Home Ekbis Mengupas Tembakau versi Cak Nun

Mengupas Tembakau versi Cak Nun

251
0
          SEMARANG, 6/12 (BeritaJateng.net) – Puncak peringatan Hari Tembakau Dunia atau World Tobacco Grower’s Day (WTGD) 2017 di Kota Semarang bakal ditutup dengan refleksi “Merti Tembakau” Ngaji Bareng Cak Nun & Kiai Kanjeng di Halaman Balai Kota Semarang, Rabu (6/12/2017) pukul 19.00- selesai. Sebelum Cak Nun dan Kiai Kanjeng, juga akan tampil kelompok musik kreatif Suluk Rampak Pertiwi sebagai pembuka.
           Rangkaian acara WTGD 2017 yang diselenggarakan oleh Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) bekerjasama dengan Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) Jawa Tengah tersebut berlangsung sejak 8 November – 6 Desember 2017. Sedikitnya ada lima masing-masing: Focus Group Discussion (FGD) Membongar Akar Pertembakuan, Meluruskan Tudingan Anti Tembakau, serta Faktor Ekonomi dan Warisan Tradisi Bangsa Indonesia. Selain itu, Media Trip Pelintingan Kretek, Pameran International Tobacco Cartoon Exhibition 2017, Lomba Jurnalistik dan Foto Save Our Future tingkat nasional dengan tema “Selamatkan Tembakau Nusantara”.
            “Merti Tembakau adalah acara puncak sebagai refleksi dan doa bersama masyarakat,” kata Abdul Mughis, Ketua Panitia World Tobacco Grower’s Day (WTGD) 2017 di Semarang, Selasa (5/12/2017).
Dalam acara Merti Tembakau tersebut, kata dia, juga akan ditampilkan kembali sejumlah karya kartun terbaik pameran “International Tobacco Cartoon Exhibition 2017” yang telah dihelat 20-21 November 2017 lalu menggandeng komunitas Gold Pencil, di Wisma Perdamaian Semarang. Dalam pemeran tersebut sedikitnya diikuti sebanyak 350 kartunis dari 35 negara dan terkumpul sebanyak 609 karya kartun.
           10 kartunis karya terbaik terpilih masing-masing: Vikram Nayak (India), Alexander Dubovsky (Ukraina), Oleksy Kustovsky (Ukraina), Musa Gumus (Turki), Luka Lagator (Montenegro), Arturo Rosas (Mexico), Lintang Dwi Pudyastuti (Indonesia), Jajak Ary Nugroho (Indonesia), Dien Yodha (Indonesia), dan Achmad Cholid (Indonesia).
            “Acara ini mengangkat tema ‘Selamatkan Petani Tembakau’ sebagai kampanye melindungi para petani tembakau Indonesia yang nasibnya terancam oleh kebijakan perintah,” terangnya.
            Selain itu, dalam acara Merti Tembakau tersebut juga akan diumumkan pemenang dan penyerahan hadiah Lomba Jurnalistik dan Foto Jurnalistik Nasional. Lomba ini diikuti oleh para peserta dari lintas daerah di Indonesia, mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Sulawesi, Sumatera dan lain-lain.
            “Ada sebanyak 38 karya jurnalistik mendalam dan 84 foto jurnalistik yang dinyatakan masuk nominasi penilaian oleh tim juri. Antusiasme masyarakat cukup tinggi, sebetulnya ada kurang lebih 400 karya jurnalistik yang dikirimkan peserta. Namun dewan juri menyatakan sejumlah karya peserta dinyatakan belum memenuhi syarat sebagai aturan yang telah ditetapkan tim panitia,” terangnya.
           Lebih lanjut, setiap karya membahas secara mendalam mengenai seluk-beluk tembakau nusantara dan perkembangannya. Karya jurnalistik tulis dan foto tersebut berusaha mengungkap fakta-fakta mengenai tembakau dilihat dari berbagai sudut pandang, baik tradisi budaya, sejarah, hingga kesehatan. “Berbicara mengenai persoalan tembakau memang selalu menjadi isu sensitif yang diikuti pro-kontra. Cak Nun, kami nilai sebagai tokoh budayawan nyentrik sekaligus bapak bangsa yang mampu menjernihkan dan meluruskan cara berpikir. Tentunya menggunakan sudut budaya dan agama,” katanya.
            Perwakilan Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI), Hananto Wibisono mengatakan, produk hasil tembakau di Indonesia mempunyai dimensi kepentingan yang amat besar antara lain dengan penerimaan cukai, pemerintah ikut merasakan kontribusi yang diberikan oleh industri rokok. “Di samping itu Industri Hasil Tembakau menghasilkan multiplier effect yang luas, bagi pendapatan petani, pekerja, dan sektor informal lain yang menegaskan bahwa semua peran industri hasil produk tembakau ini mutlak diperlukan,” ungkapnya.
            Pada 2003, kata Hananto, WHO membuat sebuah instrumen Internasional untuk pengendalian tembakau atau dikenal dengan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), telah membuat kontrol tembakau secara global yang cenderung merugikan para petani tembakau. Maka Asosiasi Petani Tembakau Indonesia (APTI) mendesak pemerintah untuk tidak mengaksesi FCTC.
           “Hari Petani Tembakau Dunia jatuh pada tanggal 29 Oktober sudah diperingati di belahan dunia sejak tahun 2010 oleh para petani tembakau di masing-masing negara yang tergabung ITGA (Asosiasi Petani tembakau Internasional) dengan maksud mengungkapkan suara keprihatinan petani tembakau dunia atas munculnya kerangka kerja WHO tersebut,” bebernya.
             Lebih lanjut, kata dia, pada COP 7 WHO di India, telah diputuskan dalam meeting tersebut, terdapat beberapa usulan yang mengancam kelestarian pertanian tembakau berikut industri turunannya, antara lain: konversi tanaman tembakau dengan tanaman alternative lainnya. “Tujuannya membatasi hubungan antara pemerintah dengan pemangku kepentingan industri tembakau, penerapan kemasan polos terhadap produk rokok,” katanya.
            Dari ketiga hasil rekomendasi tersebut, salah satu target utama yang akan dilaksanakan oleh para penggiat anti tembakau adalah membatasi hubungan komunikasi antara pemerintah dengan pemangku kepentingan industri tembakau. “Rekomendasi ini diperjuangkan para penggiat anti tembakau untuk memuluskan agenda mereka dalam mematikan sektor tembakau, terutama pada kegiatan On Farm. Salah satu contoh yang sudah dilakukan di Indonesia adalah tuduhan yang berlebihan terhadap adanya pekerja anak di pertanian tembakau tanpa melihat dan memberikan fakta yang obyektif, dan rekomendasi yang jelas bagaimana mengatasinya,”  lanjutnya.
             Di lain sisi, melalui kerangka FCTC, dengan menggunakan badan-badan PBB, seperti World Bank, WHO, UNICEF dan yang terbaru adalah bersama ILO di mana sedang dilaksanakan konvensi negara-negara anggota ILO untuk membicarakan pemutusan hubungan komunikasi antara pemerintah dengan Industri Hasil Tembakau. “Artinya jika terjadi dan diterapkan di Indonesia, maka keberadaan petani tembakau dan industri hasil tembakau akan mati. Atas dasar itulah, peringatan Hari Petani Tembakau Dunia tahun 2017 mengambil tema Selamatkan Tembakau Nusantara,” katanya.  (Bj/El)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here