Home Hukum dan Kriminal Mabes Polri ke Kudus Selidiki Kasus Penyiksaan Kuswanto

Mabes Polri ke Kudus Selidiki Kasus Penyiksaan Kuswanto

 

image

Kudus,10/12 (Beritajateng.net)-Setelah kasus penyiksaan dan salah tangkap oleh oknum reskrim Polres Kudus mencuat, kedua orang tua korban didatangi beberapa orang yang mengaku dari Mabes Polri maupun Polda Jateng. Teman-teman korban yang menjadi saksi juga didatangi untuk dimintai keterangan.

Empat teman Kuswanto korban penyiksaan yang dimintai keterangan yakni Susanto, Sholeh alias Boncel, Suprat, dan Bajil. Dua petugas yang datang ke rumah Susanto di Desa Jepang, Kecamatan Mejobo menggunakan mobil Toyota Inova warna silver bernomor H 8558 VW tersebut, keberatan ketika wartawan hendak mendengarkan pertemuan.

Menurut Suroto (53) ayah korban yang ikut dalam pertemuan itu kepada Beritajateng.net mengatakan, empat teman anaknya diduga mengetahui ihwal penyiksaan terhadap Kuswanto (29). Orang yang mengaku dari Mabes Polri itu menanyakan sampai sejauh mana keempat saksi mengetahui kejadian penyiksaan itu.

Menjawab pertanyaan tersebut, katanya, salah satu saksi bernama Sholeh mengaku sempat menengok dan melihat api menyala dari tubuh Kuswanto. Hanya saja, saat akan melihat lebih dekat dibentak oleh polisi. “Ceritanya, ketika anak saya dibakar keempat temannya disuruh menghadap kearah berlawanan. Mereka mengaku hanya mendengar teriakan kesakitan dari arah anak saya disiksa,” katanya.

Menurutnya, salah satu saksi yang bermaksud melihat apa terjadi langsung dibentak dan diancam akan dihabisi jika tetap melihat. Dalam keterangannya kepada orang Mabes itu, saksi menceritakan memang sempat melihat kobaran api di semak-semak. Namun, karena kondisi gelap gulita mereka tidak bisa melihat apa terjadi. “Mereka hanya melihat ada kobaran api,”ujarnya.

Sedangkan tiga saksi yang lain, masih Suroto, karena juga tidak diperbolehkan menengok kebelakang, mereka hanya mengatakan beberapa kali mendengar suara Kuswanto kesakitan. Keempat saksi mengatakan tidak bisa melihat apapun karena lokasi penyiksaan yakni di lapangan uji SIM sangat gelap dan jauh dari pemukiman.

Suroto dan ibu korban Kustinah (48) didampingi pamannya Hartono (42), mengatakan pengakuan Kuswanto saat masih berada di rumah sakit, dirinya disiksa beberapa petugas Reskrim Polres Kudus. Hal itu terjadi karena korban menolak mengaku terlibat perampokan gudang es krim Walls pada 12 November 2012.

Bahkan, Kustinah sempat shock saat pertama kali melihat anaknya terbaring di rumah sakit dalam kondisi luka parah dengan tangan diborgol. Sebagai seorang ibu, siapun pasti akan terguncang melihat kondisi anaknya dalam keadaan luka parah dan tangan diborgol menyatu dengan besi tempat tidur. “Padahal anak saya bukan penjahat,”tandasnya.

Sekitar pukul 18.00 WIB, Kustinah sempat menghubungi Beritajateng.net menyampaikan bahwa saat itu di rumahnya didatangi enam orang yang mengaku petugas dari Polda Jateng. Saat itu, Kustinah mengaku belum sempat menanyakan surat tugas dan keperluan apa mereka menemuinya. (PJH/pj)

Advertisements