Home Kesehatan Korem 071 Wijaya Kusuma Bantu Anak Pemulung Penderita Polio 

Korem 071 Wijaya Kusuma Bantu Anak Pemulung Penderita Polio 

261
0
Danrem 071/Wijaya Kusuma Kolonel Inf Suhardi melihat kondisi Pria Muhammad Dian  yang sedang ditangani oleh tim medis RS Wijaya Kusuma Purwokerto.
         Purwokerto, 9/1 (BeritaJateng.net) – “Terima kasih Pak Danrem….terimakasihhhh sekaliii atas bantuannya ini. Semoga kebaikan bapak mendapat balasan dari Yang Kuasa,dan anak saya bisa segera sembuh.”
        Ucapan itu meluncur dari mulut Narto alias Narko (55), warga RT 1/RW.5 Kelurahan Mersi Kecamatan Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas.
        Narto menyalami erat kedua tangan Danrem 071/Wijaya Kusuma Kolonel Inf Suhardi,di pangkalan becak depan Gedung Bioskop Rajawali Purwokerto, Senin (8/1/2017).
        Laki-laki yang berprofesi sebagai pemulung dan tukang becak ini, terharu,dan ikut menitikkan air mata, ketika Danrem Kol Inf Suhardi beserta anak buahnya. membawa bocah bernama Pria Muhammad Dian (10) ke Rumkit TK-III 04.06.01 Purwokerto atau RS Wijaya Kusuma Purwokerto, milik TNI AD.
         Ya, Pria–demikian nama panggilan Pria Muhammad Dian–selama ini mengidap penyakit polio.Tubuhnya kurus,tidak bisa berjalan.Kesehariannya hanya tergolek lemah.
        Seharusnya, diusianya 10 tahun,ia tumbuh sebagai anak yang ceria,sekolah di SD. Namun karena menderita penyakit polio itu, Pria tidak bisa-apa-apa.Ia mengalami lumpuh sejak umur empat bulan,hingga kini berusia 10 tahun. Dan karena keterbatasan keuangan, Pria tidak mendapat layanan pengobatan maksimal.
        Untuk menyambung hidup, Narto yang menikahi Mahyuni, menjadi pemulung yakni  mengumpulkan barang bekas di pelataran Gedung Bioskop Rajawali Purwokerto, dan nyambi sebagai tukang becak.
         Pekerjaan itu dilakukannya baik siang maupun tengah malam,hingga Gedung Bioskop Rajawali berhenti memutar film. Yang menyedihkan, saat Narto bersama Mahyuni mencari barang-barang bekas, Pria yang dalam kondisi lumpuh ditinggal di dalam becak.
        “Ya,dari mengumpulkan barang bekas itu,kami hidup seadanya,” ujar Narto, bapak sambung dari Pria.
        Narto menceritakan, dirinya menikahi Mahyuni empat tahun lalu. Saat itu, Mahyuni yang seorang janda membawa Pria yang kondisinya sudah lumpuh,terkena polio merantau ke Purwokerto. Sebelumnya, Mahyuni menikah dengan seorang pria di Purbalingga,hingga dikaruniai anak, yang lahir pada 1 September 2007, diberi nama Pria Muhammad Dian. Ketika lahir, Pria layaknya bayi normal. Tubuhnya montok.
        Namun, pada usia 4 bulan setelah Pria  diberi imunisasi oleh salah satu RS yang menangani kelahirannya, Pria  mengalami panas demam dan kejang.
         Atas kondisi itu, Mahyuni membawa Pria Muhammad Dian ke salah satu RS di Purbalingga. Namun karena kondisi salah satu RS itu kelengkapannya belum memadai, dirujuk ke RS lain yang lebih memadai.
        Sama halnya dengan RS yang kedua sebagai RS rujukan di wilayah Purbalingga, anaknya kemudian dirujuk ke RS Margono Soekarjo (RSMS) Purwokerto.
        Dari diagnosa dokter di RSMS, diketahui bahwa Pria harus dioperasi.Pasalnya, dari hasil CT Scan ada gangguan di fungsi motorik otak. Mengingat Mahyuni tidak mempunyai biaya, sementara ia dan anaknya belum memiliki kartu jaminan kesehatan maupun yang lainnya, ia urungkan niatnya untuk anaknya dioperasi.
         Mahyuni hanya mampu mengobati anaknya rawat jalan walaupun harus mencari biaya kesana kemari untuk berobat.
          Bertahun-tahun sudah penderitaan Pria Muhammad Dian.Ia hanya terbaring lemah tak berdaya di pangkuan ibunya yang selalu setia menemani dan menghiburnya setiap hari. Sementara suami Mahyuni yang kini tinggal di Purbalingga, sudah menikah lagi.
        Mahyuni yang selalu menggendong Pria ke manan pun, bertemu dengan Narto dalam kondisi serba kekurangan di Purwokerto.
        “Meskipun saya sebagai bapak sambungnya,namun saya sudah menganggap Pria sebagai anak sendiri,”  ujar Narto.
          Mahyuni menimpali, pihaknya  sudah berusaha  maksimal untuk mengobati dan menyembuhkan anaknya, baik di medis maupun alternatif. Namun karena kondisinya dan keluarga yang tidak mampu, akhirnya ia pun berpasrah diri terhadap perkembangan kesehatan anaknya.
          Diungkapkan, selama ini memang ada bantuan dari masyarakat lain sekadarnya. Namun itupun belum mencukupi untuk pengobatan anaknya.Sementara, ia dan anaknya belum memiliki kartu jaminan kesehatan.
          Mendapat informasi atas kondisi Narto, Mahyuni dan anaknya itu, Danrem 071/Wk Kolonel Inf Suhardi segera bergerak cepat. Ini sebagai bentuk kepedulian TNI terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan hidup.
         Hingga pada akhirnya, Senin (8/1) Pria Muhammad Dian bocah penderita polio yang didiagnosa mengalami gangguan otak tersebut dibawa ke RS Wijayakusuma Purwokerto.
        Komandan Detasemen Kesehatan Wilayah (Dandenkesyah) 04.04.01 Purwokerto Letkol Ckm dr.Rudi yang menangani Pria mengungkapkan, kondisi pasien sudah sangat memprihatinkan. Namun pihaknya akan tetap berusaha memberikan pelayanan kesehatan yang terbaik. “Selama dua atau tiga hari ini, pasien atas nama Pria Muhammad Dian akan dirawat inap secara intensif untuk menjalani perawatan dan pemeriksaan,  baik melalui fisioterapi ataupun pemeriksaan terhadap otaknya melalui CT Scan,” ujarnya.
        Melalui fisioterapi, lanjutnya, agar pasien dapat melemaskan saraf-saraf motoriknya agar tidak terlalu kaku atau lemas. Secara pelan dan pasti akan dilakukan berkesinambungan, baik dalam rawat inapnya maupun rawat jalannya nanti.
       “Setelah itu dilakukan rawat jalan dengan melakukan fisioterapi seminggu dua kali hingga dinyatakan fungsi organ dan jaringan saraf pasien dapat merespon dengan baik,”  ujarnya. (yit/El)