Home Ekbis Komisi B Inisiasi Perda Peningkatan Produksi Gula Jawa Tengah

Komisi B Inisiasi Perda Peningkatan Produksi Gula Jawa Tengah

486
Mesin penggiling tebu berusia tua. Foto: Istimewa

SEMARANG, 23/2 (Beritajateng.net) – Guna mengejar tercapainya swasembada gula, Komisi B DPRD Jawa Tengah menginisiasi terbitnya peraturan daerah tentang peningkatan produksi gula. Langkah ini dipandang penting mengingat produksi gula di Jawa Tengah saat ini cenderung mengalami penurunan dibanding provinsi lain.
Sekretaris Komisi B DPRD Jawa Tengah Dr. Messi Widyastuti mengungkapkan, hampir semua komponen produksi gula di Jawa Tengah saat ini mengalami kelesuan. Hal ini disebabkan beberapa faktor baik itu di sisi industri maupun disisi petani.

“Kondisi mesin mesin penggiling tebu di pabrik gula kebanyakan sudah berusia tua, sehingga tidak efektif dan mengakibatkan rendemen (kadar air) tebu kita menjadi rendah,” ungkapnya di Gedung Berlian, Kamis (23/2).

Rendahnya rendemen tebu yang salah satunya disebabkan mesin produksi yang sudah berusia tua mengakibatkan animo petani menanam tebu menjadi berkurang, akibatnya ketersediaan tebu juga tidak mencukupi untuk digiling di pabrik tebu.

“Benih tebu yang ditanam petani juga kwalitasnya tidak bagus. Ini menambah rendemen kita sangat rendah,” katanya.

Politisi PDI Perjuangan ini menjelaskan, rendemen tebu di Jawa Tengah kalah dibanding provinsi lain terutama di Jawa Timur. Di Jateng, rendemen berkisar antara 4,5 sampai dengan 6.5. paling tinggi di angka 7. Sedangkan di Jawa Timur bisa mencapai angka 9. Selain itu petani tebu kita juga kurang rajin dalam merawat tebu, hal ini terlihat dari tebu yang diangkut ke pabrik masih penuh dengan daun dan tidak dalam kondisi bersih.

“Berbagai persoalan itulah yang menjadi concern kami dalam membuat perda ini,” bebernya.

Senada dengan dr. Messi, Ketua Komisi B DPRD Jawa Tengah Chamim Irfani mengatakan, produksi gula nasional saat ini berkisar 2,5 juta ton sementara kebutuhan gula masyarakatnya mencapai 5 sampai 6 juta ton.

“Kondisi di Jawa Tengah juga tidak jauh berbeda dengan kondisi nasional, kebutuhan gula masyarakat mencapai sekitar 425 ton. Sementara produksi gula kita masih jauh dari jumlah tersebut,” ungkapnya.

Menurut Chamim, dari pantauan yang dilakukan Komisi B saat ini hanya tersedia lahan tebu sebanyak 17.000 hektar. Sementara untuk mencapai produksi sesuai kebutuhan masyarakat idealnya dibutuhkan lahan seluas 70.000 hektar. Jadi masih kurang banyak.

“Kebutuhan gula tersebut belum termasuk kebutuhan untuk industri makanan dan minuman yang ada di Jawa Tengah,” pungkasnya.

(NK)