Home News Update Mahasiswa UPGRIS Pecahkan Rekor MURI Membatik Teknik Ikat Celup Terbanyak

Mahasiswa UPGRIS Pecahkan Rekor MURI Membatik Teknik Ikat Celup Terbanyak

43
0
Mahasiswa UPGRIS Pecahkan Rekor MURI Membatik Teknik Ikat Celup Terbanyak

Semarang, 14/9 (BeritaJateng.net) – Sebanyak 2.251 mahasiswa baru Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berhasil memecahkan rekor MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia) yakni membatik dengan teknik ikat celup oleh mahasiswa terbanyak, di Lapangan Kampus IV UPGRIS, Rabu (13/9) kemarin.

Senior Manager Muri Widayati mengatakan jika pemecahan rekor MURI itu dilakukan ribuan mahasiswa melalui media kaos dengan melibatkan sebanyak 2.251 mahasiswa. Para mahasiswa ini berhasil memecahkan catatan rekor sebelumnya yang dilakukan 1.532 peserta Jawajawijava di Jakarta pada 19 Februari 2011 lalu.

“Rekor baru ini tercipta setelah dilakukan verifikasi dan penghitungan, hasilnya bisa memecahkan rektor serupa pada tahun 2011 lalu,” katanya.

Ia menambahkan, batik merupakan salah satu kain warisan budaya yang harus dilestarikan. Selain itu, batik juga telah menjadi identitas dan jati diri bangsa Indonesia, dengan berbagai macam teknik dan proses untuk membuat motif dan corak masing-masing. “Proses pembuatannya bisa menggunakan canting, ataupun dengan teknik celup ikat,” tambahnya.

Wida menyebutkan, UPGRIS dalam kesempatan kali ini telah mencatatkan prestasinya di MURI untuk kedua belas kalinya. Dia berharap, ke depannya para mahasiswa terus berkarya dengan menunjukkan prestasi terbaik di bidangnya masing-masing. “Kali pertama tercatat adalah pembuatan Toga terbesar ditahun 2007, kami harap inovasi terus dilakukan agar tercipta rekor baru,” harapnya.

Rektor UPGRIS, Dr Muhdi menambahkan, jika pemecahan rekor MURI yang diciptakan mahasiswanya tersebut bukanlah sekedar rekor. Namun bisa menjadi saran edukasi dan sosialiasi kepada masyarakat luas mengenai keragaman batik agar lebih dicintai. “Saya harap bukan hanya memecahkan rekor saja, namun busa menjadi edukasi kepada masyarakat luas jika batik itu tetap keren. Bahkan generasi muda yang memakai pun tidak akan kehilangan gaya mudanya, karena batik cocok digunakan siapa saja,” tegasnya.

Disinggung banyaknya rekor MURI yang diciptakan oleh UPGRIS, pihaknya mengaku sama sekali tak pernah menargetkan, karena setiap ada pemecaham rekor baru, adalah insiasi atau ide dari mahasiswanya. “Kalau target tidak ada, kadang pernah kosong dalam setahun, namun kadang ada aja ide-ide yang muncul sehingga rekor bisa tercipta,” ucapnya.

Ia pun sangat mengapresiasi dan siap menjembatani ide kreatif dan positif dari mahasiwa UPGRIS. Bahkan Muhdi juga mendukung aspirasi para mahasiswa yang dimotori badan eksekutif mahasiswa (BEM) untuk membuat aturan UPGRIS berbatik. “Nantinya pada setiap hari Kamis, mahasiswa akan memakai batik,” ujarnya. (EL)