Home News Update Kualitas Dosen Berpengaruh Pada Kualifikasi PT

Kualitas Dosen Berpengaruh Pada Kualifikasi PT

Semarang, 4/1 (BeritaJateng.net) – Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) berdiri sudah sejak tahun 1981, perpindahan dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).

Memiliki 12 program studi (prodi) S1 dan 1 program studi (prodi) S2. Ada dorongan perubahan menjadi Universitas dan telah mendapat ijin pada tahun 2014. Jumlah dosen sebanyak 373, jumlah karyawan tetap ada 120. Total jumlah karyawan dan dosen tetap ada 500.

Untuk melengkapi prodi baru S1 Hukum dan Manajemen, dan 3 prodi perbaikan S1 Psikologi, S2 IPA dan S2 Sastra Inggris. Direncanakan akan ada pengembangan kampus. Hal ini disampaikan oleh Rektor Upgris
Dr. Muhdi, SH, M.Hum di Auditorium Pusat Upgris lantai 7, Senin (4/1) siang.

Dalam acara ‘Pembinaan Pengembangan Karir Dosen Upgris Oleh Sekretaris Direktorat Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Dr. Ir. Agus Indarjo M.Ph’ yang diselenggarakan Upgris ini, Muhdi menjelaskan saat ini pihaknya sedang mengembangkan kampus 4, yakni GOR Upgris.

“Kami berharap pak Menteri berkenan meresmikan dan meletakkan batu pertama yang rencananya ada di lantai 7 depan GOR,” papar Muhdi saat memberikan sambutan, Senin (4/1) siang.

Muhdi menambahkan, pihaknya juga berharap agar ada perkembangan dalam membangun asrama mahasiswa. Rencana, tanggal 23 Januari 2016 mendatang. Upgris terpaksa membangun gedung dengan lantai tinggi karena biaya lahan yang mahal.

Perkuliahan berlangsung di kampus pusat, total ada 9 gedung. Kampus 2 ada di Sriwijaya digunakan untuk pelatihan guru. Peserta pelatihan guru dari berbagai provinsi di Jawa Tengah. Hari ini merupakan hari akhir perkuliahan, ada dosen yang masih memberikan kuliah, namun 90 persen dosen hadir dalam acara ini.

Laporan ini disampaikan oleh Rektor Upgris kepada Sekretaris Direktorat Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Dr. Ir. Agus Indarjo M.Ph, saat memberikan sambutannya.

“Kami berharap, Pak Sekdir berkenan memberikan pembinaan pada dosen, bagaimana cara berkarir dengan baik. Begitupun arahan yang baik pada dosen, universitas dan yayasan dalam rangka pengembangan universitas,” tutur Rektor Upgris menutup sambutannya.

Koordinator Kopertis Wilayah VI Jawa Tengah, Prof. Dr. DYP Sugiharto., M.Pd., Kons mengungkapkan di hari pertama kerja, jam pertama dalam forum ‘srawung akademik’ ini suatu keistimewaan Sekretaris Direktorat Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi bisa hadir di Upgris.

Sugiharto menyoroti penetapan Perguruan Tinggi yang tidak membedakan negeri maupun swasta, akan tetapi melihat komponen kualitas dosennya.

“Dosen harus mampu memberikan layanan unggul pedagogi, karena bisa menjadi iklan yang luar biasa kepada mahasiswa di luar jam formal akademik,” tuturnya.

Menurut Sugiharto, potensi keilmuan pendidikan dan potensi teknik menghasilkan inovasi yang luar biasa. Yang perlu ditingkatkan adalah rencana strategis pengembangan karir dosen.

Akreditasi program baru, visi program studi, reputasi keilmuan menjadi kunci, lanjutnya. Komunikasi antara rektorat dan jurusan harus terjalin baik.

“Untuk menciptakan suasana perguruan tinggi yang masuk kluster 1 sejajar dengan ITB, UGM dan UI. Ini merupakan peluang yang luar biasa, meninggalkan mindset perbedaan antara negeri dan swasta,” terang Sugiharto.

Dalam acara ini, Dr. Ir. Agus Indarjo M.Ph, menanyakan sampai dimana kualitas dosen di Upgris. Adanya Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia, berpengaruh juga pada Upgris.

“Orang kalau bisa mengenyam pendidikan yang tinggi, maka masyarakatnya banyak yang pintar,” ujar Agus dalam materinya, Senin (4/1) siang.

Menurutnya, dosen mengajar dalam waktu yang tidak penuh dan materi yang tidak bermutu sangat berpengaruh terhadap kualitas dan polanya.

“Oleh karena itu, sebagai dosen dalam memberikan materi kuliah harus di-update terus,” tuturnya.

Upgris berperan dalam mencetak lulusan guru yang terampil. Salah satunya, praktik yang bagus, juga didampingi sertifikat kompetensi dan sertifikat profesi.

“Maka dari itu harus didorong terus, PT selain sebagai pendidikan, juga sebagi aspek riset. Agar hasil risetnya bisa diaplikasikan dan dimanfaatkan di masyarakat,” imbuh Agus.

Apa yang diberikan dosen di kelas dan di lapangan kepada mahasiswa akan diingat terus sampai akhir hayatnya, karena PT merupakan pendidikan terakhir. Jiwa entrepreneur juga harus disisipkan kepada mahasiswa.

“Jika mahasiswa muda masuk S2, maka harus didorong lanjut ke S3. Dosen muda disiapkan ke luar negeri. Dalam satu mata kuliah, dosen yang multi akan bermutu mata kuliahnya. Dan membuat perubahan dalam universitas nantinya,” jelasnya.

Agus menghimbau kepada seluruh peserta yang hadir, khususnya dosen agar betinovasi pada aspek riset dan internal universitas supaya lebih ditingkatkan.

“Masih banyak inovasi di sekitar kita. Laksanakan dengan sempurna. Ke depan, kuliah tidak sekedar kuliah, dimana nanti PT yang memiliki kualifikasi tinggi itu yang dicari mahasiswa,” terang Agus.

Semua aktivitas dosen harus terdokumentasi. Melakukan Tri Dharma PT sebagai dosen, maka wajib untuk mendokumentasikannya. Dosen harus rajin secara akademik, untuk kebutuhan sendiri maupun kantor, khususnya untuk pengembangan karir.

“Dosen tugas utamanya mengajar. Pendidik yang profesional dan Ilmuwan, kalau di tengah masyarakat tidak jadi tokoh, kebangetan,” tuturnya.

Agus menambahkan konsekuensi dari semua itu, caranya dengan terus mengupdate materi kuliah, selalu mencari info baru dan menulis jurnal bagi para dosen. Serta bisa menstransformasikan dan menyebarluaskannya.

“Orang paling kaya adalah dosen, kaya ilmu,” katanya.

Untuk bisa menjadi guru besar harus jadi doktor oleh karena itu harus didorong dan disupport.

“Jumlah dosen berpendidikan S3 penting menjadi kriteria. Begitupun mutu pengelolaan dosen menjadi guru besar, akreditasi institusi, kualitas kegiatan mahasiswa, salah satunya Pimnas menjadi indikator, serta kualitas penelitian dalam menulis jurnal internasional,” pungkas Sekretaris Direktorat Jenderal Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi ini, menutup materinya. (BJT01)