Home Life Style Mangrove Tapak Berpotensi Jadi Wadah Edukasi Siswa Sekolah

Mangrove Tapak Berpotensi Jadi Wadah Edukasi Siswa Sekolah

382
0

Semarang, 26/9 (BeritaJateng.net) – Ekoeduwisata menjadi kegiatan perdana bagi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Mangrove Bina Tapak Lestari yang berada di Kawasan Mangrove Tapak, Tugurejo, Tugu, Semarang pada Sabtu (26/9) siang. Pokdarwis berperan menaungi semua elemen yang di dalamnya terdapat nelayan, masyarakat tambak dan petani tambak.

Selain itu, kegiatan ekoeduwisata juga meliputi aktivitas menyusuri sungai, penanaman mangrove, pemberian makan dan panen ikan bandeng, serta diskusi. Menariknya, kegiatan ekoeduwisata ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi anak sekolah dari Paud hingga SMA. Mereka mempelajari biota-biota sungai, tanaman mangrove dan ekosistemnya. Mereka juga diajak menyusuri sungai dan belajar potensi yang ada di daerah Tapak kawasan Tugurejo tersebut.

“Para siswa dapat mengambil manfaat dari hasil ekoeduwisata mangrove yang sudah digalakkan sejak tahun 2010 lalu. Kita ingin virus-virus cinta lingkungan tersebar kepada masyarakat luas. Dari sini timbul kesadaran untuk aktif dan belajar ekosistem mangrove,” ujar Koodinator Pokdarwis, Arifin, Sabtu (26/9) siang.

Para siswa dari usia Paud hingga SD dikenakan tarif Rp 30rb per kepala. Dari tarif tersebut, mereka akan dimanjakan dengan menyusuri pantai mangrove menggunakan perahu, ada guide dan pembimbing wisata serta fasilitas makanan ringan.

Rofiq selaku anggota dari komunitas Pemuda Tapak, juga menambahkan manfaat dari mangrove karena memiliki rantai makanan. Adanya interaksi ekosistem, seperti burung, ikan dan kepiting.

“Banyak sekali teman-teman yang tidak tahu cara budidaya ikan bandeng. Padahal setiap hari bisa jadi sering mengkonsumsinya,” tutur Rofiq.

Dari kegiatan ekoeduwisata ini, lanjut Rofik, ada diskusi, masukan dan evaluasi dari Dinas Pariwisata dan perusahaan yang hadir. Sehingga dari Pokdarwis, nelayan, kelompok pemuda serta ibu-ibu masyarakat Tapak yang menjual makanan pun bisa ikut dipasarkan produk olahannya dari pantai mangrove ini.

“Semarang merupakan kota Pantai, kota pesisir maka harus dikembangkan. Kita juga berencana menanam pohon agar pengunjung tidak kepanasan. Karena jarak tempat parkir dan pantai cukup jauh,” imbuhnya.

Kepala Bidang Pemasaran Dinas Pariwisata, Niken mengaku sangat mengapresiasi dan berharap Pokdarwis selalu bersinergi dengan stage holder. Supaya keberadaan mangrove Tapak bisa menjadi objek wisata baru di Kota Semarang. Dia juga menilai, saat ini pokdarwis semajin maju dan kreatif. Harapannya bisa terus berkembang dengan berbagai pembinaan. Dia juga melihat mangrove Tapak masih berupa wisata alam namun juga bisa ditingkatkan menjadi wisata edukasi.

“Salah satunya edukasi cara menanam mangrove bagi pelajar SD, SMP dan SMA,” papar Niken.

FB_IMG_1443277215378

Sementara itu, Joko Suratno, selaku Managing Director Ataya Tour juga memberikan masukan bagi pokdarwis managemen, sarana dan prasarana yang masih perlu diperbaiki. Toilet yang perlu diberbanyak dan dibersihkan, tempat foto harus disediakan, atraksi memanggil burung yang harus benar-benar terkonsep.

“Membandingkan dengan tanaman mangrove yang ada di Jakarta dan Surabaya, dilengkapi dengan bambu-bambu menjadi lebih menarik dan bagus. Ini kan konsepnya konservasi, tetapi panen bandengnya tadi sensasinya belum dapat,” papar Joko.

Menurut Joko, perlu perbaikan management, sehingga saat datang kembali dengan tim khusus yang mengemas paket wisata bisa layak jual. (BJT01)