Home Ekbis Manfaat Teknologi Nuklir, Mulai dari Kesehatan, Industri hingga Pertanian

Manfaat Teknologi Nuklir, Mulai dari Kesehatan, Industri hingga Pertanian

1466
0
        Semarang, 11/10 (BeritaJateng.net) – Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) berkomitmen untuk mensosialisasikan dampak positif dari pemanfaatan teknologi nuklir yang masih kerap disalahartikan. Termasuk di dalamnya pemanfaatan nuklir di bidang kesehatan, industri hingga pertanian.
       Kepala BAPETEN Jazi Eko Listyanto mengatakan, selama ini persepsi salah akan teknologi nuklir masih bertebaran di masyarakat. Kebanyakan dari mereka, lanjutnya, merasa panik atau takut sendiri saat mendengar ada penerapan teknologi nuklir di sekitar daerah mereka tinggal.
       “Orang takut karena pertama kali dikenalkan dengan bom atom. Konotasinya langsung bom. Padahal kita nggak bisa lepas dari yang namanya radiasi nuklir. Di ruangan ini ada, selama ada gypsum itu ada radioaktif. Kita kena, minum kopi empat lima cangkir, itu radioaktif,” katanya saat jumpa pers penganugerahan BSSA Tahun 2018 di Hotel Novotel, Semarang, Rabu (10/10).
       Akan tetapi, Jazi menambahkan, apabila semua itu semua sesuai dosisnya maka tak akan membahayakan makhluk hidup di sekitarnya. BAPETAN pun dalam hal ini turut mengawasi. Maka, yang perlu diperhatikan kemudian adalah soal sosialosasi akan pemanfaatan teknologi nuklir itu sendiri.
         “Yang harus diubah adalah persepsi kita. Makanya kita melibatkan bapak-bapak dari NU dan Muhammadiyah, sementara baru dua organisasi besar itu untuk mengkomunikasikan kepada masyarakat,” sambungnya.
        Sementara itu, Direktur Perizinan Fasilitas Radiasi dan Zat Radioaktif (DPFRZR), Zainal Arifin berujar, dalam memastikan keamanan pemanfaatan teknologi nuklir, BAPETEN ditugasi untuk melakukan inspeksi kepada pengguna. Seperti diatur dalam UU Nomor 10 Tahun 1997 tentang ketenaganukliran.
       “BAPETEN melakukan inspeksi on the spot dan partisipatif, yakni pengguna (teknologi nuklir) melapor ke BAPETEN,” katanya. Pihak pengguna tersebut antara lain mereka yang memanfaatkan teknologi nuklir pada bidang medis, industri, serta riset milik pemerintah maupun swasta.
        “Jadi ada nilai yang disebut dengan uji kesesuaian. Jadi kalau peralatan (digunakan untuk pemanfaatan teknologi nuklir) itu memang layak, maka akan diberi izin. Kalau (menghasilkan) dosisnya (radiasi) berlebih ya nggak diberi izin, bahkan kalau ada alat itu menyimpang dari standar, maka tak diberi izin,” cetusnya. (El)