Home News Update Kunjungi Desa Wisata Kandri, Ita Naik Wahana Wisata Perahu Waduk Jatibarang

Kunjungi Desa Wisata Kandri, Ita Naik Wahana Wisata Perahu Waduk Jatibarang

Calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menjajal wahana wisata perahu di desa wisata Kandri.
Calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menjajal wahana wisata perahu di desa wisata Kandri.
Calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu menjajal wahana wisata perahu di desa wisata Kandri.

Semarang, 14/9 (BeritaJateng.net) – Calon wakil wali kota Semarang Hevearita Gunaryanti Rahayu mencoba menaiki wahana perahu wisata desa wisata Gua Kreo di Waduk Jatibarang, Semarang, Minggu (13/9).

Ita–sapaan akrabnya, mengapresiasi upaya masyarakat yang secara swadaya mengelola dan mengembangkan potensi daerah yang ada.

“Masyarakat Suko Makmur Gua Kreo ini terbilang hebat, dapat mengembangkan potensi daerah yang ada. Bahkan untuk setiap ritual dan kegiatan acara, gotong royong dan kekompakkannya tidak diragukan lagi. Ini yang harus di contoh desa lainnya,” ujar wakil wali kota nomor urut dua ini.

Menurutnya, upaya masyarakat hanya perlu dipoles lagi oleh pemerintah kota Semarang agar lebih manis, seperti membuatkan pelang penanda tempat wisata, perbaikan infratruktur, hingga penataan PKL dan pemberian shelter bagi pedagang yang mayoritas adalah warga setempat.

“Pedagang kreatif lapangan (PKL) yang ada di wisata Gua Kreo dan Waduk Jatibarang harus ditata dengan apik, nantinya bisa dibuat kluster mana tempat khusus kuliner, untuk cinderamata atau oleh-oleh hingga tempat parkir,” kata Ita saat meninjau tempat wisata Gua Kreo, Kampung Talun Kacang, Kelurahan Kandri Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang.

Mbak Ita melihat potensi daerah dan menyerap aspirasi masyarakat Suko Makmur Gua Kreo
Mbak Ita melihat potensi daerah dan menyerap aspirasi masyarakat Suko Makmur Gua Kreo

Usai meninjau tempat wisata Gua Kreo, Ita mencoba wahana wisata perahu di Waduk Jatibarang. Ita merasakan sensasi menaiki kapal mengitari waduk sembari melihat keindahan Gua Kreo dari jauh.

“Yang kayak gini kan “eman-eman” (disayangkan,Red), masyarakat sudah bergerak, tapi tidak dibarengi dengan infrastruktur yang memadahi. Sesuai visi misi kami memberdayakan ekonomi rakyat, kami berkomitmen membantu masyarakat Suko Makmur mengembangkan potensi dan memfasilitasi kebutuhan wisata disini,” imbuhnya.

Sementara itu, Muhlisin Ketua paguyuban masyarakat Suko Makmur mengatakan, kehadiran mbak Ita kelokasi wisata, merupakan bentuk perhatian langsung kepada masyarakat. “Kami senang sekali mbak Ita bisa menyempatkan diri mengunjungi kami masyarakat pinggiran,” tuturnya.

Pihaknya hanya ingin, jika terpilih nanti, mbak Ita bisa menjembatani aspirasi masyarakat. Menurutnya, keinginan masyarakat hanya satu yakni mengharapkan penanggalan ritual Sesaji Rewandha tetap dilaksanakan sesuai aturan desa yakni tiga hari setelah Idul Futri.

“Kreo (Gua Kreo,Red.) punya tradisi Sesaji Rewandha dan kami ingin tradisi kami dikembalikan. Karena kalau ritual sesaji rewandha berdasarkan tinggalan nenek moyang itu di selenggarakan hari ketiga setelah nyadran, jadi kami tidak ingin pelaksanaannya diundur sesuai penanggalan pemerintah,” katanya.

Menanggapi hal tersebut, Ita menyatakan akan menampung aspirasi masyarakat, bahkan jika nantinya terpilih akan selalu turun ke lintas bawah mendengar suara rakyat. Menurut Ita, ritual yang diharapkan masyarakat berjalan H+3 nyadran akan tetap berjalan. Namun nantinya jika pemerintah kota ingin mengadakan kegiatan lanjutan menarik potensi wisata, maka dapat diselenggarakan atraksi atau kegiatan pasca tradisi sesaji rewandha tersebut. (Bj05)