Home Ekbis Melemahnya Rupiah Karena Penggunaan Dollar Lebih Dominan

Melemahnya Rupiah Karena Penggunaan Dollar Lebih Dominan

Ilustrasi

Solo,9/1 (Beritajateng.net)- Pengamat ekonomi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, Malik Cahyadi, mengatakan menguatnya dolar atas rupiah salah satunya pemicunya adalah masih banyak bahan baku produksi di Indonesia yang masim import.

Praktis mata uang yang digunakan adalah dollar. Termasuk utang swasta juga menggunakan dollar. Import BBM juga menggunkan dolar sehingga dolar menjadi  lebih dominan

“Harusnya pemerintah juga  bisa melakukan pengendalian import bahan baku industri dalam bentuk dolar dan juga percepatan infrastruktur,” jelas Malik saat ditemui di Solo, Jawa Tengah, Jumat (9/1/2015).

Salah satu contohnya adalah dalam industri Tekstil dan Produk Tesktil. (TPT) yang harus mengimport kapas dari luar negeri. Sebab kualitas kapas dalam negeri tidak sesuai standart yang diharapkan.

“Persoalannya apakah harus import? Tidak bisakah jika di salah satu wilayah Indonesia dijadikan klaster penghasil kapas dan benang,” tanyanya.

Malik juga mengakui Jika memang harus import pastinya butuh dolar yang tidak sedikit. Akibatnya rupiah juga tetap  sulit untuk menguat. Terlebih lagi  pada saat bersamaan banyak  perusahaan-perusahaan swasta  juga  melakukan pembayaran utang luar negeri yang juga menggunakan dolar.

Pemerintah menilai dengan  meningkatkan pertumbuhan ekonomi diharapkan bisa untuk  meningkatkan ekspor itu hal yang tidak masuk akal.

Pada saat presiden menggenjot pertumbuhan ekonomi, presiden juga harus memikirkan darimana bahan baku dan tekhnologi di peroleh.
Sedangkan selama ini bahan baku dan juga tekhnologinya kebanyakan berasal dari luar negeri.

“Pastinya hal tersebut jelas  membunuh rupiah. Karena Indonesia membutuhkan banyak dolar untuk memesan bahan baku dan mendatangkan tekhnologi dari luar,” urainya.

Mewujudkan stabilisasi  ekonomi yang paling utama. Mengendalikan utang swasta dengan di dominasi dolar, dan juga pengendalian imporortasi bahan baku dari dominasi dolar.

Jika pemerintah fokus untuk stabilisasi ekonomi dengan membangun perguruan tinggi dan sekolah untuk menghadapi persaingan pasar itu jauh lebih baik.

“Jadi intinya kita fokus untuk menjual SDM unggul dari pada kita harus fokus mengejar pertumbuhan ekonomi tujuh persen,” tegasnya.

Jika tidak hati-hati dalam menetapkan posisi maka Indonesia bisa jadi korban Asean Community dan pasar global yang didominasi dolar. (BJ24)