MENHUB: Permen No. 32 Solusi Permasalahan Transportasi Online Dan Konvensional

Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi berfoto bersama dengan ratusan pengemudi online dan konvensional di Semarang
SEMARANG, 23/3 (BeritaJateng.net) – Bersitegangnya antara pengemudi kendaraan konvensional dan online disikapi oleh Kementerian Perhubungan dengan segera mengeluaran Peraturan Menteri No 32 yang mengatur keberadaan hak dan kewajiban dua moda sistem angkutan umum itu. Dipastikan 1 April 2017 akan diberlakukan secara nasional Permen tersebut.
        Menteri Perhubungan RI Budi Karya Sumadi menyampaikan, Peraturan Menteri No 32 tersebut berlaku 1 April namun akan disosialisasikan sebagai transisi waktu guna memahami terlebih dahulu terkait pasal-pasal yang ada di dalamnya.
        “Tanggal 1 April akan kita keluarkan Permen itu, cuman pasal-pasal didalamnya kita lihat, misal pasal SIM dan STNK kita kasih waktu dua atau tiga bulan, pasal berkaitan dengang kuota atau dengan tarif kita kasih waktu juga dua atau tiga bulan,” katanya usai meninjau Stasiun Tawang Semarang, Kamis (23/3).
        Budi melihat jika polemik angkutan online adalah suatu keniscayaan karena memiliki tatanan sendiri. Oleh karena itu pihaknya berusaha mengadopsi sebagai suatu sistem cara teknologi yang dipakai di angkutan. Untuk itu Permen No 32 sebagai formulasi dalam melihat roh sebenarnya apa yang dinamakan angkutan umum.
        “Bagaimana kita memformulasikan apa yang menjadi roh UU Peraturan Menteri (PM) No 32 itu, rohnya satu pasti keselamatan, kedua level of service, ketiga kesetaraan, apa namanya kesetaran ? yakni kesetaraan berbisnis, kita tahu ada kelompok usaha online dan angkutan konvensiaonal. Kita ingin keduanya bisa hidup, bekerja, beroperasi seiring tak ada yang saling mematikan dan saling mengapresiasi,” katanya.
        Dia menyatakan apa yang terjadi pada angkutan konvensional sudah dilakukan ada batasan berkaitan dengan jumlah dan ada batasan berkaitan dengan tarif atas dan tarif bawah. Atas nama kesetaraan, maka Permen itu akan mengatur mekanisme baru pada cara angkutan online juga.
        “Tentu akan dilakukan yang namanya kuota, jumlah yang diijinkan, wajar apabila yang satunya (konvensional, red) dibuat ada tarif bawah disini maka (online) juga ada tarif bawah,” terangnya.
        Adanya Permen No 32  itu, pihaknya mengatakan akan mempunyai manfaat yang lebih baik terutama untuk pengemudi konvensional dan online, misal jumlah dari pengemudi koinvesioanal dan online ada 100 sedangkan jumlah penumpang ada 1000, sehingga ada pembagian rata-rata mengangkut 10 penumpang. “Namun jika ada salah satu usaha yang menjaring pengemudi 500, berarti ada pembagian bertambah, berarti rezeki dari pengemudi itu turun yang tadinya 10 menjadi dua, itu yang akan diatur,” katanya.
        Atas dasar kesetaraan itu pula, Budi menjadikan sebagai filosofi dalam usaha untuk angkutan online dan konvensional bagaimana untuk bertarung dalam kondisi yang profesional. Masyarakat juga diminta untuk bisa mencermati layanan dua angkutan tersebut.
        Pihaknya memahani jika sekarang ini masyarakat menikmati promo-promo yang banyak, tapi harus diingat promo itu bersifat sementara dan sewaktu tertentu, dan akan menjadi suatu harga bersaing yang tak sehat.
        “Adanya promo atau diskon yang banyak yang lain mati dia mengusaai sendiri, usaha yang namanya monopoli kan gak bagus, mereka harus berkompetisi dan memberikan servis yang bagus, pengemudi yang sopan, mature, mobil bersih dan sudah di KIR, itulah ranah dikompetisi, harga itu yang wajar,” katanya.
        Selama diberlakukan Pemen No 32, dia juga meminta kepada jajaran kepolisian untuk tidak ada penindakanterkait pelanggaran-pelanggaran atas pasal yang dilakukan oleh pengemudi dua jenis angkutan tersebut.
        “Oleh karenanya dalam sosialisasi atau video conference bersama Kapolri, Kominfo dan sembilan Kapolda termasuk Kapolda Jateng dan Dishub, bahwasannya setelah diberlakukan tanggal 1 April jangan ada penindakan berkaitan dengan pasal itu, karena akan kita informasikan kapan batas pasal itu berlaku efektif,” katanya. (EL)

Tulis Komentar Pertama