Home Headline Meski Kota Metropolitan, Semarang Potensial di Sektor Peternakan dan Pertanian 

Meski Kota Metropolitan, Semarang Potensial di Sektor Peternakan dan Pertanian 

493
Wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat meninjau kelompok tani rejeki lumintu, kelurahan Sumurrejo, kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.
         Semarang, 29/6 (BeritaJateng.net) – Sebagai kota metropolitan sekaligus ibukota provinsi Jawa tengah, kota Semarang juga mempunyai potensi luar biasa di sektor peternakan dan pertanian. Hal ini disampaikan Wakil Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu, Jumat (29/6) saat penilaian lomba kelompok tani ternak berprestasi tingkat Provinsi Jawa tengah.
       “Kami ikut bangga, karena di provinsi Jawa tengah, kota Semarang masuk tiga besar wilayah potensial untuk peternakan sapi mandiri selain kota Salatiga dan kabupaten Semarang. Padahal kota Semarang kan kota metropolitan, tapi potensi peternakan sapinya luar biasa,” ujar perempuan yang akrab disapa Mbak Ita ini.
       Menurut Ita, di kota Semarang ada tiga wilayah kecamatan yang mempunyai potensi untuk peternakan sapi yakni, kecamatan Mijen, kecamatan Gunungpati dan kecamatan Ngaliyan. “Harapannya peternakan sapi ini bisa jadi penyangga bagi pemenuhan kebutuhan susu dan daging sapi di kota Semarang. Bahkan nantinya kami berupaya agar bisa dikembangkan minimal di interline Semarang kebutuhan susu dan daging sapi bisa terpenuhi,” imbuhnya.
Wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat mencoba packing susu segar di KTT Rejeki Lumintu, Kelurahan Sumurrejo, kecamatan Gunungpati.

Ita mengakui salah satu kelompok tani yang bisa mandiri dan berinovasi yakni kelompok tani Rejeki Lumintu. Sebagai kelompok tani binaan pemerintah kota Semarang, menurut Ita, kelompok tani ini mampu mengembangkan ekonomi masyarakat dengan menciptakan beraneka produk pangan dan inovasi peternakan.

       “Kelompok tani Rejeki Lumintu ini sangat luarbiasa. Mereka tidak hanya menjadi peternak sapi, tetapi juga mengembangkan produk beras dan tanaman lain. Tak hanya itu, mereka juga membuat pupuk organik. Secara mandiri melakukan pengobatan sapi sendiri, seperti membuat obat cacing, obat influeza, obat jika terjadi keracunan pada ternak,” katanya.
       Ita mengatakan, pemerintah berencana mengembangkan potensi peternakan kelompok tani Rejeki Lumintu dengan menjadikan integrasi minapolitan. “Kami pemerintah kota Semarang berkeinginan mengembangkan potensi ini. Apalagi kelompok Rejeki Lumintu kelurahan Sumurejo rencananya akan dibuat minapolitan, sehingga bisa terintegrasi antara perikanan, pertanian dan peternakan. Dan dapat meningkatkan taraf hidup para petani,” lanjutnya.
Wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu saat mendampingi tim penilai sapi ternak berprestasi tingkat Jateng.

Sementara itu, Nurdi, Ketua Kelompok Tani Rejeki Lumintu mengatakan jika hasil dari kelompok tani tak hanya berupa susu segar, namun juga ada daging dan tanaman organik. Nurdi mengatakan, jumlah anggota Kelompok Tani Rejeki Lumintu berjumlah 33 anggota dengan 150 ternak sapi. “Tidak semuanya sapi perah, para peternak juga membudidayakan sapi daging. Untuk sapi perah hanya ada 50 sapi produktif, setiap hari kelompok tani ini bisa memproduksi 400 liter,” katanya.

        Disamping mengelola susu sapi, kelompok tani ini juga ngelola pertanian. Ada yang membuat pupuk padat dan pupuk cair. Dengan memanfaatkan pupuk dari urin dan kotoran sapi, menurutnya, petani di Kelurahan Sumurrejo tak lagi kesulitan untuk mencari pupuk. Apalagi ketika harga pupuk kimia melambung tinggi.
 
       “Potensi pertanian juga bagus, dulu petani kita pakai pupuk urea, tapi sekarang sudah pakai pupuk organik. Ini sangat mempengaruhi ekonomi, harga pupuk urea kan mahal. Nah sama temen-temen kalau mau memanfaatkan pupuk organik sapi ini kan ndak beli,” katanya. (El)