Home News Update Mahasiswa Undip Gelar Legal Coaching Clinic

Mahasiswa Undip Gelar Legal Coaching Clinic

613
0

Semarang, 28/11 (BeritaJateng.net) – Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) yang tergabung dalam Asian Law Students’ Association (ALSA) Semarang menggelar Legal Coaching Clinic dengan tema ‘Menilik Problematika Penanggulangan dan Regulasi Dalam Menciptakan Kawasan Bebas Banjir Rob’ di Desa Tapak Kawasan Tugurejo, Sabtu (28/11).

Dihadiri oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) kota Semarang, Sri Wahyuni, S.H., M.M, BPBD kota Semarang, Ir. Suhardjono., M.Eng, Akademisi Undip Ir. Winardi Dwi Nugraha, Ketua RW 04 Desa Tapak Kecamatan Tugu, Bapak Jumari, serta seluruh warga Tapak RT 1-6, Perwakilan petani tambak dan kelompok nelayan.

Selain itu hadir pula Vice President Academic Activity ALSA Indonesia, Marvin Oktavdio, Vice President Eksternal Affairs, Natasya Nurul Amalia, dan Vice President Internal Affairs, Santun Gunadi.

Pada kesempatan itu, Sri Wahyuni memaparkan bahwa penyebab banjir secara umum dan banyaknya sungai yang meluap, disebabkan oleh curah hujan yang tinggi. Permasalahan yang terjadi di wilayah pesisir kota Semarang juga menjadi pemicu banjir dan rob.

“Bisa karena perubahan fungsi lahan dan industrialisasi serta abrasi air pantai dan perubahan iklim,” terang Sri Wahyuni.

Dari BLH kota Semarang berupaya mengurangi banjir di Semarang dengan pemanfaatan air hujan, mengupayakan resapan air di daerah yang tinggi. Tujuannya untuk mengurangi banjir di kota bagian bawah.

Ir. Suhardjono menambahkan dan menjelaskan di Indonesia bencana alam banyak macamnya.

Undip

“Kita dikenal sebagai ‘supermarket’ dan laboratoriun bencana, banyak penelitian yang khusus mengkaji tentang banjir rob Semarang. Tidak hanya mahasiswa lokal, mahasiswa luar negeri juga meneliti kejadian banjir di Semarang,” ujar Suhardjono.

Sementara Winardi mengungkapkan jika para ahli telah melakukan penelitian terakhir di Semarang. Dan yang terjadi saat ini di Semarang permukaan air tanahnya turun atau ambles.

“Ancaman bagi kita semua, efek sosial dari daerah yang terkena rob, rumah-rumahnya setiap tahun ditinggikan halaman depannya. Sudah menjadi ancaman nyata bencana kehidupan dan ini tanggung jawab kita semua,” tuturnya.

Winardi menambahkan warga Semarang yang seharusnya mendapatkan air bersih menjadi tercemar kebersihannya akibat banjir rob.

Mahasiswa S1 Fakultas Hukum Undip yang sekaligus bertindak sebagai ketua pelaksana, Said Fakhri menuturkan kegiatan ini sebagai bentuk sosialisasi hukum berkaitan dengan banjir rob dan penanaman bibit mangrove.

“Berdasarkan Peraturan Daerah (Perda) No. 11 Tahun 2014 pasal 73, kecamatan Tugu merupakan daerah rawan banjir rob. Implementasi dari pasal 74, berupa penghijauan kawasan pantai, salah satunya melalui kegiatan penanaman seribu bibit mangrove ini,” terang Said.

Said berharap kegiatan ini bisa bermanfaat secara nyata bagi masyarakat, khususnya desa Tapak, kawasan Tugurejo Semarang. (BJT01)