Home Headline Menutup Tahun Politik dengan Tradisi Suksesi Damai

Menutup Tahun Politik dengan Tradisi Suksesi Damai

LIPSUS AKHIR TAHUN

PEMILIHAN umum dan pemilihan presiden 2014 merupakan satu titik penting dalam sejarah perkembangan demokrasi Indonesia, khususnya pascareformasi 1998 yang ditandai dengan transisi kepemimpinan nasional yang jauh dari prasangka dan ketidaktulusan.

Selain transisi kepemimpinan nasional yang damai, titik penting sejarah politik nasional adalah dengan adanya tradisi baru lepas sambut antara Presiden keenam dengan Presiden ketujuh RI.

Bila pada masa-masa sebelumnya hampir tidak ada komunikasi yang intens antara Presiden yang menggantikan dengan Presiden yang digantikan, maka suksesi nasional 2014 mencatat komunikasi itu berjalan dengan ikhlas dan konstruktif.

“Melangsungkan pemilu bukan hal yang mudah, cukup melelahkan, kompleks, bahkan emosional. Saya pikir seperti pemilu lainnya di seluruh dunia (kondisinya-red),” kata Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono dalam sebuah kesempatan.

Sejak pergantian kepemimpinan nasional era Presiden pertama RI Soekarno kepada Presiden kedua RI Soeharto hingga pergantian kepemimpinan nasional Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri kepada Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono memang belum terbentuk tradisi politik yang menjadi ciri pergantian kepemimpinan nasional.z

Menjelang akhir masa jabatannya, Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan adanya sebuah serah terima kepemimpinan nasional yang bisa diterima oleh semua pihak dan juga menjadi tradisi politik baru yang akan terus berlangsung, sebab Amerika Serikat dan Rusia telah memiliki tradisi semacam itu sejak lama.

“Di mimbar yang mulia ini, saya Susilo Bambang Yudhoyono juga berjanji untuk membantu siapapun yang akan menjadi Presiden Republik Indonesia tahun 2014-2019, jika hal itu dikehendaki. Ini adalah kewajiban moral saya sebagai mantan presiden nantinya dan sebagai warga negara yang ingin terus berbakti kepada negaranya,” kata Yudhoyono saat menyampaikan pidato kenegaraan terakhir di hadapan sidang DPR RI pada Agustus 2014.

Pernyataan itu merupakan salah satu pembuka jalan komunikasi antara “pemerintahan lama” dengan “pemerintahan selanjutnya”, sebuah komunikasi politik yang merupakan salah satu upaya untuk membuat budaya politik yang baru dan memang seharusnya telah dimiliki oleh Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga di dunia.

Pertemuan pertama kedua pemimpin dalam status Joko Widodo sebagai Presiden terpilih berlangsung pada 27 Agustus 2014 di Bali. Komunikasi antara kedua pemimpin berlangsung dengan lancar dan mendapat sorotan luas dari berbagai kalangan, karena inilah pertama kalinya sejak Indonesia merdeka, presiden yang akan digantikan, dengan presiden pengganti bertemu dan berkomunikasi tentang proses suksesi kepemimpinan.

“Ini adalah sebuah tradisi baru yang ingin kita bangun dari pemerintahan Presiden SBY ke pemerintahan baru nantinya,” kata Presiden Joko Widodo saat itu.

Momentum transisi betul-betul terasa ketika satu hari menjelang pelantikan Presiden ke-7 RI, Minggu (19/10), Presiden terpilih, Joko Widodo, diundang ke Istana Kepresidenan Jakarta oleh Presiden Yudhoyono.

Duduk berdampingan di teras depan Istana Merdeka, Minggu Sore, kedua pemimpin itu menyaksikan geladi bersih acara pisah sambut. Beberapa kali, SBY memberikan koreksi antara lain usai acara tidak perlu mantan presiden memperkenalkan staf kepada presiden baru.

Sebelumnya, SBY mengajak Joko Widodo untuk melihat sejumlah fasilitas di Istana Presiden Jakarta yang nantinya akan menunjang tugasnya sebagai Presiden ke-7 RI.

