Home Headline Kreatif, Seorang Polisi di Blora Latih Membatik untuk Anak Difabel

Kreatif, Seorang Polisi di Blora Latih Membatik untuk Anak Difabel

159

BLORA, 18/2 (BeritaJateng.net) – Ditengah kesibukanya mengatur lalu lintas, seorang polisi di Blora, Jawa Tengah ini memiliki keahlian yang unik kreatif. Yakni membatik ecoprint.

Ia menyisihkan waktunya ketika pulang berdinas, mengajar membatik dengan sitem ecoprint, disebuah Yayasan Disabilitas Insan Mandiri di Kecamatan Randublatung.

Meski jauh dari tempat tinggalnya di Kecamatan Jepon yang berjarak 36 KM, ia rela menempuhnya setiap Sabtu dan Minggu selesai berdinas.

Luar biasa. Dia adalah Brigadir Kepala (Bripka) Puguh Agung Dwi Pambuditomo, S.H, M.H anggota Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Blora, Polda Jawa Tengah, yang berdinas di bagian SIM.

Sejak 2017 hingga saat ini, setiap Sabtu dan Minggu selesai bertugas dirinya langsung ke Yayasan Insan Mandiri Randublatung untuk mengajar anak-anak difable.

Awalnya anak -anak takut dengan Polisi, namun dengan kesabarannya, mereka bisa menerima kehadiran Bripka Puguh.

Akhirnya ia menjadi sosok Polisi sahabat bagi anak difable untuk belajar bersama. Meski dengan fasilitas dan dana yang minim, Bripka puguh rela mengeluarkan uang milik pribadinya untuk keberlangsungan pendidikan anak difable tersebut.

“Pertama kali mereka takut dengan saya, namun akhirnya anak -anak terbiasa,” ungkapnya (Rabu, 17/2).

Kini ia, mempunyai inovasi baru untuk diajarkan kepada anak asuhnya di Yayasan Difabel tersebut, yaitu membatik Ecoprint.

Ecoprint adalah salah satu tehnik membuat pola membatik di atas kain dengan bahan bahan alami termasuk proses pewarnaannya.

Bahannya mudah didapat, seperti daun Jati, daun kersen, daun jarak merah, daun singkong, daun ketela, daun kamboja, serta dedaunan lainnya yang dipandang mempunyai motif yang indah.

Sedangkan untuk pewarnanya adalah dari pewarna alami dengan bahan baku kayu secang atau akar mengkudu ataupun kulit mahoni.

Bripka Puguh menjelaskan yang paling sulit adalah saat mengajarkan tehnik tersebut kepada anak anak tuna netra, karena dengan kebutuhan khusus tersebut untuk tehnik ecoprint butuh bimbingan ekstra.

“Intinya harus sabar, sejak awal sudah saya niatkan untuk mengabdi kepada mereka. Sengaja saya pilih tehnik ecoprint ini, harapannya kelak saat mereka dewasa bisa menjadi bekal mereka, siapa tahu bisa dikembangkan hingga menjadi batik ecoprinting,” jelasnya.

Selain mengajarkan tehnik Ecoprint kepada anak anak disabilitas, ia juga mengajari para orang tua mereka namun dengan tehnik yang berbeda.

Jika anak anak diajari ecoprint dengan tehnik Founding, maka ibu ibu diajari dengan metode kukus.

“Jadi saat para orang tua menunggu anaknya sekolah, mereka juga mendapatkan pelatihan harapannya semoga bermanfaat, paling tidak bisa menambah pengalaman mereka,” beber Bripka Puguh.

Kalau Kapolri punya Program PRESISI, lanjut Bripka Puguh, disini bersama anak anak disabilitas Yayasan Insan Mandiri Blora Selatan, punya Ecoprint PRESISI, yaitu di pres dari segala sisi, karena proses pembuatannya dengan menekan dari semua sisi.

Yayasan Disabilitas Insan Mandiri Blora Selatan yang diketuai oleh Intan Sari, S.Pd hingga saat ini telah mempunyai anak asuh disabilitas sebanyak 80 anak berkebutuhan khusus.

Meski dengan fasilitas dan dana yang minim, Bripka puguh rela mengeluarkan uang milik pribadinya untuk keberlangsungan pendidikan anak difable tersebut. (El)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

one × 2 =