Home Kesehatan Mahasiswa Undip Kenalkan “BATIK TRAP” untuk Cegah DBD

Mahasiswa Undip Kenalkan “BATIK TRAP” untuk Cegah DBD

571

Semarang, 27/11 (BeritaJateng.net) – Tim Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) 18 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undip di Kelurahan Banyumanik, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, baru-baru ini melakukan gerakan pemberdayaan masyarakat untuk berantas jentik DBD. Senin, 23 November 2015 yang bertempat di lingkungan RW 5 Kelurahan Banyumanik.

Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk intervensi ke masyarakat mengenai kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang semakin meningkat. Peserta meliputi seluruh perwakilan masing-masing RT, RW, DAWIS (Dasa Wisma), PKK, dan warga sekitar. Serta turut hadir pula perwakilan dari tenaga kesehatan Puskesmas Srondol dan POKJA IV yang fokus membawahi program kesehatan, kelestarian lingkungan dan perencanaan kesehatan.

“Sosialisasi mengenai pemberantasan sarang jentik ini sangat bermanfaat bagi warga. Melihat kasus DBD yang masih tinggi. Terlebih ABJ (Angka Bebas Jentik) yang mengalami penurunan,” ungkap Bu Dewi selaku Koordinator program DBD dari Puskesmas Srondol, Banyumanik.

BATIK TRAP yakni singkatan dari “Banyumanik Berantas Jentik dengan Ovitrap” harapannya akan menjadi brand bagi masyarakat untuk lebih mengenal teknologi sederhana yaitu ovitrap. Ovitrap sendiri merupakan perangkap nyamuk sederhana yang bisa dibuat sendiri dengan biaya murah dan bahan yang mudah didapat. Untuk membuatnya hanya memerlukan botol bekas berukuran 1,5 liter, plastik hitam, solasi, kain kasa atau bisa diganti dengan kertas saring, gunting, gula merah, ragi, dan air panas. Bahan ragi dan gula merah juga bisa diganti dengan air rendaman jerami.

UNDIP

Kegiatan yang berbasis masyarakat tersebut bertujuan untuk terciptanya sistem kewaspadaan dan kesiapsiagaan dini di masyarakat terhadap kemungkinan terjadinya penyakit DBD. Selain itu, melalui kegiatan tersebut diharapkan dapat memantau sekaligus mengantisipasi munculnya kasus DBD. Dan yang tak kalah penting adalah masyarakat bisa memanfaatkan barang-barang bekas yang tidak terpakai menjadi hal yang berguna.

Risma selaku Koordinator Acara dalam pelatihan “BATIK TRAP” menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan salah satu bentuk solusi untuk membantu memutus rantai kehidupan nyamuk Aedes aegypti.

“Kegiatan ini juga sebagai tahapan penting untuk menunjang kompetensi seorang mahasiswa Kesehatan Masyarakat. Hal ini dikarenakan mahasiswa juga dituntut untuk menjadi seorang problem solver, yakni mampu mengidentifikasi masalah, memprioritaskan masalah dan memberikan solusi nyata untuk menyelesaikan masalah yang ada,” tambahnya. (*)