Ketika meninjau ruang sidang kabinet yang terletak di lantai dua kantor Presiden, SBY sempat meminta agar peta virtual yang bersumber dari layanan satelit Google Earth diaktifkan sehingga Joko Widodo mengetahui fasilitas yang biasanya digunakan saat rapat kabinet antara lain saat membahas penanggulangan bencana.

“Petanya bisa dinyalakan?,” kata SBY.

Namun karena hari itu operator yang biasa mengarahkan layanan peta virtual itu tidak ada, maka layanan itu kemudian urung dinyalakan.

“Ya sudah tidak apa-apa,” kata SBY.

Keduanya kemudian menuju lantai satu kantor presiden dan melihat-lihat ruang konferensi pers.

Yudhoyono sore itu tampak “sumringah” menjelaskan hal-hal mengenai fasilitas pendukung kerja Presiden dan Jokowi mendengarkan secara seksama penjelasannya.

“Nah disini kita ada foto-foto Presiden dari setiap zaman. Kita sudah geserkan, tadinya foto saya di sini, tapi semua sudah digeser, jadi ada satu tiang kosong untuk foto presiden berikutnya,” kata SBY saat menunjukkan ruang utama Istana Negara yang kerap digunakan acara resmi kenegaraan seperti pelantikan menteri dan penyerahan tanda jasa serta pengukuhan Paskibraka.

“Iya…ya,” kata Jokowi.

“Wah terima kasih pak sudah disiapkan,” kata Ketua Tim Transisi Rini Soemarmo yang mendampingi Jokowi, sore itu.

Setelah hampir satu jam keduanya berkeliling Istana Presiden, SBY dan Jokowi, kemudian menuju teras depan Istana Merdeka untuk menyaksikan geladi bersih upacara pisah sambut Presiden keenam RI dan Presiden ketujuh RI.

Upacara pisah sambut yang berlangsung pada Senin (20/10) itu sendiri, berlangsung singkat dan sederhana. Diawali dengan kedatangan Presiden RI ketujuh di Gerbang Depan sebelah Barat Istana Merdeka yang kemudian mantan Presiden telah menunggu di Istana Merdeka. Kemudian presiden yang baru dengan didampingi mantan presiden menuju podium kehormatan diiringi ibu negara dan mantan ibu negara.

Setelah menerima salam kebangsaan, Indonesia Raya, kemudian Presiden Joko Widodo didampingi mantan Presiden Yudhoyono melakukan inspeksi pasukan kehormatan yang terdiri dari unsur angkatan darat, laut, udara dan kepolisian serta Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres).

Setelah inspeksi selesai, acara pisah sambut pun selesai. Mantan Presiden Yudhoyono dan Ani Yudhoyono ditemani Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana menuju gerbang sebelah timur Istana Merdeka dan kemudian melepas kepergian Presiden RI keenam dan Ani Yudhoyono menuju kediaman pribadi di Cikeas.

“Saya atas nama pribadi dan seluruh rakyat Indonesia pada sore ini ucapkan terima kasih kepada bapak dan ibu, dan penghargaan yang setinggi-tingginya,” kata Presiden Joko Widodo saat melepas SBY di Istana Merdeka.

“Selamat kepada bapak semoga diberi barokah kesehatan dan umur panjang,” ujar Presiden.

Transisi kepemimpinan nasional yang dapat diterima oleh semua pihak merupakan awal dari kesinambungan perjalanan sebuah bangsa untuk menjadi bangsa yang lebih maju dari sebelumnya.

Dalam berbagai kesempatan, Presiden Joko Widodo menegaskan salah satu pelajaran yang penting dipetik dari keberhasilan Tiongkok dari sebuah negara yang tertutup kemudian menjadi negara dengan ekonomi terdepan di dunia adalah perwujudan semua rencana besar bangsa meski para pemimpinnya datang dan pergi silih berganti.

Hal itu pun disadari oleh Susilo Bambang Yudhoyono, yang menilai seorang pemimpin baru harus mendapat sambutan positif dan terhormat dari pemimpin yang digantikannya. Karena dengan cara itulah kebesaran suatu negara dan bangsa bisa dinilai oleh bangsa lain.

“Pemimpin itu datang dan pergi, namun percayalah semua ingin berbuat yang terbaik untuk bangsanya,” kata Yudhoyono sebelum meninggalkan Istana Merdeka. (ant/BJ)