Home Lintas Jateng LSM Tuntut Pemerintah Tindak Tegas PJTKI Bermasalah

LSM Tuntut Pemerintah Tindak Tegas PJTKI Bermasalah

image
Ilustrasi

Semarang, 25/5 (Beritajateng.net)-Kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) menuntut agar PJTKI yang ditengarai tidak bertanggung jawab dan menelantarkan TKI di mancanegara ditindak tegas dengan mencabut ijin operasionalnya. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Lembaga Pemerhati dan Advokasi TKI Jawa Tengah Harso Mulyono terkait temuan Kasus perdagangan manusia (human trafficking) dan pelanggaran pidana UU Penempatan dan Perlindungan TKI, yang diduga dilakukan oleh PT. Arny Family.

Berdasarkan data dari KBRI Kuala Lumpur, Malaysia, terdapat 12 orang TKI bermasalah yang diberangkatkan oleh perusahaan tersebut sejak 2012 hingga 2015.”Berdasarkan hasil pemeriksaan KBRI Kuala Lumpur, para TKI tersebut diberangkatkan tanpa KTKNL (Kartu Tenaga Kerja Luar Negeri), tidak ada job order, tidak ada kontrak yang di endorse KBRI, ditempatkan dengan journey performed visa (bukan visa kerja) dan tidak disalurkan melalui agen mitraresmi di Malaysia,” ungkapnya, Senin (25/5).

Sesuai dengan data dan hasil pemeriksaan tersebut, Harso menyimpulkan, telah nyata dan jelas bahwa PT. Arny Family telah melakukan pelanggaran pidana UU No.39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri dan pidana perdagangan manusia sesuai UU No 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang. “Kami, minta kepada pemerintah dan penegak hukum untuk melakukan proses hukum dan memberikan sanksi yang tegas baik sanksi administrasi berupa pencabutan ijin maupun sanksi pidana,” tegasnya.

Harso menambahkan, kasus kasus yang menimpa TKI di luar negeri sebenarnya tidak hanya di Malaysia, di Saudi Arabia juga terdapat kasus yang menimpa Suniyati Binti Jayadi, warga Demak yang berangkat melalui PT. Mutiara Bahari Alamria sejak tahun 2001 hingga sekarang belum pernah pulang dan putus kontak dengan keluarga. 

Masih di Saudi,  ada TKI atas nama Sumiyati Binti Maryono Wirodirjo (Almarhumah) yang meninggal dunia pada tanggal 11 Februari 2010, korban pembunuhan yang dilakukan oleh istri majikan yang bernama Sofiah Binti Ahmad Ibrahim Assiri, yang sudah ditangkap dan diadili di Mahkamah Umum Abha, Saudi Arabia.”TKI yang bekerja di Saudi Arabia sejak tahun 2004 ini, diberangkatkan melalui PT. Amri Margatama, yang hingga sekarang pihak keluarga/ahli waris belum menerima uang diyat dan sisa gaji yang seharusnya diterima,” jelasnya.

Sehubungan dengan banyaknya kasus TKI yang ditemukan, dia minta kepada pemerintah khususnya Departemen Tenaga Kerja, BNP2TKI dan Kepolisian untuk mengusut tuntas dan menindak pihak pihak yang bertanggungjawab.(BJ013)