Kredit Fiktif di BKK Belik Pemalang Mencapai 11 Miliar, Dewan Minta Seluruh BKK Dievaluasi

SEMARANG, 12/9 (Beritajateng.net) – Komisi C DPRD Jateng minta agar seluruh BKK di Jawa Tengah dievaluasi secara menyeluruh. Permintaan ini disampaikan menyusul kondisi Cabang BKK Belik Kabupaten Pemalang morat marit setelah diketahui ada kredit macet mencapai 22 miliar rupiah lebih.

Dari 22 miliar kredit macet tersebut, 11 miliar diantaranya adalah kredit fiktif yang diduga dilakukan oleh 11 orang karyawan BKK belik dan kasusnya saat ini ditangani oleh Kejaksaan Negeri Pemalang.

Ketua Komisi C DPRD Provinsi Jawa Tengah Asfirla Harisanto mengemukakan, kondisi yang terjadi di BKK Pemalang khususnya cabang Belik menandakan lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh Dewan Pengawas. Dari data yang diperoleh penyelewengan terjadi sejak tahun 2013 namun baru diketahui pada akhir 2016.

“Kondisi ini sangat mengherankan, koq bisa baru ketahuan setelah 3 tahun. Kemana Dewan Pengawasnya,” ungkapnya disela sela melakukan kunjungan kerja ke BKK Pemalang, Senin-Selasa (11-12/9).

Menanggapi laporan Dirut BKK pemalang Muriah SE yang mengatakan bahwa pihaknya terlena karena selama ini laporan yang disampaikan oleh Cabang Belik kondisinya baik bahkan nilai NPLnya hanya 4, politisi yang akrab disapa Bogi ini mengatakan bahwa hal tersebut tidak bisa dijadikan alasan.

“Alasan itu justru jadi pembenar bahwa pengawasan yang dilakukan dewan pengawas dan direksi lemah,” katanya.

Senada dengan Bogi, Sekretaris Komisi C DPRD Jateng Tetty Indarti mengatakan, kepemimpinan direksi BKK Pemalang harus kuat dan tegas dalam menghadapi kasus yang menimpa BKK yang menjadi tanggungjawabnya.

“Saya minta ibu tegas tidak bisa lemah lembut seperti ini, ibu bisa menyelesaikan berapa lama. Sanggup nggak menyelesaikan, kalau tidak sanggup biar kami carikan gantinya,” tegas Tetty.

Anggota Komiai C dari Fraksi Gerindra Sugiyarto bahkan lebih keras lagi, dia tidak setuju dengan kelembutan yang ditunjukkan dalam memimpin BKK Pemalang. Karena dengan sikap seperti ini akan diremehkan karyawan.

“Saya heran, ini karakter ibu seperti ini atau karena tertekan jadi seperti ini. Bagaimana tidak, saya merekam selama njenengan berbicara stafnya malah mainan HP, ini njenengan diremehkan,” bebernya.

Perhatian terhadap kondisi BKK yang ditengarai banyak yang tidak sehat ini sangat intens dilakukan oleh Komisi C mengingat dalam waktu dekat akan dilakukan merger BKK di Jawa Tengah. Kondisi BKK yang sehat saat ini jumlahnya hanya separo dari keseluruhan BKK yang berjumlah 29.

“Kalau dilakukan merger dalam kondisi seperti ini kasihan yang sehat. BKK yang tidak sehat hanya menjadi beban yang sehat,” pungkas Bogi.

(NK)

SHARE

Tulis Komentar Pertama

TINGGALKAN TANGGAPAN