Home Ekbis Lewat Batik, Peserta PIRN Teliti Pemberdayaan Wanita

Lewat Batik, Peserta PIRN Teliti Pemberdayaan Wanita

124
0
Peserta PIRN di Desa Limbasari Bobotsari.
       Purbalingga, 12/7 (BeritaJateng.net) – Pemberdayaan wanita menjadi isu yang penting di berbagai daerah dan isu makro di Indonesia. Itulah yang coba diteliti oleh peserta Perkemahan Ilmiah Remaja Nasional (PIRN) 17, Rabu (11/7) di Desa Limbasari Bobotsari. Obyek dari penelitian adalah para pengrajin batik Limbasari yang sudah menjadi ikon Purbalingga.
      Limbasari memang menjadi sentra pembuatan batik yang masih dilakukan secara manual. Oleh karena itulah Limbasari dipilih menjadi salah satu tempat penelitian pada ajang PIRN 17 di Purbalingga. Menurut instruktur bidang IPS dari LIPI, Kurniawati Hastuti Dewi, data awal yang menyebutkan batik Limbasari mampu menyedot banyak tenaga kerja wanita menjadi hal yang sangat menarik.
      “Data awal yang kami terima, banyak pengrajin batik wanita yang ada di Limbasari. Sehingga kami mengangkat topic bagaimana wanita diberdayakan secara ekonomi dan social serta bagaimana mereka percaya diri menyampaikan pendapat,” kata Kurniawati.
      Saat disinggung mengenai tujuan akhir dari penelitian itu, Kurniawati menuturkan hal itu menjadi ajang latihan bagi para peserta untuk menganalisa serta mengasah kepekaan akan permasalahan yang ada di lingkungan. Dia tidak menargetkan para peserta memberikan rekomendasi atas permasalahan yang ada di masyarakat.
       “Kalau peserta sudah pada tahap bisa menyimpulkan dan solusi itu sudah bagus sekali. Jadi ajang ini bukan untuk bertujuan agar mereka menjadi peneliti expert karena itu belum pada taraf mereka,” tambahnya.
       Selain dari sisi di atas penelitian tersebut bertujuan meneliti bagaimana eksistensi batik khususnya batik Limbasari. Bagaimana cara pemasaran sehingga batik limbasari lebih dikenal. Dalam pengambilan data tersebut, motif patrawisa dan denlilis menjadi primadona dan banyak diburu para penggemar batik.
Kewalahan Memenuhi Stok
       Sejak motif kelelawar menjadi batik ikon dan diwajibkan di lingkungan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga, pengrajin batik di Limbasari sempat kewalahan melayani order. Disampaikan Adi Ismanto, perangkat Desa Limbasari yang menjadi pemandu bagi peserta PIRN berujar batik motif kelelawar sempat mendapat serbuan dari Pekalongan. “Sempat terlambat melayani stok dan diserbu dari Pekalongan. Namun sekarang kami siap melayani berapa pun pesanan yang datang kepada kami,” tuturnya.
       Masih menurut Adi Ismanto, batik sudah menjadi nyawa bagi warga Limbasari. Tiap lembar batik yang dihargai RP 500 ribu mampu menjadi penopang ekonomi warga Limbasari. Dia berharap adanya ajang PIRN yang diikuti peserta dari berbagai daerah dari seluruh Indonesia mampu mengibarkan batik Limbasari hingga level nasional.
       “Kami berterima kasih Limbasari dipilih menjadi lokasi penelitian. Semoga batik Limbasari akan lebih dikenal di tingkat nasional,” pungkasnya. (yit/El)