Home Alkisah Kisah Mbah Waryono, Kakek 98 Tahun Tetap Semangat Bekerja Meski Hidup Sebatangkara

Kisah Mbah Waryono, Kakek 98 Tahun Tetap Semangat Bekerja Meski Hidup Sebatangkara

422
Mbah Waryono

Semarang, 22/9 (BeritaJateng.net) – Mbah Waryono, hidup sebatang kara di usia yang menginjak 98 tahun tak membuatnya menyerah dengan keadaan.

Meski hidup dengan segala keterbatasan dirumah petak berukuran 5×6 meter, Mbah Waryono tetap gigih mencari nafkah tanpa berpikir untuk meminta-minta.

Sehari-hari, ia bekerja membuat komponen knalpot dari ban-ban bekas. Semua pekerjaan ia kerjakan sendiri, mulai dari menguliti dan memotong ban, menggergaji hingga membengkokkan besi.

Setiap hari ia bisa menghasilkan 100-200 komponen knalpot. Dari setiap komponen knalpot yang dihasilkan, dihargai Rp. 2.000.

Bukan hal yang mudah untuk memproduksi komponen knalpot tersebut hingga laku terjual di bengkel-bengkel langganannya. Bahkan, kesendirian hidup sebatangkara tak dirasa karena siang dan malam ia harus bergelut dengan ban-ban dan besi bekas untuk memproduksi gantungan knalpot yang harganya tak seberapa.

Tak sampai disitu, Mbah Waryono harus mengayuh sepeda untuk menjual hasil produksinya di bengkel-bengkel yang jaraknya puluhan kilometer. Terlebih, medan jalan yang dilewati dengan mengayuh sepeda cukup ekstrim, berliku dan menanjak curam.

“Gantungan knalpot ini, bikinnya pertama ‘kulak’ (belanja,Red) ban, setelah sampai rumah di potong-potong pakai arit (sabit,Red). Besi di tekuk sampai jadi. Kalau sudah jadi di kirim ke bengkel-bengkel. Paling dekat di kirim ke Banjir Kanal, kemudian ke Srondol, Banyumanik, Ungaran, Laksana. Itu kesana naik sepeda,” cerita Mbah Waryono.

Namun kejadian nahas menimpa mbah Waryono, seminggu yang lalu ia mengalami kecelakaan akibat jatuh dari sepeda saat mengantar dagangannya. Kini ia tak bisa beraktifitas seperti biasanya lantaran cedera lengan yang dialami.

Mendengar cerita haru kehidupan Mbah Waryono, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyambangi kediaman mbah Waryono di Jalan Palir Lestar Rt 04/Rw 09, Nomor 180, Kelurahan Podorejo, Ngaliyan, Semarang.

Walikota Semarang Hendrar Prihadi dan Ketua DPRD Kota Semarang Kadarlusman menyambangi kediaman Mbah Waryono.

Wali kota yang akrab disapa Hendi ini melihat secara langsung kondisi Mbah Waryono dan proses produksi komponen knalpot buatan mbah Waryono.

“Jadi ceritanya begini, suatu ketika ada masyarakat yang datang ke Balaikota Semarang, beliau bercerita kalau ada mbah Waryono yang usianya hampir seratus tahun hidup sebatangkara dan kurang pendengaran. Mohon dibantu. Nah, makanya saya dan Ketua Dewan mencoba menyambangi mbah Waryono,” terang Hendi.

Setelah melihat kondisi Mbah Waryono, Hendi justru merasa simpati karena beliau merupakan sosok yang tidak pantang menyerah meskipun usianya telah renta. “Ini bisa jadi pelajaran buat kita agar tidak menyerah meski renta seperti mbah Waryono ini,” jelas Hendi.

Ketua DPRD Kota Semarang, Kadarlusman mengatakan, Mbah Waryono merupakan sosok panutan dan contoh yang menginspirasi anak-anak muda agar tidak pantang menyerah.

“Generasi penerus melihat kondisi mbah Waryono seperti itu, tetap semangat diusia renta tentunya memotivasi agar lebih semangat lagi. Beliau adalah panutan, contoh dan penyemangat buat kita semua,” kata pria yang akrab disapa Pilus ini. (El)