Home Headline Mengakhiri “Tradisi” Banjir Jakarta

Mengakhiri “Tradisi” Banjir Jakarta

banjir jakarta

LIPUTAN KHUSUS

Situasi tidak nyaman sangat dirasakan warga Jakarta pada saat musim hujan seperti ini karena banjir pasti datang dan semua seolah tak berdaya kalau sudah terjadi.

“Tamu tak diundang” itu selalu saja datang meski upaya menghalaunya tak henti-hentinya dilakukan. Program dan proyek dengan alokasi anggaran yang tidak sedikit selalu ada sepanjang tahun. Namun upaya yang dilakukan sepertinya belum jitu sehingga banjir selalu menghampiri.

Sampai saat ini, hujan ringan (tak terlalu deras) sudah cukup menimbulkan banyak genangan di ibu kota, setidaknya di jalan-jalan raya. Yang lebih memprihatinkan, meskipun hanya genangan namun tidak mudah surut.

Sebut saja hujan pada Kamis (19/2) siang. Hanya sekitar setengah jam sudah menimbulkan banjir dan genangan di beberapa ruas jalan, seperti Gunung Sahari setinggi 40 sentimeter. Hal serupa terjadi pula di ruas Kwitang dari arah Patung Tani-Kebon Sirih.

Dengan posisinya berada di muara 13 sungai, pemimpin kerajaan di zaman dulu sudah memperkirakan bahwa wilayah ini sangat rawan banjir. Apalagi kalau rawa-rawa di sepanjang daerah aliran sungai (DAS) sebagai resapan berubah fungsi.

Berkaca dari keadaan itu, Belanda membangun Batavia dengan kanal-kanal yang panjang dan dalam jumlah banyak. Itu pun belum sepenuhnya bisa mengatasi banjir.

Kini perkembangan Jakarta sudah demikian pesat. Namun ada dampaknya sangat serius, yaitu beralihfungsinya DAS dan semakin sedikit jalur hijau sebagai resapan.

Ibaratnya “nasi sudah menjadi bubur” dan upaya mengatasi banjir di Jakarta menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Apalagi banjir pada 8-9 Februari 2015 bukan akibat luapan sungai, namun buruknya drainase yang semestinya bisa berfungsi baik mengalirkan genangan ke sungai.

Dengan adanya persoalan drainase itu, maka kini banjir di Jakarta bukan hanya akibat kiriman dari Bogor seperti selama ini. Jakarta dihadapkan pada “kepungan” banjir dari tiga sisi mata angin, yaitu selatan, utara dan atas.

Pertama, banjir kiriman dari Bogor (dari arah selatan). Kedua, banjir akibat buruknya drainase (kiriman dari atas). Ketiga, banjir akibat rob laut di wilayah utara Jakarta yang diperkirakan dan dikhawatirkan meluas karena adanya penurunan struktur tanah.

Itulah luar biasanya ancaman banjir di Jakarta hari-hari ini. Karena itu, dibutuhkan tindakan yang luar biasa pula untuk mengatasinya.

Publik sudah sangat rindu suasana dan situasi Jakarta bebas banjir. Namun suasana dan situasi itu baru sekadar khayalan dan mimpi, meski tak bosan-bosannya berharap bahwa hal itu bukan mustahil akan bisa diwujudkan di masa mendatang.

Identifikasi Masalah penyebab banjir di Jakarta sudah banyak diketahui publik. Jangankan pejabat Pemprov DKI dan pejabat negara lainnya, masyarakat juga sudah tahu. Bahkan cara penyelesaiannya juga sudah tahu.

Ancaman banjir dari selatan telah diantisipasi dengan normalisasi 13 sungai. Ancaman banjir dari atas (hujan) diantisipasi dengan pembersihan dan pelebaran drainase. Persoalannya ada pada seberapa optimal dan seberapa maksimal serta kecepatan langkah-langkah tersebut.

Sedangkan banjir dari utara akan dihalau dengan pembangunan tembok raksasa. Tapi entah kapan.

Publik yakin semua jajaran pemerintah punya komitmen dalam mengatasi banjir, namun seberapa optimal dan tepat sasaran, itu yang perlu dicermati.

Banyak pihak melihat semua instansi berkomitmen dalam mengatasi banjir. Namun publik menanti eksekusi atas rencana-rencana aksi yang lebih besar. Pembersihan dan pelebaran drainase perlu dilakukan, bahkan dibutuhkan sebuah operasi besar-besaran yang melibatkan semua pihak terkait.

