Home Ekbis Longsor Banjarnegara Tak Pengaruhi Perubahan NTP

Longsor Banjarnegara Tak Pengaruhi Perubahan NTP

Semarang, 24/12 (Beritajateng.net) – Bencana longsor yang terjadi di Banjarnegara beberapa waktu lalu tidak memengaruhi perubahan Nilai Tukar Petani (NTP) secara keseluruhan di Jawa Tengah, kata Kepala Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng Totok Tavirijanto.

“Memang kalau sifatnya lokal tidak begitu berpengaruh karena tanaman pangan kita kan tidak hanya berasal dari satu wilayah tetapi dari banyak daerah,” katanya di Semarang, Rabu.

Apalagi, untuk luas lahan pertanian yang terkena dampak longsor tersebut antara 5-10 hektare sehingga pengaruhnya tidak terlalu besar terhadap fluktuasi NTP.

Sementara itu, kondisi saat ini yang sudah memasuki musim penghujan justru ditunggu oleh para petani. Potensi peningkatan produksi pada musim ini akan berdampak pada peningkatan indeks harga yang diterima petani.

Menurutnya, jika indeks harga yang diterima petani tersebut lebih besar dibandingkan indeks harga yang dibayar petani maka NTP akan meningkat.

Mengenai kondisi saat ini, hampir semua lahan digunakan untuk menanam padi. Dampaknya tentu produksi padi akan meningkat tetapi di sisi lain produksi palawija akan mengalami penurunan.

“Salah satu contohnya adalah di Demak, dari survei kami lahan yang sebelumnya digunakan untuk menanam palawija di antaranya kedelai dan jagung saat ini hampir semuanya diganti oleh tanaman padi,” katanya.

Menurutnya, dengan kebutuhan air yang tercukupi selama musim hujan, diprediksi hasil indeks pertanaman akan mengalami peningkatan. Selanjutnya, keuntungan para petani juga akan meningkat.

“Jika musim hujan ini berlangsung dengan normal idealnya dalam waktu satu tahun petani bisa melakukan tiga kali panen karena ada tiga kali musim tanam,” katanya.

Sementara itu, jika musim penghujan terjadi secara berlebihan seperti halnya tahun lalu dan berakibat pada banjir yang turut menyerang area persawahan maka yang terjadi adalah puso.

Menurutnya, puso bisa berdampak terhadap terjadinya inflasi mengingat beras memberikan kontribusi tinggi terhadap penghitungan inflasi di suatu daerah.

“Harga beras memiliki pengaruh tinggi terhadap fluktuasi inflasi karena dikonsumsi oleh semua orang, berbeda dengan mobil yang meskipun harganya mahal tetapi tidak terlalu berpengaruh karena jumlah pembelinya tidak banyak,” katanya. (ant/BJ)

Advertisements