Home Lintas Jateng Menpora Berharap Sarana Hambalang Bisa Dimanfaatkan

Menpora Berharap Sarana Hambalang Bisa Dimanfaatkan

images(42)
Menpora Imam Nahrawi (dok)

Kudus, 20/11 (BeritaJateng.Net) – Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi berharap bisa memanfaatkan sarana olahraga di Hambalang, Kabupaten Bogor, mengingat dana APBN sudah digunakan untuk proses pembangunannya.

“Hanya saja, kami perlu membentuk tim khusus untuk mendalami semuanya, agar tidak ada kesalahan administrasi, apakah nantinya yang dipergunakan ataupun areal yang sudah ada dibangun baru, atau seperti apa,” ujarnya ketika menggelar konferensi pers usai menutup Turnamen Bulutangkis Antarmedia 2014 di PB Djarum Kudus, Kamis (20/11).

Ia mengakui sudah berkoordinasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk menentukan apakah dapat melanjutkan pembangunan sarana olahraga di Hambalang itu.

Meskipun KPK sudah memberikan lampu hijau, kata dia, Kemenpora tetap harus berkonsultasi dengan banyak pihak, seperti BPKP, BPK, Kepolisian, Kejaksaan, dan Kementerian Pekerjaan Umum.

“Jika memungkinkan ahli tanah serta ahli metafisik juga bisa dilibatkan,” ujarnya.

Apabila sudah berhasil dan sudah ada rumusan-rumusannya, kata dia, baru akan ditentukan langkahnya, setelah itu akan dibicarakan dengan DPR.

Saat ini, lanjut dia, masih dalam proses pembentukan tim dan akan didalami sedalam-dalamnya.

“Kami tetap harus berpegang pada tiga prinsip, yakni sukses prestasi, sukses penyelenggara serta sukses administrasi,” ujarnya.

Menurut dia, Hambalang bisa diperbesar jika dilaksanan dengan baik dan prosesnya juga benar, sehingga banyak hal yang bisa diharapkan dari sarana olahraga tersebut.

Berdasarkan keterangan KPK, kata dia, dari awal perencanaannya memang ada yang tidak benar.

“Mereka juga mempersilakan pembangunannya dilanjutkan, namun harus mendapatkan rekomendasi dari semua pihak,” ujarnya.

Sejumlah pihak yang perlu dilibatkan, yakni soal tanah harus melibatkan pihak yang benar-benar mengerti soal tanah, termasuk di dalamnya seperti apa.

Pasalnya, kata dia, sempat terjadi longsor dan awalnya disangka hal itu disebabkan karena konstruksinya yang tidak benar dan kedalamannya juga kurang.

Ternyata, kata dia, menurut sebagian ahli kontur tanahnya memang tidak kuat dalam menahan sekian volume.

Karena sudah menjadi isu nasional, kata dia, maka tidak boleh sembarangan dan harus melangkah lebih pasti agar tidak ada lagi korban seperti sebelumnya. (ant/pri)