Home Lintas Jateng Lapak Dibongkar Paksa, Puluhan PKL Imam Bonjol Gelar Unjukrasa 

Lapak Dibongkar Paksa, Puluhan PKL Imam Bonjol Gelar Unjukrasa 

374
0
             Semarang, 13/7 (BeritaJateng.net) – Puluhan Pedagang Kaki Lima (PKL) Velg dan Ban bekas Jalan Imam Bonjol Semarang melakukan unjukrasa terkait pembongkaran lapak PKL yang dinilai diskriminatif dan semena-mena.
             “Kami sudah 19 tahun berjualan disitu (Jalan Imam Bonjol,Red.), untuk menghidupi keluarga, tapi kami justru diusik dengan penertiban paksa bahkan ada dugaan pembakaran PKL oleh oknum Satpol PP karena pegadang menolak,” ujar Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Velg dan Ban Bekas Jalan Imam Bonjol, David Faisal.
              Menurutnya, tindakan Satpol PP yang semena-mena juga dirasakan ketika barang-barang dagangan yang disita justru saat diambil pedagang selalu dalam keadaan rusak bahkan hilang. “Yang dilakukan Satpol PP dalam menertibkan PKL tidak sesuai standart operasional (SOP) kerja, pengambilan barang-barang seperti gerobak dagangan dan lain-lain tidak pernah ada laporan dan surat pengambilannya. Barang-barang yang diambil Satpol PP juga banyak yang hilang dan rusak,” katanya.
             David meminta solusi kepada Wali kota Semarang agar mendapatkan lokasi pengganti untuk berjualan. “Kami ini rakyat kecil, kalau digusur, paling tidak kami disediakan relokasi tempat berjualan. Agar tetap bisa berdagang,” imbuhnya.
               Ketua Tim Advokasi PKL Kota Semarang, Zainal Petir meminta kinerja Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang dievaluasi menyeluruh. Hal ini dikarenakan banyaknya keluhan pedagang-pedagang PKL yang terkena penggusuran kerap kali menerima perlakuan kasar dan diskriminatif serta tak prosedural.
             “Selama ini banyak laporan dari PKL terkait tindakan diskriminatif yang dilakukan Satpol PP. Satpol PP dinilai lebih tajam pada kaum marginal seperti PKL, tapi tumpul keatas. Contohnya pengusaha Hotel, parkir yang digunakan di pedestrian. Itu melanggar Perda. Selanjutnya reklame yang menghalangi pedestrian di jembatan dan lain-lain. Namun yang ditindak hanya PKL saja, sedangkan para pengusaha melanggar Perda malah dibiarkan,” imbuhnya.
               Menurutnya, penindakan yustisi yang dilakukan Satpol PP juga tidak sesuai prosedural. “Banyak sekali barang-barang yang diambil Satpol dari pedagang tidak kembali, banyak barang yang hilang bahkan penyitaan barang tanpa adanya surat. Kinerja satpol saat ini membuat warga kecil marah. Untuk itu kami minta oknum Satpol PP yang melanggar agar ditindak tegas,” katanya.
               Perwakilan pedagang diterima oleh Kepala Bidang Penegakan Perda dan Perundang-undangan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang, Aniceto Magno Dasilva. Menurutnya, penertiban yang dilakukan selama ini sudah sesuai prosedur, bahkan keberadaan PKL Jalan Imam Bonjol memang secara hukum melanggar Perda karena berdiri diatas saluran air dan pedestrian.
              “Ini kan resiko dalam pembangunan kota, rencananya sepanjang jalan Imam Bonjol itu akan dilakukan pembangunan taman dan saluran untuk kepentingan masyarakat umum. Apalagi teman-teman PKL secara aturan kan melanggar. Kami sudah beri toleransi waktu pembongkaran 3 bulan. Mereka juga berjanji untuk membongkar sendiri setelah lebaran tapi ternyata tidak dibongkar, ya akhirnya kami bongkar paksa. Kami sudah beri peringatan, sosialisasi lima bulan sebelumnya malahan,” katanya pria yang akrab disapa Amoy ini.
             Amoy menyangkal jika ada pihak Satpol PP yang melakukan tindakan anarkis bahkan sampai membakar lapak milik PKL Imam Bonjol. “Bukan, anggota Satpol tidak ada yang melakukan. Lain urusannya itu,” imbuhnya.
               Dikatakan Amoy, jika pihaknya mencoba mencarikan jalan tengah dengan mencarikan tempat relokasi baru bagi PKL agar tetap bisa berdagang. “Sudah kami koordinasikan dengan Dinas Perdagangan, rencananya siang ini pedagang akan memilih lokasi jualan di Pasar Waru,” katanya.  (El)