Home Lintas Jateng Migrasi ke Elpiji Bersubsidi Perlu Pengawasan

Migrasi ke Elpiji Bersubsidi Perlu Pengawasan

image
Petugas menunjukkan peralatan

Kudus, 6/1 (Beritajateng.net) – Kenaikan harga elpiji 12 kg dari harga sebelumnya Rp 115.000 menjadi Rp 140.000 per tabung berpotensi terjadinya migrasi ke elpiji bersubsidi ukuran 3 kg.

Kemungkinan tersebut terutama terjadi pada pelaku usaha yang sangat bergantung pada komoditas bahan bakar gas tersebut. 

Salah satunya, peternakan ayam pedaging yang selama ini menggunakan elpiji ukuran 12 kg untuk keperluan penghangat anak ayam.

Hanya saja, untuk peternakan kategori kecil atau maksimal 5.000 ekor yang masuk kategori usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) memang masih diperbolehkan menggunakan elpiji ukuran 3 kg.

Salah seorang pemilik peternakan di Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Haryanto kepada Beritajateng.net mengatakan, dari pembicaraan informal sesama pelaku usaha banyak mengakui kemungkinan tersebut. Meski demikian, dengan alasan kepraktisan pihaknya memilih tetap menggunakan elpiji 12 kilogram.

”Untuk sekali ternak kami membutuhkan pemanas selama 14 hari penuh,” terangnya, Selasa (6/1).

Menurutnya, sebenarnya pihaknya bisa saja beralih ke elpiji bersubsidi seiring kenaikan elpiji non subsidi. Hanya saja, karena kebutuhan bahan bakar tersebut cukup banyak terkait jumlah ayam yang mencapai belasan ribu, tentu tidak praktis bila menggunakan ukuran 3 kilogram.

Haryanto mengaku, belum merasakan kenaikan harga elpiji ukuran 12 kilogram yang saat sekarang sudah melambung menjadi Rp 135 ribu hingga Rp 140 ribu per tabung.

Pasalnya, ternaknya sudah ’panen’ sebelum kenaikan ditetapkan. Pihaknya akan merasakan kenaikan saat masa pembesaran periode berikutnya.

”Jika benar elpiji 12 kg naik, maka biaya produksi akan meningkat,” imbuhnya.

Sebagai gambaran, katanya, usahanya biasa membesarkan ayam pedaging sebanyak 18 ribu ekor untuk satu kandang. Unggas tersebut dibesarkan selama dua bulan dan pada 14 hari pertama membutuhkan pemanas selama 24 jam dimana kebutuhan elpiji 12 kg sedikitnya 63 tabung.

Namun, saat musim kemarau kebutuhan berkurang menjadi hanya 50 tabung. Saat ini, biaya produksi tidak hanya berasal dari peningkatan harga elpiji tetapi juga harga sekam untuk kebutuhan alas ayam.

Harga sekam sebelum kenaikan hanya Rp 900 ribu per rit, tetapi saat memasuki musim penghujan harganya melonjak menjadi Rp 1,2 juta. Padahal sekali pembesaran usahanya membutuhkan 5,6 rit.

Setelah dihitung-hitung, biaya pemeliharaan unggas sebelum dijual yang sebelumnya Rp 1.400 per ekor menjadi Rp 1.650 per ekor.

Perhitungan tersebut sudah mempertimbangkan kenaikan harga sekam dan elpiji ukuran 12 kg sedangkan harga jual ayam pedaging dari yang semula Rp 17.600 per kilogram dapat mencapai Rp 17.800 per kilogram dan bahkan lebih.

Terpisah, Kasi Perdagangan Dalam Negeri pada Dinas Perdagangan dan Pengelolaan Pasar, Sofyan Duhri, ketika dikonfirmasi soal kemungkinan migrasi menyatakan hingga kemarin belum ada kenaikan permintaan. Menurutnya, penyaluran masih normal.

Namun begitu, pihaknya berulangkali mengingatkan agen agar lebih meningkatkan pengawasan ke pangkalan. Soal siapa yang ’berhak’ menggunakan elpiji 3 kg tidak ada ketentuan khusus.

”Sejauh ini kami berpedoman pada Peraturan Menteri ESDM yang menyatakan pengguna elpiji ukuran 3 kg untuk rumah tangga dan UMKM,” tandasnya. (BJ12)