Home News Update Mahasiswa FKIP Unissula Perlu Belajar Jadi Pewara Bermutu

Mahasiswa FKIP Unissula Perlu Belajar Jadi Pewara Bermutu

679

Semarang, 29/1 (BeritaJateng.net) – Mendapat informasi merupakan hak asasi dan kebutuhan sejak lahir manusia. Oleh karena itu pembawa acara (Pewara) dalam menyampaikan informasi dituntut mempertimbangkan aspek keadilan. Pewara yang bermutu dan berkualitas mempunyai nilai-nilai yang baik, dan nilai-nilai moral bangsa beradab.

Pewara juga harus berkepribadian dalam menjaga kebudayaan untuk membangun Indonesia dalam kebudayaan. Hal ini disampaikan Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Prof. Dr. H. Gunarto., M.Hum saat membuka Workshop Kepewaraan dan Kepenyiaran di Ruang 305 FKIP Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Kamis (28/1).

Gunarto mengatakan setiap pewara sebaiknya juga menghadirkan hiburan disisi selain juga pendidikan. Penyiar yang bagus mampu menghadirkan kontrol sosial.

“Tujuannya adalah mampu mengitegrasikan wilayah Indonesia dan memahami bahwa kita ini bangsa yang majemuk,” tuturnya kepada seluruh mahasiswa FKIP semester 1, 3, 5 dan 7 yang hadir.

Sehingga nantinya pewara ini bisa memberikan kontribusi pada tingkat regional, nasional bahkan internasional. Memberikan kontribusi di bidang kepenyiaran, karena menurutnya, pewara yang baik bahasanya harus baik dan suaranya bagus.

Senada dengan Gunarto, ketua penyelenggara workshop, Lely Setia Nisfi., M.Pd juga menjelaskan pentingnya penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar sebagai pewara.

“Harapannya, workshop ini membuat mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia memberikan sumbangsih untuk menjadi seorang pewara yang cekatan, cerdas dan humoris,” ujar Lely.

Kepala Balai Bahasa Jawa Tengah, Drs. Pardi., M.Hum sebagai narasumber dalam workshop tersebut menjelaskan bahwa pewara merupakan sebuah profesi yang membanggakan, seperti halnya ustadz yang mempengaruhi masyarakat melalui media kata-kata.

“Semua dapat dicapai dengan latihan dan terus belajar,” terang Pardi, Kamis (28/1).

Jadi bukan karena faktor bawaan, lanjut Pardi, tetapi karena belajar. Menjadi pewara tidak harus cantik atau tampan, cukup dengan penampilan menarik dan cerdas semua orang mempunyai kesempatan untuk menjadi pewara.

Pardi menyebutkan, ada beberapa etika yang harus diperhatikan ketika menjadi pewara, mulai dari etika berpenampilan, bertutur kata, dan berwibawa sehingga orang-orang dalam acara tersebut juga ikut bermartabat.

“Tugas pewara harus benar-benar diperhatikan, mulai dari menyusun acara, berkomunikasi dengan pemilik acara, menginformasikan acara, dan menutup acara dengan baik, sopan, dan santun,” jelasnya lagi.

Pardi menambahkan jika kesuksesan seseorang dipengaruhi oleh 90 persen keahlian dalam berkomunikasi, dan 80 persen dari hubungan baik.

Sementara itu, Kepala Radio Unisa, Khoirul Huda., M.Ag yang juga bertindak sebagai narasumber menerangkan bahwa seorang pewara saat berdakwah dalam radio harus mengingat tiga pilar penting seperti
isi dakwah, kualitas suara dan intelektual yang tinggi.

“Ciri pewara yg baik harus memiliki sifat humoris, sabar, cerdas dan kreatif serta rendah hati,” terang Huda. (BJT01)