Kalaupun untuk membebaskan Jakarta dari banjir butuh triliunan pun, bandingkan dengan data Kadin bahwa kerugian banjir pada 8-9 Februari lalu Rp1,5 triliun per hari. Di samping itu terganggunya kenyamanan aktivitas semua elemen di ibu kota yang tak ternilai secara nominal.

Publik yakin Pemprov DKI dan pemerintah pusat akan melakukan apa saja demi mengakhiri ancaman banjir. Pada saat yang sama, masyarakat juga perlu dipaksa agar tidak membuang sampah sembarang karena sudah terbukti drainase-drainase tersumbat sampah pula.

Pemprov DKI telah berhasil membebaskan jalur busway dari mobil pribadi dan motor dengan ancaman sanksi tilang dan denda Rp500 ribu. Sanksi sangat keras bagi pembuang sampah sembarangan niscaya bisa membebaskan drainase dari sumbatan sampah.

Sodetan Ketegasan dan mengeksekusi rencana aksi dalam penggulangan bencana banjir di ibu kota perlu terus diwujudkan. Salah satunya adalah mengurangi debit Kali Ciliwung dengan membuat saluran pengalihan aliran air ke Kanal Banjir Timur (KBT).

Penyodetan ini dilakukan dengan pertimbangan faktual bahwa ketika Ciliwung meluap, KBT tetap dalam keadaan kosong.

Eksekusi atas rencana aksi telah diawali oleh Presiden Joko Widodo melalui peresmian Proyek Pembangunan Sodetan Kali Ciliwung ke KBT di Kebon Nanas, Jakarta Timur, Rabu (18/2). Saat itu, Presiden didampingi Menteri PU Basuki Hadimuljono serta Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Proyek ini dikerjakan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) melalui PT Wijaya Karya.

Sodetan Kali Ciliwung ke KBT memiliki diameter 3,5 meter dan total panjang 1,27 kilometer. Sodetan dibangun dari dua titik, yakni titik masuk (inlet) yang berada di Bidara China atau tepatnya di belakang Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) melalui Jalan Sensus dan titik keluar (outlet) terletak di Kali Cipinang, kawasan Cipinang Besar Selatan.

Presiden meminta seluruh proyek atau langkah-langkah penanggulangan bencana banjir di ibu kota dilaksanakan sesegera mungkin. “Bukan hanya kepada gubernur, tetapi juga kementerian-kementerian terkait agar melaksanakan pekerjaan antisipasi banjir secepatnya. Karena kita juga kejar-kejaran dengan musim hujan,” kata Presiden.

Itulah sebabnya Proyek Pembangunan Sodetan Kali Ciliwung ke Kanal Banjir Timur harus selesai seluruhnya pada Oktober 2015. Dalam perencanaannya proyek ini selesai pada Desember 2015. Tapi Presiden minta dipercepat pengerjaannya supaya bisa selesai pada Oktober 2015.

“Tadi saya sudah sampaikan kepada Pak Menteri PU dan Pak Dirjen supaya pengerjaan sodetan ini dipercepat. Karena kita ingin saat memasuki musim hujan, banjir bisa teratasi dengan baik,” Presiden.

Apabila proyek tersebut bisa rampung sebelum Jakarta kembali memasuki musim hujan, maka volume air di Kali Ciliwung bisa dikurangi dan dialihkan ke KBT.

“Kita berharap pekerjaan ini bisa selesai sekaligus dioperasikan sebelum memasuki musim hujan tahun ini. Sodetan itu bisa membantu mengurangi volume air di Kali Ciliwung,” kata Presiden.

Pada saat yang sama, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta segera memperlebar saluran air atau drainase yang tersebar di seluruh wilayah ibu kota.

“Kapasitas drainase kita memang sudah tidak bisa lagi menampung banyak air. Makanya perlu diperbarui sehingga kapasitasnya juga semakin besar,” kata Ahok.

Hal itu sesuai instruksi Presiden Jokowi supaya drainase dilebarkan dan diperdalam. “Caranya juga bukan dengan dicangkul, tapi melalui pengeboran. Jadi dibuat terowongan dulu di bawah tanah,” kata Ahok. (ant/BJ)

Advertisements