Home Headline Kisah Sukses Mahmutarom, Mandiri Sejak Dini Mengantarkannya Jadi Rektor Unwahas

Kisah Sukses Mahmutarom, Mandiri Sejak Dini Mengantarkannya Jadi Rektor Unwahas

1126
0
Rektor Universitas Wahid Hasyim, Prof. Dr. Mahmutarom HR, S.H., M.H.
        Semarang, 17/10 (BeritaJateng.net) – Siapa yang sangka, dibalik suksesnya karir Rektor Universitas Wahid Hasyim, Prof. Dr. Mahmutarom HR, S.H., M.H. tersimpan kisah perjuangan yang patut diteladani. Terlahir dari keluarga kurang mampu, Muhtarom, sapaan akrabnya telah terbiasa hidup mandiri sejak usia dini.
         “Tidak ada istilah uang saku dalam keluarga saya, sedari kecil saya sudah dibiasakan hidup mandiri dengan diajari berdagang sejak usia empat tahun,” ujar pria kelahiran Mranggen, 18 Maret 1959 ini.
         Berbeda dengan anak-anak pada umumnya, Mahmutarom menjalani kegiatan rutin dengan membantu orangtua berjualan alat pertanian setiap subuh menjelang. Ia berangkat pagi-pagi buta untuk bergegas menggelar lapak dagangan di emperan pasar. “Biasanya, sehabis buka dasaran (menggelar lapak,Red) langsung ke sekolah SD, dilanjut sekolah ibtidaiyah, dan mengaji Al Quran. Jadi sudah diajari disiplin sejak kecil, bahkan aktivitasnya bisa dianggap sudah fullday School,” katanya.
         Hidup dibawah garis kemiskinan tidak membuat Muhtarom sapaannya ini bersikap minder, lain dengan anak seusianya, semasa SD, saat libur dibulan puasa, Muhtarom memanfaatkan waktunya untuk berjualan petasan untuk membantu keluarga.
Rektor Universitas Wahid Hasyim, Prof. Dr. Mahmutarom HR, S.H., M.H.

Putera kelima dari enam bersaudara ini telah dibekali dengan ilmu agama yang kuat dari orang tuanya, terbukti, usai lulus Sekolah Dasar, ia mulai mengaji kitab dan menempuh Pendidikan Guru Agama (PGA) selama 4 tahun.

         “Lulus SMP, keinginan saya melanjutkan di SMEA Negeri pupus, alasannya tidak kuat membayar karena perbulan harus membayar Rp. 15ribu, uang segitu bagi saya cukup memberatkan. Saya pilih sekolah yang tidak membayar, karena saya tidak punya biaya. Akhirnya saya masuk Sekolah Persiapan IAIN (SP-IAIN) dan bisa menyelesaikan dengan waktu dua tahun,” terangnya.
        Lagi-lagi persoalan biaya sekolah yang dirasa mahal membuat Muhtarom kewalahan melanjutkan kuliahnya di perguruan tinggi. “Lulus SP-IAIN, tahun 1976. Saya diberi hak untuk masuk IAIN tanpa tes dan masuk fakultas Hukum UNDIP, namun karena harus membayar biaya Rp. 18ribu, akhirnya saya memutuskan tidak melanjutkan kuliah”.
         Selama satu tahun, Muhtarom memilih fokus berdagang, ia berjualan alat pertanian dengan menggalar lapak di emperan pasar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan keluarga. “Saya selalu berpikir untuk kembali kuliah lagi. Namun, supaya saya tetap bisa berjualan di pasar, saya memutuskan masuk di Fakultas Hukum Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG) mengambil kelas sore. Itu saya lakukan sampai saya lulus sarjana muda. Anehnya, tetangga bahkan saudara dekat tidak ada yang tahu saya menempuh kuliah, karena aktivitas saya setiap pagi hanya di pasar berjualan. Ini saya jalankan sampai Sarjana Muda, dan respon tetangga pada kaget bahwa ternyata selama ini saya berkuliah ditengah aktivitas berdagang,” ujarnya.
Rektor Universitas Wahid Hasyim, Prof. Dr. Mahmutarom HR, S.H., M.H.

Dari bangku kuliah, ia mengenal kekasih yang kini telah menjadi pendamping setia dalam bahtera rumah tangga, sang istri Zubaidah Hanum merupakan mahasiswi sarjana Fakultas Hukum Unissula Semarang kala itu. Mereka saling mengenal dan menjalin asmara hingga 7 tahun sebelum akhirnya menikah.

          Di usianya yang menginjak 23 tahun saat itu, Muhtarom telah memiliki banyak jabatan, mulai dari Pendiri sekaligus Wakil Kepala Sekolah SMP Nurusalam Mranggen, Sekretaris dan pengajar di Fakultas Hukum Islam UNNU Surakarta Mranggen. “Basic saya memang pendiri,” terangnya.
        Ayah dari dua puteri bernama Elina Nurdina Nazla dan Yurida Zaki Umami ini memang dikenal sebagai pendiri beberapa sekolah dan universitas. Selain mendirikan SMP Nurusalam Mranggen tahun 1982, pendiri SMEA (sekarang SMK) Bhakti Nusantara Mranggen, Pendiri Fakultas Syariah Institut Islam WAlisembilan Semarang (IIWS) tahun 1986, Muhtarom juga menjadi salah satu pendiri Universitas Wahid Hasyim (UNWAHAS) Semarang tahun 1999/2000.
        “Prinsip saya satu, hidup harus dijalani, kalau kerja jangan setengah hati,” jelas Muhtarom yang meyakini pencapaiannya adalah proses panjang apa yang ia kerjakan sedari dini. (El)