” katanya.
              Maka dari itu, lanjut dia, pijaknya mendorong semua elemen masyarakat, maupun pemerintah untuk meningkatkan agar ekonomi syariah ini tidak hanya di lembaga keuangan saja. Tetapi juga memiliki ruang lingkup yang lebih besar, yakni ruang lingkup bisnis.  “Ini menjadi harapan besar, karena tuntutan halal life style masyarakat dunia sudah menjadi kebutuhan, bukan lagi sekedar ngomong. Tidak hanya di keuangan, tapi di semua bidang bisnis menuju ke arah halal life style,” katanya.
            Lebih lanjut, saat ini MUI sendiri sudah ada fatwa terkait rumah sakit sesuai prinsip syariah. Dalam teknisnya, syariah tidak hanya meliputi pelayanan, tetapi seluruh aspek yang mencakup aspek ibadah dan lain-lain. “Makanya ada standarisasi rumah sakit syariah. Ada sebanyak 173 elemen penilaian, dokumennya ribuan,” katanya.
              Apalagi kaitannya dengan rumah sakit, makanan, obat, hingga persiapan orang meninggal dan seterusnya, ada standarisasi. Terkait status Rumah Sakit Islam (RSI) apakah itu bukan termasuk syariah? Bukhori menjelaskan bahwa dalam hal ini adalah berbicara soal standarisasi. “Kami ngomong berstandar, mereka (Rumah Sakit Islam) selama ini belum ada standarnya. Nah sekarang ini baru mau dipraktekkan di sini,” katanya.
            Direktur Utama Rumah Sakit Islam (RSI) Sultan Agung, dr H Masyhudi AM, M.Kes mengaku, pihaknya telah menyiapkan sejak dua tahun lalu. “Sekarang ini terkait keluarnya Fatwa MUI mengenai rumah sakit syariah, ada standart serta elemen-elemen penilaiannya. Itu yang kami siapkan semuanya. Kami ajukan untuk mendapatkan sertifikasi syariah dari DSN MUI,” katanya.
             Mulai dari struktur organisasi rumah sakit, akuntasi manajemen keuangan, sumber daya manusia (SDM), pemasaran hingga pelayanan. Totalnya ada 13 standart yang berisi 173 elemen penilaian. “Misalnya gizi halal harus mendapatkan pengakuan dari LP Pom MUI, termasuk loundry kami menggunakan loundry syariah,” katanya.
            Apa bedanya dengan loundry biasa? Masyhudi menjelaskan loundry syariah selain bersih harus dijamin suci. “Semua loundry mungkin bersih iya, tapi aspek suci ini mungkin tidak semuanya. Obat misalnya, kami menggunakan obat-obat yang halal. Sehingga tidak ada obat-obatan yang mengandung barang haram. Boleh ndak rumah sakit syariah menggunakan obat yang haram? Boleh, tentu dengan ada beberapa persyaratan, misalnya dalam kondisi darurat dan persetujuan dari pasien,” katanya.
              Menurutnya, konsep syariah sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Orang bersyariah itu sangat penting. Syariah terkait dua hal, yakni ibadah dan muamalah. “Kalau ibadah sudah otomatis bersyariah, tapi kalau muamalah ini kadang-kadang ada yang tidak seauai dengan syariah Islam. Harapannya, bisa menjalankan prinsip syariah dalam semua hal. Misalnya keuangannya syariah, banknya syariah, ketika bepergian menginapnya di hotel syariah, dan rumah sakitnya syariah. Ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat, sehingga kami berupaya memenuhi itu sebagai wujud pemenuhan fardhu kifayah,” bebernya.
              Saat ini, kata dia, RSI Sultan Agung berkategori kelas B yang sudah bisa melayani seluruh bidang spesialisasi, bahkan sub spesialisasi. Total memiliki 400 kamar inap dengan didukung lebih dari 100 dokter spesialis.  “Bedah misalnya, seluruh sub spesialisasi bedah semua ada, mulai bedah ortopedi, bedah jantung, bedah urologi, bedah anak, bedah digestif, bedah onkologi, bedah saraf, semuanya ada,” katanya. (El)