Home Kesehatan Komunitas Difabel Senang, Pembuatan SIM D Khusus Difabel Dipermudah

Komunitas Difabel Senang, Pembuatan SIM D Khusus Difabel Dipermudah

882
Ketua DPRD Provinsi Jateng Rukma Setyabudi dan Walikota Semarang Hendrar Prihadi berfoto bersama dengan komunitas pengendara

Semarang,12/3 (BeritaJateng.net) РPara penyandang difabel tuna daksa saat ini sudah  mendapatkan kemudahan dalam pembuatan Surat Ijin Mengemudi (SIM) D, dan Ijin lisensi mengendari ini diutamakan bagi kendaraan bermotor roda tiga khusus yang sudah berjalan setahun yang lalu.

Menurut Ketua Komunitas Sahabat Difabel Semarang Noviana Dibyasari sudah ada sekitar 50 difabel tuna daksa mendapatkan lisensi SIM D. Kini mereka sudah merasa tenang di jalan raya saat menggunakan sepeda motor.

“Sosialisasi sudah dari satu tahun yang lalu, dan sudah diakomodir oleh Samsat untuk kemudahan dalam membuat SIM D bagi difabel tuna daksa,” tuturnya.

Noviana juga menerangkan, bahwa keberadaan tuna daksa dalam menggunakan sepeda motor roda tiga sudah tak terkendala secara persyaratan dan teknik kemahiran, meskipun setiap ada razia polisi lalu lintas tak pernah ditilang padahal belum memiliki SIM.

“Kawan-kawan tuna daksa patuh akan aturan sehingga SIM D diperlukan sebagai kesadaran, meskipun setiap operasi razia polisi lalu lintas tak pernah ditilang lantaran hanya alasan membuat macet jalan raya,” terangnya.

Secara proses persyaratan pembuatan SIM D, setiap tuna daksa cukup dengan persyaratan surat keterangan rekomendasi dari dokter saja. Berbeda dengan proses orang normal yang harus ikut tes kecakapan berlalu lintas. “Bagi tuna daksa di kota Semarang kini sudah tak ada masalah, cukup dengan surat rekomendasi dari dokter. Tentunya juga persyaratan administrasi lainnya,” ucapnya.

Setelah kemudahan bagi tuna daksa, kini pihaknya tengah memperjuangkan kemudahan SIM D bagi difabel tuna rungu. Ada sebanyak 170 anggota Gerkatin (Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu) Semarang yang terdaftar dan belum tenang saat mengendarai kendaraan sepeda motornya. Lantaran belum mendapat lisensi ijin SIM D.

Beberapa upaya sudah dilakukannya dengan bertemu wakil walikota Semarang, Dinas Sosial Pemuda dan Olahraga, serta Samsat kota Semarang terkait kemudahan akses SIM D bagi tuna rungu. Dimana dalam pertemuan tersebut disepakati bagi tuna rungu disyaratkan sama dengan tuna daksa dalam akses SIM D yakni rekomendasi dokter dengan keterangan seberapa jauh gangguan pendengaran pada si penyandang.

“Ini mendesak karena kawan-kawan tuna rungu di Gerkatin kebanyakan mereka berusia remaja dan dewasa sehingga memerlukan SIM D saat di jalan raya,” ungkapnya.

Menurutnya, Semarang harus bisa seperti kota lainya yang sudah mengijinkan SIM D bagi tuna rungu seperti di Solo, Jogja, Surabaya dan Jakarta.

“Hanya Semarang yang belum sebagai kota besar yang ramah bagi difabel dalam kemudahan akses SIM D untuk tuna rungu, mungkin kendala bagi Dinas Sosial masih perlu mempelajari terkait peraturan bagi tuna rungu,” tambahnya.(BJ06)