Home Ekbis Motor Listrik Made in Kampus Bikin Ketar Ketir Produsen Otomotif Dunia

Motor Listrik Made in Kampus Bikin Ketar Ketir Produsen Otomotif Dunia

3881
0
Motor Listrik Made in Kampus Bikin Ketar Ketir Produsen Otomotif Dunia

Semarang, 1/12 (BeritaJateng.net) – Motor listrik karya anak bangsa membuat produsen otomotif dunia terbelalak. Mereka mendatangi Indonesia lantaran khawatir market-nya di Tanah Air bakal tergerus dengan rencana produksi massal dari motor tersebut.

       “Kami saat me-launching sudah diintip industri motor dunia. Saat Taiwan, Jepang, China datangi saya, mereka bertanya mau dijual berapa ?. Saya jawab harganya kompetitif. Tidak saya sebut harganya dulu, diatas Rp 15 juta, pokoknya sama dengan motor konvensional,” ungkap Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menritekdikti) Mohamad Nasir usai paparan kinerja Kemenristekdikti di kampus Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Jawa Tengah, Jumat.
        Produsen motor konvensional layak deg-degan dengan keberadaan motor listrik Gesits tersebut. Selain diperkirakan harganya lebih murah dari motor konvensional yang sudah booming, Gesits juga berbasis teknologi tinggi dan ramah lingkungan.
         Motor listrik Gesits merupakan hasil inovasi gabungan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) di komponen penggerak motornya, Institut Teknologi Bandung (ITB) di speedometer dan baterai litium sebagai sumber tenaga karya mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.
        “Speedometer yang mantau kecepatan dan baterai, ini yang luar biasa, begitu motor berhenti, ini speedometer bisa dikeluarkan dan bisa berfungsi sebagai smartphone,” kata Nasir.
        Selain karya anak bangsa, komponen pendukung motor listrik jenis skuter itu juga diproduksi perusahaan dalam negeri. Karenanya pemerintah tidak terlalu risau jika Gesits kelak bakal mempengaruhi kesimbangan kinerja industri otomatif Tanah Air. “Karena komponennya diproduksi dalam negeri,” jawab dia.
Instansi Pemerintah Wajib Beli
        Guna mendukung akselerasi pemasaran, Nasir menyatakan pemerintah siap membantu. “Pemerintah telah menginisiasi semua instansi pemerintah menggunakan motor listrik ini,” ujar dia.
       Termasuk dukungan dalam bentuk regulasi. Kemenristekdikti sudah berbicara dengan Kementerian Perindustrian agar Gesits punya payung hukum di industri otomotif dalam negeri. Termasuk koordinasi dengan Kementerian Perhubungan kaitannya izin kelaikan jalan mengingat skuter Gesits diproyeksikan mengaspal di jalanan layaknya motor konvensional.
        “Saya minta pendampingan KPK supaya tidak menyalahi prosedur dan bisa masuk industri. Alhamdulillah KPK setuju dan sekarang sudah berjalan. Menteri Perindustrian sudah setuju,” jelas dia.
        Nasir menambahkan motor listrik Gesits siap produksi massal pada pada 2019. Pembicaraan mengenai hal itu juga sudah dilakukan dengan parlemen. Tahap awal akan diproduksi 60.000 unit setahun atau 5.000 unit per bulan dan tergantung permintaan pasar.
       “Itu untuk satu line, ada empat line sekarang baru satu line. Kalau satu line nanti tidak memenuhi kebutuhan maka akan ditambah line kedua,” ujar dia.
        Pengembangan motor Gesits menggandeng industri dalam negeri seperti PT Wijaya Manufacturing (Wima), perusahaan patungan PT Wijaya Karya Indsutri dan Konstruksi (Wikon) dengan PT Gesits Technologies Indo (GTI). Dan infrastruktur sumber tenaga disupport PT Pertamina lewat rencana pembangunan SPBU penggantian baterai.
        Nasir menambahkan selama ini Indonesia dipandang sebelah mata di dunia riset dan penelitian.  “Di sejarah riset, sejak 20 tahun lalu kita tidak pernah diatas Thailand Singapura dan Malaysia. Sehingga dengan kebijakan yang saya lakukan dengan arahan Pak Presiden Jokowi, Indonesia mampu di rangking 2 di Asia Tenggara dan kemungkinan di 2019 bisa akan capai tertinggi di Asia Tenggara,” papar dia.
        Karenanya capaian motor listrik diharapkan jadi motivasi dan model bagi kalangan kampus Tanah Air untuk lebih berkontribusi nyata bagi masyarakat. “Ini adalah role material untuk menjadikan inovasi. Inovasi adalah bagaimana produk yang dihasilkan riset bisa bermanfaat bagi masyarakat. Jangan sampai riset hanya berhenti di perpusatakaan saja, ini yang kami dorong terus,” pungkas Nasir. (El)