Home News Update Mahasiswa Baru Udinus Ciptakan Karya Independent Film Pendek

Mahasiswa Baru Udinus Ciptakan Karya Independent Film Pendek

Semarang, 16/12 (BeritaJateng.net) – Mahasiswa Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang Jurusan Broadcasting yang tergabung dalam komunitas Seni Peran Film Indonesia (SPFI) dengan bangga mempersembahkan lima karya film pendek bertempat di Gedung B. 5, Rabu (16/12).

SPFI sendiri berdiri mulai tahun 2013 lalu yang dipelopori oleh Sofyan Yeah dan awalnya berupa sanggar umum hingga menjadi komunitas di kalangan mahasiswa. Semua kalangan bisa bergabung dalam komunitas ini, baik tua, muda dan  lebih luas lagi. Nantinya akan ditampung untuk berlatih bersama dalam memproduksi film.

Sedikitnya ada 150 peserta yang hadir dalam pemutaran lima karya film pendek ini. Semuanya merupakan hasil karya dari Mahasiswa Baru Semester 1 jurusan broadcasting Udinus.

Hadir pula sebagai penilai sekaligus mengkritisi film pendek karya maba ini, diantaranya Amanu Romli selaku Dosen Etika Penyiaran, Suhariyanto., M. Kom sebagai Ketua Jurusan Broadcasting, serta Agus Triyono., MSi sebagi Dosen Creative and Inovative Thinking.

Amanu menilai apapun yang dibuat mahasiswa menunjukkan mereka punya talenta yang besar. Berdasarkan pengamatannya yang menjadi juara adalah film dengan judul ‘Cahaya Dalam Bentik’.

“Ada yang gambarnya bagus cuma jalan ceritanya kurang mengena,” ujar Amanu saat mengkritisi lima film pendek ini.

Menurutnya, Juara 2 diraih film dengan judul ‘Kata Tanpa Nada’ yang diperankan seorang bisu dan tuli. Sedangkan untuk Juara 3, gambarnya sebetulnya bagus, tetapi rangkaian ceritanya masih kurang, dengan judul ‘Sejengkal Dari Langit’.

Juara 4 film dengan judul ‘Macanku’ dan juara 5 judul filmnya ‘Celah’. Di film ‘Celah’ ini, Amanu lebih menyoroti tata audionya banyak yang hilang.

“Untuk dialog dan ilustrasinya campur aduk. Mahasiswa perlu belajar audio men, feed in and feed out. Audio ilustrasi harus menonjolkan dialog. Jika tidak ada dialog maka feed ini lebih dimaksimalkan. Jangan sampai atmosfer sound menutupi,” papar Amanu.

Amanu menambahkan untuk film ‘Cahaya Dalam Bentik, kru nya sudah tahu ‘angle’, tinggal menambah kemasannya lebih diperhalus. Keberhasilan sebuah film ditandai dengan penonton yang ikut hanyut dalam ceritanya. Backsound temanya harus sesuai dengan kondisi. Shot-shotnya lebih diperdetail.

Untuk film ‘Sejengkal Dari Langit’, lanjut Amanu lokasinya bagus, alamnya bagus, ada perpustakaan, dan semuanya harus dirangkai menjadi satu cerita yang runtut.

“Ini evaluasi saja dan baru pertama kali, saya yakin untuk kedua dan ketiga kali akan lebih baik lagi,” terangnya.

Amanu juga menjelaskan bahwa keberhasilan dalam membuat film diawali dengan perencanaan dan diskusi yang matang.

Ke depan pihaknya siap jika dimintai konsultasi untuk membantu mahasiswa.

“Jangan merasa film kalian jelek. Hanya saja memang nilai kebagusan ada tingkatannya. Jika ada waktu bisa membuat satu tim khusus, untuk mengikuti lomba-lomba di televisi swasta. Atau membuat web dan blog, semoga saya juga bisa ikut berpartisipasi di dalamnya,” pungkasnya.

Sementara Suhariyanto mengaku senang ide cerita yang tadinya hanya di dalam kelas bisa diaplikasikan dan diwujudkan. Film ‘Kata Tanpa Nada’ secara umum pengambilan gambarnya bagus. Untuk film ‘Sejengkal Dari Langit’ menunjukkan wisata alam yang elok. Menurutnya, perlu pengantar awal dan harus ada konflik yang dimunculkan.

Film ‘Macan Kurung’ merupakan ide yang luar biasa karena mengangkat tema melestarikan hewan yang hampir punah.

“Cerita yang menginspirasi seperti inilah, sebaiknya bisa dimunculkan lebih baik lagi,” ujar Hariyanto kepada lima pembuat film pendek tersebut.

Sedangkan untuk film ‘Cahaya Dalam Bentik’ pesannya lebih membumikan kegiatan game tradisional agar generasi muda bisa lebih bersosialisasi.

“Harapannya ini adalah awal yang bagus. Suatu hal yang luar biasa SPFI ke depan bisa menggandeng lebih banyak teman untuk bergabung baik pada tingkat lokal maupun nasional,” imbuhnya.

Disisi lain, Agus Triyono sangat mengapresiasi mahasiswa baru karena semester pertama sudah bisa membuat karya. Sesuatu yang luar biasa saat mata kuliah bisa memunculkan ide-ide segar, karena biasanya inovasi baru muncul saat mahasiswa memasuki semester tiga ke atas.

“Dalam hal ini semua menjadi juara. Hanya saja saya menilai kelima film pendek dari sisi visual kurang nakal dan kurang fenomenal. Sebaiknya ada gambar yang membuat penasaran,” tutur Agus.

Namun sejauh ini pihaknya sangat memberikan apresiasi yang luar biasa. Agus menyarankan film ‘Cahaya Dalam Bentik’ bisa digandakan dan disampaikan ke institusi.

Agus berharap ada tim khusus yang kuat sehingga bisa membuat skala yang lebih besar untuk mengundang tokoh-tokoh nasional di dalamnya.

Sofyan Yeah selaku Sutradara dalam film ‘Cahaya Dalam Bentik’ mengaku ide cerita lebih mensosialisasikan kepada generasi muda agar tidak melupakan tradisi dan tidak terfokus pada gadget.

Bagi Sofyan manfaat SPFI sangat besar karena melatih membuat karya secara independen dan mandiri. (BJT01)