Home Alkisah Miris, Rumah Dijual Saudara, Sarimin Kini Tinggal di Gubug Bambu

Miris, Rumah Dijual Saudara, Sarimin Kini Tinggal di Gubug Bambu

160
0
Miris, Rumah Dijual Saudara, Sarimin Kini Tinggal di Gubug Bambu
       BLORA, 29/10 (BeritaJateng.net) – Sungguh malang, mungkin kalimat itulah yang tepat ditujukan kepada Sarimin (46) warga dukuh temboro desa Sumberejo kecamatan Banjarejo kabupaten Blora. Sudah beberapa Minggu ini ia terpaksa tinggal sebatang kara di sebuah rumah gubug berukuran 4×3 meter dengan hanya beralaskan tanah.
       Sebelum menempati rumahnya tersebut, Sarimin berpindah-pindah tidur di emperan rumah warga. Karena kasihan melihat kondisi Sarimin, pada Jumat (27/10/2017) warga setempat akhirnya membangunkan rumah buat Sarimin.
        Rumah tersebut berdiri di atas tanah warga yang mengikhlaskan tanahnya ditempati Sarimin untuk sementara waktu.
        “Tanah mas Darso. Kasih tempat gitu saja, kalau untuk berapa lama, ga tahu. Kalau ga dijual ya lamalah,” ungkap Sarimin dengan nada lirih.
         Sarimin sebelumnya tinggal di rumah orang tuanya. Namun karena rumah tersebut dijual saudaranya, kini Sarimin tidak memiliki tempat tinggal lagi.
        Kondisi rumah Sarimin pun jauh dari layak. Hampir seluruh bagian rumahnya  terbuat dari Gedeg atau anyaman bambu. Hanya ada satu tempat tidur yang ada di dalam rumahnya. Untuk memasak ia lakukan persis di depan tempat tidurnya. Tidak ada aksesoris apapun di dalam rumahnya kecuali foto pernikahannya dengan mantan istrinya beberapa tahun silam.
Miris, Rumah Dijual Saudara, Sarimin Kini Tinggal di Gubug Bambu

Lebih memprihatinkan lagi, Sarimin tidak memiliki kamar mandi. Untuk mandi dan buang air ia lakukan selama ini di sumur dan sungai.

         Sarimin mengaku tidak bisa tidur jika turun hujan. “Bocor di bagian depan mungkin terlalu rendah. Kalau mau tidur saya geser ke tempat yang tidak bocor,” aku Sarimin.
         Pekerjaan Sarimin yang hanya seorang pencari katak dan bekicot tidak memungkinkan Sarimin bisa membeli rumah layak. Ditambah dengan dirinya yang hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 2 sekolah dasar membuat dirinya kesulitan mencari kerja.
          Kondisi Sarimin ini mengundang simpati sejumlah tetangga. Menurut salah seorang tetangga bernama Budi Susetyo (55), untuk kebutuhan sehari-hari Sarimin banyak dibantu warga. Seperti makan, kebutuhan listrik hingga mandi.
           “Kalau makan selama ini dikasih Bu guru Suparti, listrik saya mintakan ke tetangga dan alkhamdulillah dikasih gratis meski hanya 5 Watt. Sedangkan Kalau mandi dilakukan di sumur dan di kali,” papar Budi.
          Meski serba kekurangan, namun menurut Budi, Sarimin tidak mendapat bantuan raskin dari pemerintah. “Dulu pernah dikasih, tpi sudah 2 tahun lalu. Padahal dia kelahiran sini, penduduk asli sini tapi tapi kok tidak mendapat bantuan, saya juga tidak tahu,” ucap Budi.
         Budi berharap kondisi salah satu tetangganya ini mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Apalagi Sarimin kini tinggal sebatang kara setelah ditinggal pergi istrinya.
(MN/EL)