Home Alkisah LGBT Penyakit Yang Perlu Ditolong dan Disembuhkan

LGBT Penyakit Yang Perlu Ditolong dan Disembuhkan

291
0

Semarang, 29/2 (BeritaJateng.net) – Manusia mempunyai otoritas untuk mengatur perilakunya sendiri. Kecenderungan lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) semakin menanjak popularitasnya di dunia hingga Indonesia, maka perlu upaya untuk mengantisipasi agar tidak terjerumus ke dalamnya. LGBT merupakan penyakit menyimpang yang perlu dibantu. Bagaimana cara mengasuh dan merawat pelaku LGBT dari pendekatan keperawatan serta kesehatan  perlu adanya kajian khusus.

Perlu dibangun pola asuh keluarga, pemaparan ini disampaikan oleh Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S. Kp, M. AppSc (Guru Besar FIK UI, Pakar Keperawatan Jiwa) dalam ‘Kajian LGBT dalam Perspektif Keperawatan dan Sosial Budaya Indonesia’ yang dislenggarakan oleh Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) di Aula Gedung Nursing Research Centre (NRC) lantai 4, Senin (29/2) siang.

LGBT dapat dicegah melalui kesadaran diri, bisa juga melalui pengetahuan dari orang tua dan lingkungan. LGBT bisa juga terjadi karena perilaku difusi identitas, ketidakjelasan identitas atau kebingungan akan jenis kelamin.

“Menurut pandangan saya, mereka (pelaku LGBT) perlu ditolong, tidak boleh distigma dan diperlakukan secara diskriminatif. Kita harus menyediakan wadah untuk membangun konseling LGBT agar tercapai tujuan Indonesia sehat jiwa,” terang Prof. Budi.

Dijelaskannya, untuk mencegah terjadinya LGBT salah satunya dengan tidak menonton tayangan LGBT dan tidak melakukan kekerasan secara seksual.

Sementara menurut Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah sekaligus Pakar Sosial Budaya, Drs. Tafsir, M.Ag, dakwah yang sering ia lakukan ialah dengan menyapa semua orang, entah orang baik maupun buruk dan termasuk para waria.

Pada prinsipnya, Drs. Tafsir mengibaratkan orang baik seperti bunga teratai yang tetap bersih mekar walau di comberan.

“Orang baik di tengah orang baik merupakan suatu hal yang lumrah dan biasa. Namun, apabila ada orang baik berada di tengah orang tidak baik, itu baru luar biasa,” tuturnya.

Sebagai ustadz, Drs. Tafsir harus menyapa semua orang. Ia bahkan paham betul tentang dunia hitam seperti Persatuan Waria Semarang (Perwaris) serta Organisasi Pekerja Seks Indonesia (OPSI). Menurutnya, kita boleh benci kepada pelacuran dan sifatnya, namun kita tidak boleh benci pada orangnya.

“Mereka orang sakit yang harus kita sembuhkan. Saya bertindak dalam pendampingan waria di bidang keagamaan,” ungkapnya.

Dijelaskan Drs. Tafsir, bahwa di dalam Al Qur’an hanya ada dua jenis kelamin manusia, yakni laki-laki dan perempuan. Sebagai aktivis dakwah, pihaknya mengaku sering bertemu dengan orang yang berperilaku lesbi, gay dan waria. Dikatakannya, perilaku tersebut muncul seiring globalisasi karena peluang kerja mereka semakin bertambah. Menurut perkiraan Drs. Tafsir, perilaku menyimpang ini tidak akan menurun malah justru terus bertambah.

Dilihat dari perspektif budaya, khususnya budaya Jawa, banyak orang yang menolak adanya poligami, akan tetapi lebih mengenal selir. Seiring globalisasi, kultur Jawa yang kita kenal dengan selir ini malah akan terus berkembang.

“Tidak ada sesuatu yang bersifat nihil walaupun pelanggarannya bersifat abadi. Putra-putri kita bergaul dengan siapa? Bagaimana dengan pondok pesantren? banyak homo di kalangan para santrI karena aturan yang terlalu ketat tidak, yang tidak membolehkan santriwan dekat dengan santriwati, akhirnya santriwan menjadi dingin dengan santriwati. Aturan ini saking ketatnya malah jadi kebablasan,” jelasnya.

Kedewasaan manusia diukur dari usia 40 tahun. Kalau sudah 40 tahun maka manusia harus sadar. Perjuangan ini harus didukung dengan gerakan mencegah mereka (perilaku LGBT). Pelanggaran moral mereka juga bersifat abadi. Untuk itu diperlukan perjuangan yang terus menerus.

“Tidak mudah mencari aktivis muslim yang masuk ke lorong gelap. Apalagi tidak menguntungkan secara ekonomi. Ditambah lagi kekhawatiran akan terkena penyakit menular. Indonesia adalah negara Pancasila bukan negara agama. Nafsu itu diatur bukan dimatikan. Manusia harus cerdas secara spiritual, intelektual, sosial maupun seksualnya,” papar Drs. Tafsir.

LGBT Butuh Keteladanan

Mereka tidak butuh ceramah, akan tetapi mereka butuh makan karena desakan ekonomi. Yang mereka perlukan adalah keteladanan. Seorang ustadz dalam menyampakan edukasi dan keteladanan ada yang berhasil dan tidak.

“Dunia hitam waria tidak selamanya secara hormonal, perlu diwaspadai ada juga waria yang berpenampilan seperti perempuan tetapi melayani laki-laki. Dia itu homo,” tutur Drs. Tafsir.

Penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa UI, ada 10 orang yang mengidap HIV, 4 diantaranya adalah pelaku LGBT. Penelitian itu frekuensinya berkurang tetapi tidak hilang. Pada dasarnya pelaku LGBT bertambah karena kesalahan pola asuh dan pola pergaulan.

“Pola asuh orang tua yang bekerja, semua pembantu kita edukasi tentang pola asuh terhadap anak. Bagi mereka (orang tua yang pendidikannya tinggi) akan tetapi anak terlantar ini juga keliru. Yang terpenting adalah biarpun waktu sedikit untuk anak asalkan waktunya berkualitas,” imbuh Prof. Budi.

Semua orang memiliki potensi untuk berubah, tugas mahasiswa perawat bisa berupaya dan berkreasi untuk menyembuhkan perilaku LGBT, lanjutnya. LGBT menjadi tantangan bagi tim kesehatan untuk melakukan pencegahan.

Rektor Unimus, Prof. Dr. Masrukhi., M.Pd usai seminar saat diwawancai juga memberikan pendapat bahwa realitas dalam masyarakat seiring dengan modernisasi didukung dengan media informasi yang sangat pesat mengakibatkan perilaku LGBT semakin merajalela.

Dijelaskannya ada 26 negara yang melegalkan perkawinan sejenis. “Ini tantangan bagi Indonesia, khususnya Unimus agar terhindar dari perilaku menyimpang. Sepanjang kita melakukan pembinaan melalui kuliah agama Islam, maka akan meminimalisir terjadinya perilaku LGBT. Mereka yang terjerumus LGBT itu dikarenakan kurangnya pengetahuan akan agama,” pungkas Prof. Masrukhi. (BJT01)