Home News Update Makna Hari Ibu Bagi Aktris Senior Ayu Dyah Pasha

Makna Hari Ibu Bagi Aktris Senior Ayu Dyah Pasha

Semarang, 22/12 (BeritaJateng.net) – Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada tanggal 22 Desember dan ditetapkan sebagai perayaan nasional. Hari Ibu merupakan hari peringatan atau perayaan terhadap peran seorang ibu dalam keluarganya, baik untuk suami, anak-anak, maupun lingkungan sosialnya.

Bagi Ayu Dyah Pasha, hari ibu merupakan momentum untuk mengingatkan dan mengapresiasi kaum ibu, bahwa sosok ibu merupakan tonggak penting bagi kekokohan keluarga.

“Karena keluarga yang kuat menghasilkan masyarakat yang kuat. Masyarakat yang kuat menghasilkan bangsa yang kuat,” ujar Aktris Senior Indonesia yang berusia 51 tahun ini saat diwawancarai di Unimus.

Menurutnya, momentum hari ibu adalah wujud daripada apresiasi karena dirinya seorang perempuan yang juga seorang ibu. Merefleksi apa yang belum sempurna dan apa yang bisa disempurnakan.

Ibu dari dua orang anak yang lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, 4 Februari 1964 ini memaknai hari ibu dengan memberikan kesempatan untuk mengapresiasi ibu-ibu lain.

“Kalau bisa jangan hanya euforia perayaannya saja tetapi juga bisa memberikan tempat kepada kaum ibu untuk bisa berekspresi dan mengaktualisasikan diri,” ujar aktris yang dikenal luas dalam peran-perannya di dunia sinetron Indonesia tersebut.

Yang terpenting menurut pemain film ‘Dunia Mereka’ pada tahun 2006 ini, dari diri sendiri bisa memulainya dengan menjaga harkat wanita sebagai seorang ibu. Karena memang, sosok ibu bisa menjadi tokoh sentral dalam sebuah keluarga yang berfungsi sebagai pemersatu.

“Kalau ibunya kuat Insya Allah keluarganya juga kuat. Anak-anak juga tumbuh menjadi anak yang kuat. Ibu yang tidak hanya cantik tetapi juga sehat dan cerdas,” tuturnya.

Ia juga berpesan kepada kaum wanita muda yang belum menikah untuk dapat memanfaatkan waktu yang ada dengan belajar sebaik-baiknya. Mengembangkan potensi yang dipunyai karena kalau nantinya ingin bekerja harus siap menjalankan peran ganda.

“Diperlukan adanya kematangan. Tidak hanya menikah lantas punya anak. Perlu memahami apa maksud dan tujuan dari menikah. Bukan sekedar mengikuti arus untuk menikah dan punya anak. Mereka perlu tahu tujuan memiliki sebuah keluarga. Bagaimana mereka berusaha agar keluarga terus berlanjut sehingga anak-anak tidak menjadi korban dari keluarga tanpa pondasi yang kuat,” pesannya.

Memilih menjadi ibu yang bekerja di luar rumah jelas tidak bisa dilakukan sendiri. Ayu menambahkan, keputusan itu diambil bersama dalam sebuah keluarga.

“Komitmen saya menjadi ibu yang bekerja apakah calon suami saya menerima atau tidak, ikhlas atau tidak dan harus disepakati bersama,” ungkapnya.

Kemudian menikah, dan harus dijaga bersama. Sosok ayah tidak bisa digantikan. Namun ada saat dimana seorang ibu bisa menggantikan fungsi dan peran ayah. Anak-anak juga harus ditanya keberatan atau tidak jika ibunya bekerja.

Menanggapi sosok Ibu yang menjadi ‘single parents’, Ayu sangat mengapresiasi, karena hal itu bukan perkara mudah. Anak-anak harus mengerti. Anak-anak harus mandiri bukan hanya menyalahkan ibunya. Semua itu terjadi karena keadaan.

Ayu juga memberikan motivasi dan inspirasi bagi kaum ibu.

“Jadilah ibu yang terus mengembangkan potensi yang dimiliki agar terus mengikuti perkembangan jaman dan pergaulan anak-anak, terus mendampingi suami, serta mampu berkarir dengan pengetahuan yang cukup,” pungkasnya. (BJT01)