Home DPRD Kota Semarang Lilik Jalan Kaki Blora – Semarang Protes Stadion Kridosono yang Tak Pernah...

Lilik Jalan Kaki Blora – Semarang Protes Stadion Kridosono yang Tak Pernah Dibenahi 

391
0
Lilik, nekat berjalan kaki dari Blora hingga Semarang untuk menyampaikan aspirasi terkait Stadion Kridasana yang terbengkalai dan tak pernah dibenahi. Ia sempat singgah di Balaikota Semarang dan bertemu Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi.
         SEMARANG, 14/3 (BeritaJateng.net) – Berbekal uang saku Rp 7 ribu, seorang pemuda bernama Lilik Yuliantoro, 28, warga Desa Ketangar, RT 5 RW 1 Kelurahan Karangjati, Kecamatan Blora Kota, Kabupaten Blora, Jawa Tengah, nekat melakukan aksi protes kepada pemerintah dengan cara melakukan aksi jalan kaki Blora-Semarang.
          Protes tersebut menjadi aksi keprihatinan atas kondisi Stadion Kridosono di jalan Jalan Rajawali Barat Blora yang memprihatinkan. Kurang lebih 51 tahun, stadion utama dan satu-satunya di Blora itu tidak pernah tersentuh pembangunan.
          Hampir semua infrastruktur stadion tersebut tidak layak. Mulai dari kondisi rumput  yang buruk, terkadang becek mirip sawah, kursi stadion maupun infrastruktur lain rusak. Bahkan tidak jarang, stadion tersebut kerap digunakan untuk menjemur gabah.
          Lilik mengaku prihatin dan sedih. Ketua Devisi Tour Saminista, organisasi suporter pendukung Persikaba Blora ini kemudian nekat berjalan kaki dari Blora menuju Semarang tanpa tujuan jelas. “Saya berkali ulang sampaikan ke Bupati Blora tidak ada respon,” kata Lilik saat singgah di Balai Kota Semarang, Rabu (14/3).
         Lilik berangkat dari kampung halamannya di Blora pada Jumat (9/3) pukul 09.00, tiba di Kota Semarang Selasa (13/3) pukul 19.00. Jarak dari Blora ke Semarang sekitar 148 km. Ia mengaku cukup membutuhkan waktu lama karena kakinya bengkak. “Per-20 Km, saya berhenti istirahat karena kaki saya bengkak,” katanya.
Lilik, nekat berjalan kaki dari Blora hingga Semarang untuk menyampaikan aspirasi terkait Stadion Kridasana yang terbengkalai dan tak pernah dibenahi.

Di perjalanan, ia hanya menunggu ada dermawan yang menawari makan dan minum. “Saya hanya bawa uang Rp 7 ribu. Setiap singgah, dikasih makan sama minum sama warga,” katanya.

         Ini menjadi aksi protes untuk memerjuangkan stadion Kridosono agar ada perubahan. Telah 51 tahun tidak ada perubahan sama sekali, kondisinya seperti sawah, rumput memprihatinkan, tribun kurang komplit, dan lain-lain.
           “Kami sudah berusaha sampaikan ke Bupati Blora Joko Nugroho, tapi tidak ada respon.  Stadion ini kian tidak terurus, malah dipakai menjemur gabah,” keluhnya.
           Di Semarang, ia bermaksud menemui gubernur. Tetapi ia kebingungan bagaimana caranya. Pasalnya, Ganjar Pranowo saat ini sedang cuti. Akhirnya ia bertemu dengan komunitas Blora yang ada di Semarang, seperti Kopra dan Komara. Lilik juga dibantu oleh sejumlah anggota komunitas media sosial seperti MIK Semar dan Cah Semarang Hebat. “Sore tadi (14/3), saya ditemui Ganjar Pranowo di pinggir jalan, Jalan Telaga Bodas, Karang Rejo, Gajahmungkur, Kota Semarang. Pak Ganjar menyambut dengan baik,” kata pria yang kesehariannya menjadi seorang perajin patung akar jati itu.
         Dikatakannya, ini menjadi aksi jalan kaki yang kedua. Sebelumnya, ia pernah aksi jalan kaki Blora Semarang karena protes pertandingan Persikaba vs Persab Brebes berlangsung tidak suportif. “Saat itu, saya menuntut keadilan. Pemain kami sempat dihajar. Aksi saya mendapat respon. Persab mendapat sanksi dan dilakukan pertandingan ulang,” katanya.
          Saat singgah di Balai Kota Semarang, Lilik ditemui oleh Ketua DPRD Kota Semarang, Supriyadi. “Kami apresiasi perjuangan warga yang mencintai sepakbola di daerahnya. Ini menjadi upaya terakhir dari Mas Lilik supaya ada perhatian dari pemerintah untuk segera merenovasi atau membangun stadion di Blora. Tadi sudah bertemu dengan mantan Gubernur, Pak Ganjar dan sudah disampaikan aspirasinya,” katanya.
          Harapannya, aspirasi tersebut segera mendapat respos dari Pemerintah Provinsi Jateng maupun Pemkab Blora. Supriyadi menilai, Kota Semarang sendiri perlu belajar dari kejadian ini. Sebab, sejauh ini Kota Semarang belum memiliki stadion yang representatif. Bahkan pemain PSIS menyewa markas sementara di Stadion Moch Soebroto di Kota Magelang.
          “Ini juga harus dipikirkan betul, Kota Semarang juga semestinya memiliki stadion yang standar internasional. Maka Pemkot Semarang perlu merencanakan pembangunan stadion yang representatif,” katanya. (El)