Home Lintas Jateng Mbah Bejo: Kebakaran Pasar Johar Karena Kemarahan “Naga” Pangeran Bubakan

Mbah Bejo: Kebakaran Pasar Johar Karena Kemarahan “Naga” Pangeran Bubakan

9437
mbah bejo

Semarang, 10/5 (BeritaJateng.net) – Penampakan sosok naga yang tertangkap kamera pada kebakaran Pasar Johar Semarang Sabtu (9/5) malam dinilai paranormal Mbah Bejo merupakan wujud ekspresi kemarahan penunggu kawasan Pasar Johar dan sekitarnya.

Sosok naga bermahkota yang menurut Mbah Bejo bernama Pangeran Bubakan, marah karena para pemimpin Kota Semarang melupakan jatidiri dan asal usul serta budaya asli dalam membangun Kota Semarang.

“Sang pemangku kekuasaan lupa akanPurwo Madyo Wasono. Mereka lebih melihat ke atas (Modernitas) dan lupa melihat ke bawah (jatidiri dan asal usul),” ungkapnya saat ditemui di kediamannya kawasan Pedurungan Semarang, Minggu (10/5).

Menurut Mbah Bejo, salah satu jatidiri Kota Semarang yang “lupa” dan tidak diperhatikan dalam pembangunan adalah kawasan Bubakan. Padahal di kawasan ini dalam penerawangan dia merupakan cikal bakal adanya Kota Semarang. Di wilayah ini pula Kyai Ageng Pandanaran menancapkan tongkat saktinya sebagai penanda daerah yang kemudian dikembangkan sebagai kota Semarang.

“Tongkat sakti tersebut yang sering berwujud sebagai naga bermahkota atau kadang juga berwujud sebagai orang tua yang sering muncul dan memberi petuah kepada pedagang di Pasar Johar,” katanya.

Lebih lanjut Mbah Bejo yang dikenal sebagai penjinak dedemit Lawang Sewu ini mengatakan, peristiwa kebakaran yang melanda Pasar Johar juga disebabkan kegerahan Pangeran Bubakan atas memanasnya suhu politik menjelang pelaksanaan pilkada 9 Desember mendatang.

Suasana panas yang antara lain ditandai dengan kasus kasus hukum yang digulirkan untuk menjatuhkan bakal calon walikota yang muncul dan kembalinya mantan penguasa yang akan bertarung merupakan salah satu hal yang menyita perhatian masyarakat.

Kebakaran yang melanda Pasar Johar, tambah Mbah Bejo, sebenarnya ada kaitannya dengan pertanda yang muncul beberapa waktu yang lalu ketika pagelaran Wayang Kulit yang menghadirkan dalang kondang Ki Manteb Sudharsono yang membawakan lakon Wahyu Makutoromo, dimana pagelaran tersebut tidak selesai dengan tuntas mengingat ambruknya panggung karena diterpa hujan angin.
“Peristiwa tersebut merupakan tanda tanda alam yang tidak disikapi oleh penguasa Kota Semarang.” jelasnya.

Rangkaian kejadian tersebut, menurut Mbah Bejo, harus menjadi bahan mawas diri dan disikapi dengan bijak agar tidak terjadi musibah yang lebih besar di kemudian hari. (BJ013)

1 COMMENT

  1. Mungkin dari segi gosip pandangan masyarakat adanya unsur kesengajaan di bakar, tujuannya untuk membangun kembali pasar agar tertata rapi dan bersih, krn mengingat pedagang yg biasanya susah di atur / di pindahkan lokasi sementara

Comments are closed.