Home Headline Liem Chie An Senang Gaung Borobudur Mendunia

Liem Chie An Senang Gaung Borobudur Mendunia

437
0

SEMARANG, 13/11 (beritajateng.net) – Lomba lari bergengsi di Tanah Air, Borobudur Marathon 2018, akan dihelat pada 18 November mendatang di kawasan Candi Borobudur. Sebanyak 10.000 pelari, di antaranya 300-an pelari luar negeri dari lima benua, akan menyemarakkan even yang mengambil rute di seputar warisan budaya dunia tersebut.

Dalam tiga tahun terakhir, Borobudur Marathon bagai magnet baik untuk pelari-pelari nasional maupun internasional. Bukan hanya hadiahnya, konsep sport tourism dianggap menjadi daya tarik, sehingga pelari dari berbagai belahan dunia memburu prestasi dan menikmati destinasi wisata di Kawasan Lembah Tidar.

”Saya kan orang Magelang, cari nafkah di sini. Seperti ada tanggung jawab moral untuk mengangkat Magelang, berikut Candi Borubudur yang saya anggap masih menjadi keajaiban dunia. Dan saya senang Magelang makin dikenal, dan gaung lomba lari ini mendunia,” kata Liem Chie An, Ketua Yayasan Borobudur Marathon.

Lim Chie An, layak disebut penggagas dibangkitkannya kembali even lari di kawasan heritage dunia itu. Pada dekade 90-an, Ketua Umum PB PASI Bob Hasan memang pernah menggulirkan Borobudur 10-K. Namun beberapa tahun berikutnya lomba tersebut vakum. Berkat dorongan dari rekan-rekan terdekatnya, dan gayung bersambut dari Pemprov Jateng, lomba lari di Borobudur mencuat lagi.

Setelah sukses menggelar Borobudur Interhash 2012, Liem Chie An menggandeng Pemprov Jateng melahirkan kembali lari Borubudur 10-K tahun 2013. Dimulai dari Borobudur 10-K, Borobudur Internasional 10-K, Borobudur Half Marathon hingga Borobudur Marathon yang dimulai 2016.

Gi’an-demikian Chie An biasa dipanggil- mempercayakan Kompas sebagai manajemen pengelolaan evennya. Gi’an mengaku apa yang dilakukan untuk Borobudur Marathon, murni kerja sosial dan kecintaannya pada Kabupaten Magelang. Meskipun harus mengeluarkan kocek pribadi yang tidak sedikit, dia tak pernah berhitung untung rugi. Dia ingin, melalui even tersebut, Borobudur tetap dirindukan sebagai mahakarya agung, sekaligus destinasi wisata budaya, religi, yang menyihir bagi pelancong seantero jagat.

‘’Saya selalu ditanya apa golek bathi? Saya jawab yoh. Kalau saya jawab nggak, mesti orang nggak ada yang percaya,’’ kata Gi’an sambil terkekeh.

Dia bersyukur, Borobudur Marathon sudah mendapatkan dukungan dari pemangku kepentingan di Jateng dan nasional termasuk sponsor yang ikut andil dalam pendanaan seperti Bank Jateng. Dia menyatakan, penyelenggaraan tahun ini dijanjikan lebih meriah dan lebih berkualitas.

Bukan hanya Gubernur Ganjar Pranowo, namun Menpora Imam Nahrawi dan Menteri Pariwisata Arief Yahya sangat mendukung Borobudur Marathon sebagai ajang kolosal olahraga dan pariwisata. Gi’an mengaku saat beraudiensi di Jakarta, menteri Arief sangat mengapresiasi Borobudur Marathon yang dinilai selaras seta menguatkan program pariwisata secara nasional.

Gi’an memang terus berjuang agar even ini terus menarik orang untuk datang ke Borobudur. Ketika melepas peserta Borobudur Interhash Reunion 2018, Oktober lalu, Kepala Disporapar Jateng Urip Sihabudin mengapresiasi upaya-upaya yang dilakukan Liem Chie An dalam mengangkat citra Magelang.

”Beliau adalah pengusaha yang patut dicontoh karena dengan kreasinya Magelang jadi luar biasa. Beliau tak pernah ngomong apa-apa ketika berbuat sesuatu. Tiba-tiba kegiatan ada, dan tak pernah menyinggung soal pembiayaan. Wah, ada di Jateng banyak pengusaha seperti beliau, dunia sport dan pariwisata makin marak,” kata Urip.

Mantan Kepala Dinpora Jateng Budi Santoso juga menyatakan apresiasinya terhadap kiprah Liem Chie An dalam mengangkat Borobudur. Langkah tersebut, kata dia, sudah dilakukan pengusaha ayam tersebut saat berjuang seorang diri untuk memenangi bidding (lelang) penyelenggaraan Interhash 2012 lalu.

(NK)